Tampilkan postingan dengan label Jogjakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogjakarta. Tampilkan semua postingan

MALIOBORO MAL DUA PINTU?

 Dalam beberapa hari sekitar tanggal tanggal awal Oktober 2022 barangkali para pengunjung dibingungkan dengan adanya penyekatan area dalam Malioboro mal Jogjakarta yang berakibat pengunjung menjadi kerepotan dalam mengakses seluruh bagian mal.  Sebab pintu masuk mal terbagi menjadi dua. Ini yang tidak diketahui oleh banyak orang. Pintu masuk utama yang dari arah masuk Jalan Malioboro (pintu barat), tetapi ada pintu lain yang bisa di akses yaitu melalui jalan Perwakilan. Kedua pintu tersebut mengakses area yang berbeda. Jika anda masuk melalui pintu utama maka daerahnya terbatas, demikian juga jika mengakses dari Jalan perwakilan akses nya juga terbatas. Artinya MAL TERSEBUT TERBAGI MENJADI DUA. Saya tidak tahu apakah kebijakan tersebut akan dilanjutkan sampai selama-lamanya, atau hanya sementara saja.  Kalau selama-lamanya tentu akan membuat tenant di Malioboro mal mengalami penurunan omset penjualan sebagai akibat keterbatasan akses pengunjungnya.  Semoga hal tersebut bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan publik.

Laptop lancar jaya mengganti hardisk dengan SSD, super kencang


Saya memakai Laptop ACER Aspire yang sudah cukup lama, barangkali hampir 4 tahun. Tetapi menurut saya secara fisik masih baik, keyboard oke, media simpan bersisa banyak, monitor masih terang, battery masih jos.  Tetapi memang kecepatan saya rasa sudah melambat.  Jika untuk keperluan di rumah saja, maka kecepatan ini tidak terlalu bermasalah. Namun jika dipakai untuk sesuatu presentasi yang berkaitan dengan orang banyak dan dengan waktu yang kadang mendesak, kecepatan ini bisa jadi sebuah masalah besar.
Suatu pagi di hari Sabtu, kebetulan saya diminta menjadi operator teks pujian untuk sebuah persekutuan doa pagi di gereja, dan saya datang cukup waktu sebenarnya. Namun laptop ini menjadi tidak mendukung saya seolah-olah dikarenakan booting nya nampak lambat sekali dan kebetulan juga kabel penghubung LCD proyektor dan laptop sedang terganggu. Semua tidak akan membuat kemrungsung manakala tidak ada jemaat yang menunggu, ha ha ha.....

Pagi itu Pendeta Hadyan Tanwikara ikut gemas dan was-was melihat saya senewen, dan menasihatkan agar saya mengganti media hardisk dengan SSD supaya aksesnya lebih cepat.
Dan saya pun memutuskan untuk melakukan upgrade, mengingat bahwa Laptop saya masih baik, dibandingkan harus membeli Laptop baru, apalagi sedang masa-masa krisis seperti ini diharapkan kita bisa lebih berhemat.

Maka saya mendatangi LOGIC Computer langganan saya sejak lama untuk segala keperluan software maupun hardware.  Dan LOGIC menyarankan sebuah SSD berukuran 256 Giga untuk menaruh segala sesuatu sistem termasuk windows dan segala software termasuk office dan kawan-kawan.

Dan apa yang terjadi? Kini performa laptop menjadi lebih jos dan kencang.  Pekerjaan dan mainan-mainan saya menjadi lebih menarik dan tidak lambat lagi.  Saya sarankan Anda juga melakukannya.

Oh ya jadi begini: Hardisk lama saya tidak dibuang, tetapi hanya dialihkan menjadi penyimpan data, sedangkan sistem ditaruh di dalam SSD. Hardisk lama dimasukkan ke dalam Hardisk Caddy yaitu semacam cangkang/bracket guna menaruh hardisk lama dan menempatkannya di ruang CD rom. Jadi CD rom nya dilepas. Sudah nggak pernah pakai CD rom sih sekarang ini.

