Tampilkan postingan dengan label Malioboro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malioboro. Tampilkan semua postingan

NASI KUNING MUNA CUNG PASAR PATHUK YOGYAKARTA


Nasi kuningnya sudah melegenda, entah sejak kapan dia buka jualan nasi Kuning itu.

Pelanggannya banyak dan dari berbagai lapisan, termasuk dijual juga lewat Go food dan lainnya.

Nasi kuning Muna Cung terletak di komplek Pasar Pathuk Yogyakarta. Sebuah Pasar yang terletak tepatnya di jalan Bhayangkara Yogyakarta.

Kalau Anda lewat Jalan Malioboro maka setelah Ramai Supermarket belok ke kanan terus (ke arah Barat) maka sampailah Anda di lokasi penjual nasi kuning Muna Cung.

Nasi kuning itu terdiri dari Nasi, Perkedel dari Kentang, Abon Sapi, Telur dadar yang dirajang-rajang, Empal Sapi.

Khusus nasi kuning yang memakai Empal Sapi tentu harganya lebih mahal dibanding yang standard.

Pada musim liburan Desember 2024 ini antriannya semakin panjang saja, bahkan pembeli juga bisa makan di tempat sekalipun tempat duduknya juga tidak memadai dari sisi kesehatan dan  keamanan. Sebab tentu hempasan debu jalanan dan kendaraan yang lalu-lalang bisa membahayakan orang-orang yang duduk makan.  Sebab memang bukan peruntukannya.  Saya yakin itu hanya sementara saja, sebab dari dulu penjualannya memang Take Away, bukan dimakan di lokasi.

MALIOBORO MAL DUA PINTU?

 Dalam beberapa hari sekitar tanggal tanggal awal Oktober 2022 barangkali para pengunjung dibingungkan dengan adanya penyekatan area dalam Malioboro mal Jogjakarta yang berakibat pengunjung menjadi kerepotan dalam mengakses seluruh bagian mal.  Sebab pintu masuk mal terbagi menjadi dua. Ini yang tidak diketahui oleh banyak orang. Pintu masuk utama yang dari arah masuk Jalan Malioboro (pintu barat), tetapi ada pintu lain yang bisa di akses yaitu melalui jalan Perwakilan. Kedua pintu tersebut mengakses area yang berbeda. Jika anda masuk melalui pintu utama maka daerahnya terbatas, demikian juga jika mengakses dari Jalan perwakilan akses nya juga terbatas. Artinya MAL TERSEBUT TERBAGI MENJADI DUA. Saya tidak tahu apakah kebijakan tersebut akan dilanjutkan sampai selama-lamanya, atau hanya sementara saja.  Kalau selama-lamanya tentu akan membuat tenant di Malioboro mal mengalami penurunan omset penjualan sebagai akibat keterbatasan akses pengunjungnya.  Semoga hal tersebut bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan publik.

Malioboro Mal, apa yang menarik di sana?


Malioboro Mal

 Menyebut nama Malioboro Mal ingatan seseorang langsung tertuju kepada nama Jalan yang legendaris di kota Yogyakarta, Sekalipun jalan ini pendek saja namun punya hati di masing-masing mereka yang pernah mengenal atau setidaknya akrab dengan jalan ini.

Oh ya tapi ini bukan soal jalan Malioboro itu sendiri. Ini soal mal nya. Malioboro mal adalah mal yang sudah cukup lama berada di sana. Menurut catatan, Malioboro mal berdiri sebagai mal pertama di Kota Yogyakarta pada tahun 1993.  Menyusul mal kedua adalah Galeria Mal yang berdiri pada tahun 1995.

Malioboro mal sendiri lokasinya terhubung dengan Hotel Ibis, ada satu lorong di dalam mal yang bisa terhubung kesana. Namun semenjak tahun 2019 ada hotel Novotel Suites yang juga menyatu dengan komplek malioboro mal, namun bangunan Novotel Suites ini saling membelakangi dengan Malioboro mal. Novotel suites menghadap ke timur sementara malioboro mal menghadap ke barat.

Tetapi ada dua lokasi menarik di dalam mal menurut saya. Yang pertama adalah Toko Buku Gramedia dan lokasi kedua adalah Gerai kopi Excelso.  Toko buku Gramedia terletak di Lower Ground ( di bawah Ground ). Satu satunya toko buku yang lumayan lengkap baik buku maupun aksesoris alat tulisnya. Ada Gramedia pusat di Jalan Sudirman, kemudian Gramedia di Ambarrukmo Plaza dan satulagi di Jogja City Mal. Pokoknya kalau soal buku sih saya rekomendasikan Gramedia. 

