Tampilkan postingan dengan label Salam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salam. Tampilkan semua postingan

Lakukanlah dengan segenap hatimu


Pagi tadi saya iseng masuk ke Youtube, ternyata dari trend yang direkomendasikan adalah Indonesia Idol. Sebuah ajang pencarian bakat untuk calon calon penyanyi. Saya mencoba menonton beberapa proses audisi dan sungguh bahwa anak anak sekarang generasi now ini sungguh luar biasa.  Bahkan sudah ada yang punya channel sendiri di Youtube dan di view oleh banyak orang videonya. Betapa menakjubkan. Tetapi saya yakin bahwa usaha yang mereka lakukan tentu sangat besar. Tidak ada sesuatu keberhasilan yang hanya diperoleh dengan bersantai-santai tanpa kucuran keringat, bias jadi juga dengan biaya biaya yang besar. Yah tetapi itulah namanya usaha. Keseriusan kita dalam berusaha jugakadang kadang tidak seimbang dengan hasil yang diperoleh. Usahanya sudah jungkir balik tetapi hasilnya nihil atau hasilnya minim. Sudah barang tentu kita tidak boleh mudah berpatah arang.
Saya teringat suatu ayat di Kitab Pengkhotbah. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati. ( Pengkhotbah 9:10 ) Sekali kita bekerja maka bekerjalah dengan serius, Pengkhotbah mengatakannya dengan “sekuat tenaga” dalam terjemahan NIV dikatakan “with all your might”.  Tuhan tak ingin kita melakukan setengah-setengah, layanilah Tuhan mu dengan segenap hatimu. “kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”

Apakah kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan seluruh kekuatan kita dan didasari atas cinta kepada Tuhan?

Lagi-lagi soal Selamat Natal

Sebenarnya bosan saya mendengar adanya berita mengenai pro kontra “Ucapan Selamat Natal”. Bagi saya sebagai umat Kristen mereka yang memunculkan itu seperti hendak menyeret pengikut pengikut Kristus dalam sebuah konflik yang sebenarnya tidak pernah ada. Urusan mengucapkan selamat Natal sebenarnya adalah urusan yang tidak perlu diblow up.  Bagi orang Kristen mengucapkan selamat tidaklah sama dengan mengubah iman kepercayaan, itu intinya. Mengenai orang diluar Kristen yang mau mengucapkan selamat Natal tentu kami terima dengan senang hati. Namun bila dirasa “tidak mantap” atau ragu karena sebuah aturan keagamaan, tidak mengucapkan pun kami juga memahami. Toh tidak mengucapkanpun tidak akan mengubah relasi apapun antar sesama umat manusia. Namun jika dengan tidak mengucapkan itu adalah sebagai upaya memecah belah sebuah bangsa, ini yang sesungguhnya patut diwaspadai.


Yesus Kristus bahkan secara lebih tegas mengatakan kepada para murid murid soal memberi salam ini dengan sangat tegas, dapat kita lihat didalam Matius 10 :12 – 13 “ Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu”
Jadi kita tidak akan kehilangan “salam” kita meskipun orang itu tidak menerima salam kita. Jika salam itu adalah suatu berkat yang kita ucapkan untuk mereka maka Berkat itu tidak akan tercecer, namun tetap akan kembali kepada kita. Kita tidak akan kehilangan berkat itu.
Mengenai salam ini untuk siapa, beberapa ayat berikut akan membantu kita memahami kepada siapakah salam itu diberikan :

1.       Kepada Saudara yang lain ( 1 Sam 17:22 ),
2.       Oleh hamba kepada Tuan ( Kejadian 47:7 )
3.       Oleh pemimpin kepada bawahannya ( 1 Sam 30:21 )
4.       Kepada penghuni rumah ( Matius 10:12 )

Bahkan ketika malaikat menjumpai Maria, ia pun mengucapkan salam sebagaimana tertulis didalam Lukas 1:28 “ketika malaikat itu masuk ke rumah maria, ia berkata:” Salam hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”

Jika demikian maka sebagai pengikut Kristus kita tetap harus mengucapkan salam untuk sesama ciptaan Tuhan. Tidak ada peraturan yang melarang kita untuk mengucapkan salam kepada sesama ciptaan. Bahkan sangat jelas malaikatpun mengucapkan salam untuk Maria. Lantas siapakah kita ini?