Alamat LOGIC Computer di Jl. Hayamwuruk 29, telp 0274-515830, 0851 0364 1188. JOGJAKARTA .....


DILEMA AKIBAT CORONA VIRUS

 Saya sangat senang manakala Pemerinta Republik Indonesia menetapkan larangan mudik saat Lebaran 2021 dengan tujuan yang baik yaitu agar Virus Corona bisa dikendalikan dan tidak menyebar akibat orang-orang yang lalu lalang dari satu kota ke kota lainnya secara bersama-sama.

Tetapi apa yang terjadi? Lalu lalang memang tidak terjadi tetapi tempat-tempat hiburan lokal kemudian menjadi serbuan penduduk yang tidak mudik, akibatnya kerumunan tak terkendali lagi dan tentu saja penularan tidak bisa dihindari. Entah sebarapa signifikan akibat yang terjadi, saya tidak menyajikan datanya.

Sebagai orang yang tinggal di Jogjakarta saya merasakan bahwa di saat lebaran 2021 sungguh sepi sekali keadaan kota, utamanya yang menjadi Zona tujuan wisata di kota yaitu MALIOBORO.  Kebetulan di tanggal 14 mei saya sempat ke daerah sekitar Prambanan, jalanan luar biasa sepi sekali.  Hari ke dua, tanggal 15 Mei 2021 saya ke seputaran BOROBUDUR, jalan keluar Jogja menuju ke arah Magelang juga sepinya luar biasa. Petugas penyekatan tidak nampak memeriksa mobil saya yang menuju keluar kota.  Barangkali saja karena sudah Lebaran dan sudah dianggap tidak mungkin ada yang mudik. ha ha ha...

Dan ini dia tanggal yang dinanti-nantikan segera tiba, yaitu tanggal 1 Juni 2021, dimana tanggal 30 Mei adalah hari Minggu tanggal 1 Juni adalah hari Lahir Pancasila. Dhuarrrr ini hari kejepit yang bakalan dipakai oleh mereka yang akan balas dendam gara-gara saat lebaran ngga bisa mudik atau berwisata.

Jadi itulah Libur panjang : mulai Sabtu, Minggu, Senin (cuti), Selasa total 4 hari gaes. Apalagi kalau Jumat sore udah mulai bergerak.   Saya merasakan di Jogja mulai Sabtu sore sudah dipenuhi mobil-mobil ber Plat non AB memenuhi jalan Parangtritis. Saya tahu beberapa mobil masuk ke Jogja via ring road selatan. Yaitu ketika akan memasuki Kota Jogja dibawah jembatan Layang Janti belok ke kiri/selatan memasuki Ring Road selatan. Biasanya jalan lancar sih, sampai ke Jalan Parangtritis masuk ke utara atau masuk kota.    Tumben Jalan Parangtritis antrian mobilnya panjang dan..... plat AD, D, B, AA, L mulai terlihat berderet-deret.   Daaaaan malamnyaaa, sungguh luar biasa malam minggu kali ini di Jogja sudah tidak ada Pandemi saja.  Mereka seolah tidak peduli, tempat makan full, jalan Malioboro penuh wisatawan.  Kalau sudah begini apakah benar-benar protokol kesehatan ditaati??

Biasa akan terjadi peningkatan kasus penularan setelah dua minggu dari libur panjang.  Harapan saya sih tidak terjadi hal yang mboten-mboten.  Semoga semua sihat dan taat.