Lokasi menarik buat berikutnya adalah Excelso. Semenjak lokasinya direnovasi semakin menarik. Sebab kini Excelso punya balkon dimana kita bisa makan dan minum dengan view Jalan Malioboro. Cuma memang asiknya kalau waktu malam minumnya, soalnya balkon tidak panas oleh sinar matahari.  Dan lebih nyaman menyaksikan lalu-lalang manusia di jalan Malioboro.  Menu Excelso bermacam macam, dan saya suka dengan diskon 10% yang selalu saya peroleh karena saya members di sana. Unduh aplikasinya dan top up saldonya melalui tranfer via virtual account nya. Dan selalu pakai saldo aplikasi Excelso untuk pembelian makanan dan minuman disana, maka pasti akan memperoleh diskon 10%. Menu andalan yang saya suka adalah Kalosi Kopi, Kopi Lanang, Chef Salad, Sandwich Tuna.

Oke gaes selamat mengeksplorasi Yogyakarta

Bersih-bersih MALIOBORO

Malioboro
Suatu pagi saya lewat malioboro, waktu itu hari Selasa dan saya mendapati Malioboro lengang. Sempat saya tengok arloji saya sudah menunjukkan pukul 10.30, namun keadaan masih sepi sepi saja. Beberapa polisi berjaga di depan toko di malioboro, sebuah truk Polisi juga Nampak parkir di jalur lambat. Pikir saya ada apa ini? Jadi teringat pada jaman jaman reformasi dahulu.  Tetapi yang ini berbeda, lalu lintas padat merayap, kendaraan tetap berlalu lalang, toko toko semacam Malioboro mal tetap buka. Yang membuat saya makin yakin bahwa semua aman aman saja yaitu ketika di gedung DPRD Nampak banyak orang memotret para pengantin baru yang tergabung dalam acara Nikah Bersama.
Siang itu lorong lorong Malioboro yang biasanya sesak oleh pedagang kaki lima dan pejalan kaki Nampak lengang, jalur lambat yang biasanya berderet parkir becak dan andong serta beberapa motor juga nampak sepi sepi saja.  Ada apa gerangan?  Setelah saya mencari beberapa info serta memposting di Facebook maka beberapa teman menyatakan bahwa setiap Selasa Wage memang pedagang kaki lima libur selama 24 jam untuk melakukan bersih-bersih lingkungan.
Saya melihat ada beberapa hal yang menarik sehubungan dengan adanya bersih bersih setiap Selasa Wage ini. Paling tidak kawasan malioboro akan dibersihkan setiap 35 hari sekali
Pertama, bahwa beban Malioboro baik secara aktivitas, sampah maupun kebisingan seolah tidak pernah berkurang dari hari ke hari. Tujuh hari dalam seminggu kawsan tersebut terus menerus “dipakai” dari pagi sampai malam bahkan mungkin agak larut malam. Dengan adanya libur setiap 35 hari sekali ini seperti memberi kelegaan bagi trotoir, ia akan merasakan hari yang tanpa beban dalam seharian penuh. Lantai-lantai bernafas lega karena tidak lagi menanggung beban sekian puluh atau ratus lapak pedagang kaki lima.
Kedua, dengan adanya libur ini maka ada kesempatan bagi pedagang untuk melihat tempat kerjanya dengan lebih jernih. Melihat tempat mereka mencari nafkah dalam keadaan kosong. Artinya mereka juga harus belajar berintrospeksi. Melihat dengan lebih obyektif, karena selama ini mereka melihat Malioboro hanya sebuah lokasi untuk menghasilkan uang, tempat dimana mereka “berperang” seharian guna berburu rupiah. Tidak pernah mereka menghargai Malioboro sebagai apa adanya. Menghargai Malioboro sebagaimana Malioboro adanya. Ini yang harus disadari bahwa baik mereka pendatang maupun penduduk asli harusnya menyadari ini semua. Bukan hanya pedagang kaki lima yang bisa merenung namun juga para pemilik toko bisa melihat tokonya dengan lebih seksama, karena selama ini mereka sudah tak bisa lagi melihat tokonya dengan lebih jernih.
Ketiga, mereka mungkin bisa merencanakan sesuatu event yang lebih akrab antar sesama “penghuni” Malioboro. Kegiatan yang bukan berbasiskan bisnis sama sekali. Justru inilah saatnya menjalin relasi diluar kegiatan yang selama ini mereka lakukan. Membersihkan lokasi bersama-sama adalah salah satu contoh yang baik dimana mereka bisa menjalin kerjasama demi bersih dan asrinya Malioboro. Mungkin bisa dipikirkan kegiatan kreatif lainnya yang semakin membuat mereka merasa memiliki Malioboro. Wedangan bersama, Senam pagi bersama seluruh penghuni malioboro, bukankah ini sangat menyenangkan dan menggembirakan?
Keempat, jeda waktu 35 hari dirasa sangat cukup untuk  kembali membersihkan lokasi. Dengan membersihkan secara berkala dalam kondisi lokasi kosong akan menjamin lokasi terjaga tetap bersih. Tidak perlu menunggu sampai kumuh, namun 35 hari pasti akan dibersihkan.

Semoga ini berlanjut dan tidak obor obor blarak, karena ternyata Selasa Wage sendiri mempunyai makna yang mendalam dan bisa tetap diingat oleh rakyat Jogja