Pandemi Covid membuat kita kreatif

Dengan adanya penyebaran virus corona di Indoneisa, maka pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Pola tersebut adalah serangkaian tindakan yang harus dilakukan untuk memutuskan mata rantai Virus Corona tersebut.
  • ·     Yang pertama adalah menjaga jarak antara seorang dengan yang lain, sebab  penularan virus terjadi melalui droplet penderita. Maka dengan mengatur jarak tertentu diharapkan droplet/ air ludah tidak tersebar menuju kepada mulut, mata, hidung yang berhubungan langsung dengan paru paru sebagai lokasi berbiaknya Virus Corona.
  • ·     Memakai masker, pada mulanya yang memakai masker adalah para penderita Covid 19 tetapi selanjutnya berkembang sebuah aturan baru yaitu bahwa semua orang diwajibkan memakai masker. Ini tentu untuk mengantisipasi mereka yang Orang Tanpa Gejala, mereka para carrier ini bisa tidak menampakkan gejala fisik apapun namun membawa serta Virus kemana-mana dan siap ditularkan.
  • ·     Cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, ini sederhana namun sangat ampuh dalam mematikan Virus. Sebab lemak di virus akan hancur dengan pemakaian detergen. Bukan tidak mungkin kebiasaan cuci tangan ini juga menghindarkan kita dari banyak penyakit.
Dengan adanya anjuran tersebut maka segala macam acara yang berpotensi mendatangkan orang banyak akan dilarang penyelenggaraannya. Termasuk dalam hal ini adalah Kebaktian di gereja-gereja. Tentu gereja-gereja melakukan Live Streaming dengan menggunakan bantuan Youtube.  Jadi untuk hal ini ada dua macam, yang bener bener Live streaming real time. Artinya di gereja yang bersangkutan tetap berlangsung ibadah, hanya tanpa pengunjung/umat yang berbakti.    Kemudian jenis satunya adalah menyiarkan rekaman hasil kebaktian. Jadi para pendukung kebaktian sudah merekamnya terlebih dahulu, baru kemudian pada saat hari Minggu diputarkan tepat seperti jam kebaktian biasa.

       Adanya kebaktian dengan Live Streaming ini tentu membawa pro dan kontra dalam menjalankannya.  Ada yang tidak setuju karena persekutuan itu bermakna pertemuan secara fisik.  Ada yang setuju karena konsep bersekutu dengan Allah adalah di dalam roh dan kebenaran, jadi tidak terikat secara fisik harus hadir di gedung gereja. Tentu dengan catatan hal ini bisa dilakukan didalam kondisi tertentu seperti saat adanya wabah yang menular.

       Selain kebaktian yang disiarkan secara Live Streaming maka ada acara acara lain semacam persekutuan doa, pemahaman Alkitab juga dilakukan dengan memanfaatkan media media digital. Misalnya saja di GKI Ngupasan membagikan perenungan berupa Sapaan Pendeta setiap pagi, hal ini bertujuan sebagai bentuk sapaan Tuhan kepada umatNya melalui Sabda singkat yang diberikan oleh para pendeta.  Sapaan Pendeta ini diharapkan memberikan kekuatan bagi umat yang sedang stay at home, tentu mereka sangat merasa dikuatkan saat pandemi ini mendapat peneguhan peneguhan dari gembalanya.

       Berikut saya sertakan contoh tampilan Youtube yang dipergunakan GKI Ngupasan untuk meyapa baik umat secara umum maupun anak anak sekolah minggu.

Bersih-bersih MALIOBORO

Malioboro
Suatu pagi saya lewat malioboro, waktu itu hari Selasa dan saya mendapati Malioboro lengang. Sempat saya tengok arloji saya sudah menunjukkan pukul 10.30, namun keadaan masih sepi sepi saja. Beberapa polisi berjaga di depan toko di malioboro, sebuah truk Polisi juga Nampak parkir di jalur lambat. Pikir saya ada apa ini? Jadi teringat pada jaman jaman reformasi dahulu.  Tetapi yang ini berbeda, lalu lintas padat merayap, kendaraan tetap berlalu lalang, toko toko semacam Malioboro mal tetap buka. Yang membuat saya makin yakin bahwa semua aman aman saja yaitu ketika di gedung DPRD Nampak banyak orang memotret para pengantin baru yang tergabung dalam acara Nikah Bersama.
Siang itu lorong lorong Malioboro yang biasanya sesak oleh pedagang kaki lima dan pejalan kaki Nampak lengang, jalur lambat yang biasanya berderet parkir becak dan andong serta beberapa motor juga nampak sepi sepi saja.  Ada apa gerangan?  Setelah saya mencari beberapa info serta memposting di Facebook maka beberapa teman menyatakan bahwa setiap Selasa Wage memang pedagang kaki lima libur selama 24 jam untuk melakukan bersih-bersih lingkungan.
Saya melihat ada beberapa hal yang menarik sehubungan dengan adanya bersih bersih setiap Selasa Wage ini. Paling tidak kawasan malioboro akan dibersihkan setiap 35 hari sekali
Pertama, bahwa beban Malioboro baik secara aktivitas, sampah maupun kebisingan seolah tidak pernah berkurang dari hari ke hari. Tujuh hari dalam seminggu kawsan tersebut terus menerus “dipakai” dari pagi sampai malam bahkan mungkin agak larut malam. Dengan adanya libur setiap 35 hari sekali ini seperti memberi kelegaan bagi trotoir, ia akan merasakan hari yang tanpa beban dalam seharian penuh. Lantai-lantai bernafas lega karena tidak lagi menanggung beban sekian puluh atau ratus lapak pedagang kaki lima.
Kedua, dengan adanya libur ini maka ada kesempatan bagi pedagang untuk melihat tempat kerjanya dengan lebih jernih. Melihat tempat mereka mencari nafkah dalam keadaan kosong. Artinya mereka juga harus belajar berintrospeksi. Melihat dengan lebih obyektif, karena selama ini mereka melihat Malioboro hanya sebuah lokasi untuk menghasilkan uang, tempat dimana mereka “berperang” seharian guna berburu rupiah. Tidak pernah mereka menghargai Malioboro sebagai apa adanya. Menghargai Malioboro sebagaimana Malioboro adanya. Ini yang harus disadari bahwa baik mereka pendatang maupun penduduk asli harusnya menyadari ini semua. Bukan hanya pedagang kaki lima yang bisa merenung namun juga para pemilik toko bisa melihat tokonya dengan lebih seksama, karena selama ini mereka sudah tak bisa lagi melihat tokonya dengan lebih jernih.
Ketiga, mereka mungkin bisa merencanakan sesuatu event yang lebih akrab antar sesama “penghuni” Malioboro. Kegiatan yang bukan berbasiskan bisnis sama sekali. Justru inilah saatnya menjalin relasi diluar kegiatan yang selama ini mereka lakukan. Membersihkan lokasi bersama-sama adalah salah satu contoh yang baik dimana mereka bisa menjalin kerjasama demi bersih dan asrinya Malioboro. Mungkin bisa dipikirkan kegiatan kreatif lainnya yang semakin membuat mereka merasa memiliki Malioboro. Wedangan bersama, Senam pagi bersama seluruh penghuni malioboro, bukankah ini sangat menyenangkan dan menggembirakan?
Keempat, jeda waktu 35 hari dirasa sangat cukup untuk  kembali membersihkan lokasi. Dengan membersihkan secara berkala dalam kondisi lokasi kosong akan menjamin lokasi terjaga tetap bersih. Tidak perlu menunggu sampai kumuh, namun 35 hari pasti akan dibersihkan.

Semoga ini berlanjut dan tidak obor obor blarak, karena ternyata Selasa Wage sendiri mempunyai makna yang mendalam dan bisa tetap diingat oleh rakyat Jogja

Halaman

Selamat bertemu kembali pembacaku...

Kemarin siang saya merenungkan tentang kehidupan ini, seperti biasa saya adalah orang yang suka menganalogi.  Kebetulan saat ini sedang memperoleh rejeki untuk membangun sebuah rumah kecil.
Didalam sebuah kesatuan rumah, bisa dipastikan terdiri dari bangunan rumah itu sendiir, halaman depan rumah dan juga halaman belakang rumah. Itu kalau kita membangun dengan tanah yang cukup luas.
Mayoritas hidup kita ada didalam rumah, entah didalam kamar atau di ruang tamu atau di dapur. Seperti menggambarkan kehidupan kita pada masa sekarang ini, saat kita hidup ini ada di saat ini. Bukan di masa lalu atau di masa depan. Disinilah kita berkarya, kita bekerja, kita membina rumah tangga, bersekolah dan sebagainya. Saat dimana kita boleh bersyukur atas nikmat dari yang Maha Kuasa.
Halaman belakang saya ibaratkan masa lalu kita.  Kita menaruhnya dibelakang agar tidak terlihat oleh orang lain. Halaman belakang juga merupakan tempat favorit untuk bersantai tanpa harus berisik dengan aktivitas orang lalu lalang di halaman depan. Tempat tersembunyi tetapi tetap merupakan bagian dari keutuhan sebuah rumah.Masa lalu adalah bagian dari hidup kita yang tidak bisa dihapus begitu saja, bisa jadi kita menganggapnya sampah tak berguna karena di halamn belakang kadang kita meletakkan WC tempat pembuangan. Namun kita harus menghargainya karena itu juga yang membentuk hidup kita secara utuh.
Sedangkan halaman depan lebih suka saya umpamakan sebaga halaman penuh kesenangan, merupakan masa depan kita atau rencana rencana hidup menuju ke masa depan. Halaman depan adalah tempat sepintas orang dapat melihat kondisi rumah kita. Rumah kita bagus, bersih, menarik akan tampak jelas manakala seseorang melihat halaman depan kita.  Oleh karenanya penampilan halaman depan selalu dibuat semenarik mungkin, penuh bunga indah, rumput tertata menghijau, lampu taman menyala cerah, dan sebagainya. Untuk masa depan kita selalu merencanakan yang terbaik dan termanis. Tempat kita menerima tamu yang merupakan ide ide untuk masa depan kita.

Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua.
Selamat pagi
Notes: Jogja sudah mulai macet, banyak mobil mobil luar kota mulai berdatangan.
Selamat menjelang hari Lebaran

Antri perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Yogyakarta

Kebetulan 6 bulan paspor ku habis, eeh itung itung lebih awal memperpanjang. Aku coba datang ke Kantor Imigrasi 1 Yogyakarta pada tanggal 30 Desember 2014 sekitar jam 10.00, eh ternyata nomor antrian sudah habis. Menurut petugas yang berjaga disana bahwa pelayanan pembuatan paspor sekarang dibatasi 100 orang per hari dan cukup sehari selesai artinya paspor langsung bisa keluar tanpa harus menunggu hari lain kita dating.  Aku diberitahu agar datang ke kantor ini lebih pagi, kantor buka jam 07.30.
Keesokan harinya aku datang lagi dan sampai di kantor imigrasi jam menunjukkan 07.25 , saat itu aku lihat antrian sudah panjang. Dan astaga nomor antrian pun juga sudah habis.  Lantas kutanya pada petugas :”Enaknya saya datang jam berapa mas supaya bisa dapat nomor antrian?”. “Ya lebih awal saja pak?”.
“Lebih awal jam berapa? Ini saya awal saja sudah habis nomornya?”
Aku lantas berpikiran buruk, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah? Ah mudah mudahan pikiranku salah.
Aku lantas berpikir mengapa petugas pendaftaran tidak membuat system pendaftaran seperti di rumah sakit atau praktek dokter. Yaitu dengan menerima pendaftaran per 100 orang. Ketika sudah full 100 orang maka di geser ke hari berikutnya, katakanlah jumlah bisa digeser 10% untuk mengantisipasi ketidak hadiran seseorang. Jadi bagi si pendaftar sudah tahu kepastian hari nya dan nomor urutnya, bukankah itu lebih mudah? Mengapa harus dipersulit?  Karena saying banget kan bagi orang yang sibuk harus antri pagi pagi sementara dia bisa mengerjakan keperluan yang lain. Yah karena aku masih butuh saja sehingga mau maunya antri dari jam 5 pagi. Tetapi cobalah berpikir bahwa Pelayanan Masyarakat harus diutamakan mengingat masyarakat juga sudah membayar pajak dan berbagai retribusi bukan?
Memang disatu sisi ada juga system pendaftaran online, namun saya lihat pendaftaran online pun disana masih disuruh mengisi formulir, dan belum tentu semua orang yang punya paspor juga bisa online.  Bisa bisa ini membuka celah bagi jalannya percaloan yg sudah dilarang.

Mudah mudahan Januari 2015 sudah agak berkurang antrinya, kalao masih antri ya kebangeten.

Tag: kantor imigrasi yogyakarta, perpanjangan paspor, antrian perpanjangan paspor, sistem antrian yang baik

Pengamen jalanan

Belakangan ini saya sering melihat adanya pengamen berkelompok semacam grup musik yang mangkal di perempatan perempatan besar. Memang keberadaan pengamen dengan grup musik besar ini agak kabur dengan konotasi seniman. Saya juga ngga tahu menggolongkannya apakah mereka termasuk setara dengan pengemis atau setara dengan penghibur layaknya selebriti di televisi.  Namun ketika keberadaan mereka mengganggu lalu lintas misalnya, maka itu layak mendapat perhatian dari pemerintah. Disaat macet macet nya jalan, jika mereka memakan bahu jalan maka harus ditindak. Namun yang membuat saya bosan adalah ketika mereka mangkal disebuah perempatan jalan, dekat dengan saya tinggal, sehari saja saya bisa berhenti di perempatan itu sekurang kurangnya enam kali, dan merekapun juga meminta minta enam kali. Lantas apakah itu tidak membosankan? Saya akan memberi ketika hati saya merasa ingin memberi saja, entah itu karena rasa iba saya, ataukah karena mood saya sedang baik. Tanpa melihat apakah mereka pengamen atau pengemis. Bagaimana dengan Anda?

Mahasiswa kok mengemis ?

Jika kebetulan lewat di jalan Sudirman Jogja, perempatan korem terkenalnya demikian. Saya sering melihat anak anak mengemis, penjual koran dan mahasiswa yang berlaku selayaknya pengemis. Mengapa demikian? Dengan berjaket almamater mereka membawa kardus demi mencari sumbangan misalnya saja :gempa, banjir, aktivitas tertentu lainnya yang memerlukan dana. memang tidak salah namun secara etika nampaknya agak aneh karena seorang calon intelektual masih melakukan mengemis dengan cara tradisional. Saya justru lebih menghargai penjual koran yang ada disana karena dia tidak mengemis tetapi menjajakan dagangannya.  Sebaiknya mahasiswa berpikir dahulu sebelum melakukannya, pakailah cara cara kreatif yang bisa mengasah intelektualitas kalian guna mendapatkan uang, bukan meminta belas kasihan dengan cara demikian.

Tugu Jogja dan grafiti

Foto ini saya ambil tanggal 4 Juni 2013, masalah grafiti atau corat coret di tempat umum nampaknya di Jogja sudah biasa. Sampai sampai di dekat Tugu Jogja, tepatnya di bekas toko Buku Gunung Agung pun sempat di corat coret, sangat menyedihkan karena di Jogja terkenal dengan Kota Pelajarnya, namun justru di dekat Tugu yang menjadi kebanggan bersama milik rakyat Jogja justru terdapat hal hal yang mengurangi keindahannya.  Semoga Dinas terkait segera mengatasinya dan yang terpenting adalah menegakkan hukum yang ada.

Tugu Jogja dan sepasang sepatu

Di awal bulan Juni 2013 ini saya melihat ada sepatu warna hijau stabilo tergantung di kabel yang melintang dekat dengan Tugu Jogja.  Sebagai sebuah kebanggaan masyarakat Jogja, saya merasa risih melihat hal ini.  Selain mengurangi keindahan tentu saja juga norak, apalagi warna nya yang mencolok.  Sebagian orang tidak memperhatikan hal tersebut, tetapi alangkah indahnya jika Tugu yang sudah direnovasi dengan indah, lingkungannya pun juga dijaga keindahan dan kebersihannya.  Semoga Dinas terkait segera membersihkannya.

Bisnis Bimbingan Belajar, ujung ujungnya...... duit juga

Sabtu pagi 26 Mei 2013 anak saya mendapat undangan untuk mengikuti try out kenaikan kelas dari kelas 5 ke kelas 6 oleh sebuah bimbingan belajar yang berkantor di Jl. C Simanjuntak Jogja. Ada dua tujuan yang hendak dicapai bimbingan belajar itu, yang pertama anak bisa mengetahui kemampuannya setelah mengerjakan 85 soal yang disajikan. Kedua, saat anak anak mengerjakan soal maka orang tua diberi presentasi sederhana tentang layanan bimbingan belajar tersebut serta gambaran mengenai NEM yang menjadi syarat agar bisa diterima di SMP negeri favorit di Kota Jogja. Karena anak saya belum terbiasa memakai pensil 2B dan cara bagaimana menghitamkan dengan baik, ditambah memang tanpa persiapan, Maka tentu saja hasilnya buruk.
Nampaknya ini merupakan cara pemasaran yang cukup efektif, mengapa demikian? Karena jika hasil yang diperoleh dalam try out kurang memuaskan tentu anak anak akan merasa tidak siap menghadapi kenaikan kelas 5. Jika anak anak merasa tidak siap maka tentu ia akan meminta orang tuanya untuk mengikutkan dirinya kepada bimbingan belajar tersebut.  Dari sisi orang tua yang sudah diberi presentasi tentu juga akan mempertimbangkan untuk mendaftarkan anaknya ke bimbingan belajar tersebut. Apalagi bimbingan yang diberikan di awal kelas 6 lebih menjamin seorang siswa agar dapat belajar lebih baik untuk meraih keinginannya masuk ke sekolah negeri favorit. Ditambah lagi bonus bonus dan cash back besar. Ini sudah memakai cara pemasaran modern yaitu : memberikan tenggat waktu Bonus. Jika dibayar lunas maka Bonus diberikan tetapi jika diangsur hanya akan diberi sebagian bonus saja. Kemudian cash back besar juga merupakan iming iming yang menggoda bagi orang tua siswa.
Rupa rupanya bimbingan belajar masih menjadi sebuah bisnis yang bagus di Jogjakarta.  Entah orientasinya murni memberikan bantuan pendidikan atau memang ber orientasi bisnis semata. Hasil prestasi siswa yang dinilai berdasarkan nilai semata membuat para siswa berlomba lomba meraih nilai tinggi. Apalagi SMP favorit juga mensyaratkan range nilai tertentu bagi yang akan masuk ke sana.  Saya berpikir jika SMP favorit sudah mensyaratkan NEM tertentu maka sudah barang tentu nanti hasilnya atau lulusannya akan baik karena inputnya sudah berupa siswa siswa yang punya kepandaian.  Celakanya ada juga SMP tempat "berkumpulnya" siswa siswa dengan NEM yang buruk dan barangkali hanya sedikit saja siswa dengan NEM bagus yang "tersesat" kesana.  Ini tentu membuat siswa semakin terkotak kotak.  Ada kelompok NEM bagus dan ada kelompok NEM jelek. Menurut saya adalah bagaimana mengembangkan semangat berbagi untuk sesama siswa pada saat mereka ada dibangku sekolah. Bagi siswa yang merasa bisa belajar lebih baik maka dia menjadi mentor bagi siswa siswa lain yang kurang baik dalam pemahaman pelajaran.  Jika ini mulai dikembangkan sedari SD, maka tentu semangat kebersamaan dan persaingan yang sehat dapat terwujud. Si mentor tentu akan belajar dengan lebih baik karena juga takut dikalahkan oleh temannya.

Sumber foto : harianjogja(dot)com

Suara gaib di Jogja



Tentang suara gaib ini saya terus terang pernah mengalaminya sebanyak dua kali. Hal ini saya alami semenjak saya ada di Jogja. Yang pertama adalah suara drumband di pagi hari, banyak orang sudah mengalami mendengar suara drumband ini.  Suara ini sering muncul di pagi hari, saya sering mendengarnya ketika masih sekitar pukul 04.30 sampai pukul 05.00. Saya sering bangun di pagi hari, namun tidak setiap hari suara drumband itu terdengar. Mengenai waktunya memang tak bisa ditentukan, beberapa teman saya juga mengiyakan bahwa merekapun sering mendengarnya diwaktu pagi.
Yang kedua adalah suara gamelan, kalau ini bener bener lebih nyata. Saat itu hari kamis wage sekitar pukul 23.00 ketika saya usai mengikuti rapat di sebuah gereja yang terletak di Jl. Bhayangkara Jogja. Karena malam itu habis hujan, maka saya melipat jas hujan yang sebelumnya saya pakai menutup motor saya diruang parkir belakang gereja. Saya sangat jelas mendengar bunyi gamelan bertalu talu dari sebuah ruangan di belakang gereja. Sambil menyalakan motor saya pun menyorotkan lampu motor ke arah ruangan tersebut. Tetapi bunyi itu pun masih bertalu talu, saya menunggunya beberapa saat didepan ruang itu sampai akhirnya gamelan berhenti berbunyi. Masih mengejar penasaran saya, bertanyalah saya pada Satpam penjaga malam. Satpam pun menjawab :” Tidak ada yang berlatih gamelan pak, malam ini”. Waduuuuh lalu siapa yang membunyikan gamelan dibelakang gereja?  Hanya Tuhan yang tahu.
Jogja memang penuh misteri.

Ruwetnya menyeberang di depan Ambarrukmo Plaza Jogja



Zebra Cross depan Amplaz
Sebagai penduduk Jogja, saya merasa ngeri jika harus menyeberang didepan Pusat Perbelanjaan Ambarrukmo Plasa. Jalan yang membujur timur barat tersebut rasanya tak pernah sepi dari kendaraan bermotor baik roda dua ataupun empat. Jalan tersebut sudah dibagi dua oleh divider di tengah tengahnya, semata mata untuk menertibkan agar kendaraan tetap melaju pada jalurnya. Namun saya merasa heran, meskipun tepat didepan mal besar itu sudah dipasang zebra cross namun kendaraan kendaraan tak juga mengurangi laju kecepatannya. Saya pernah mencoba sekali saja, menyeberang dari selatan jalan ke utara jalan tepat di depan Amplaz, luar biasa sulitnya. Kebetulan hari itu adalah hari Sabtu, entah apakah setiap hari seperti itu? Kendaraan yang lalu lalang seolah menyepelekan penyeberang jalan yang sudah dijamin haknya untuk menyeberang di zebra cross. Ketika jumlah orang sudah banyak baru ada yang mengurangi lajunya, terutama kendaraan roda empat, namun untuk kendaraan roda dua sama sekali tidak menghiraukan, justru mencari celah diantara para penyeberang. Saya pikir apakah ini sedang di kota Jogja istimewa atau bukan? Kok perilaku pengendaramotornya semacam ini? Sungguh memprihatinkan jika kesadaran pengendara motor tidak meningkat seiring dimilikinya SIM, banyak yang bisa membeli sepeda motor, memiliki SIM namun tidak mempunyai etika berlalu lintas. Bahasa Jawanya :” tidak punya unggah ungguh”. Sungguh saya memperingatkan para penyeberang jalan disini untuk berhati hati jika terpaksa harus menyeberang, perhatikan benar benar dan tunggulah sampai benar benar aman.
Saya sebenarnya tidak suka membandingkan dengan negara lain seperti Singapura, karena ada saja menganggap saya tidak Nasionalis, Tetapi pengalaman saya ketika menyeberang disana, sungguh merasa sangat aman dan nyaman. Di zebra cross dilengkapi lampu lalu lintas yang sangat ditaati baik oleh pengendara kendaraan bermotor dan juga oleh pejalan kaki. Saat menyala merah, maka pejalan kaki benar benar berhenti dengan tertib ditepi jalan. Ketika lampu hijau untuk pejalan kaki menyala, maka mobil dan motor sekencang apapun akan berhenti dengan tertib, menunggu sampai mereka diijinkan berjalan. Tidak ada tlusap tlusup mencari celah dan lain sebagainya. Tentu untuk menumbuhkan kesadaran ini perlu dukungan aparat yang tegas dan tertib serta masyarakat yang taat hukum, tanpa itu semua maka lalu lintas di Jogja akan semrawut.