Tampilkan postingan dengan label Kekristenan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekristenan. Tampilkan semua postingan

JALAN KEABADIAN SIAPA?

 Saya pernah punya pengalaman menungguin seseorang yang sedang dalam sakaratul maut sampai menuju kepada kematian.  Setidaknya sebanyak dua kali, yang pertama ibu saya sendiri dan yang kedua adalah kakak ipar saya. Dari pengalaman ini saya sepertinya mengambil kesimpulan bahwa "agama" yang dianutnya beserta dengan ritual/doa-doanya yang akan mengantar almarhum menuju kepada kebadian.  Namun diatas semuanya, bagi orang beriman tentu lebih meyakini bahwa Tuhan yang mereka percaya yang akan menjemput menjelang roh itu terlepas dari wadag nya.

    Jadi begini, saat saya mendampingi almarhumah ibu saya, maka saya mendoakan secara Kristiani sesuai kemampuan saya. Mohon Tuhan menjemput roh ibu saya, demikian saja intinya. Dan sejenak kemudian memang benar-benar terjadi ibu saya wafat.  Kedua adalah kakak ipar saya, kebetulan saat maut hendak menjemput saya dan isteri sempat menemaninya.  Bersama dengan kami ada seorang ibu yang kebetulan pengurus kring (wilayah) yang sama-sama beragama Katolik, dia malam itu juga menunggui kakak ipar saya. Sementara menjelang jam 01,00 beliau hendak pulang ke rumah lalu meninggalkan selembar foto kopian kertas doa secara Katolik. Maaf saya juga tidak hapal doa apa itu, karena saya sendiri Kristen Protestan.  Kemudian saat kakak ipar mulai tersengal-sengal, saya mencoba mendoakan dengan doa secara Kristiani. Tetapi apa yang terjadi? Tidak terjadi sesuatu yang berarti. Namun kemudian setelah dibacakan doa secara Katolik sesuai agama yang dianutnya, berangsur-angsur napasnya terhenti.

    Entahlah dengan dua sampel ini barangkali masih belum bisa diambil sebagai sebuah kesimpulan?  Tetapi bisa jadi begitulah adanya. Hanya oleh iman saja kita mempercayai hal-hal tersebut.

    Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi teman-teman yang sedang (maaf) menjumpai hal-hal semacam itu.


Salam

KEBAIKAN UNTUK SEMUA?

 Banyak orang beragama yang merasa kecewa berat ketika doa doanya, harapan-harapannya, permintaan-permintaannya tidak terpenuhi. Mereka merasa bahwa Tuhan tidak memberi perhatian sebanyak perhatian yang ia berikan kepada Tuhan. Tentunya perhatian tersebut bisa dalam wujud yang bermacam-macam, seperti menyantuni anak yatim, menyantuni janda, menolong korban gempa, memberi bea siswa kepada anak yang tak mampu, mengikuti pelayanan di gereja dan sebagai macam lainnya.  Orang-orang berpikir bahwa Tuhan melakukan transaksi dengan kita. Apalagi jika ada ayat-ayat yang ditafsirkan seolah-olah dengan melakukan a, b .. c d dan seterusnya maka Tuhan akan memberi 1,2, 3... dan lain sebagainya. Padahal tidaklah selalu demikian.   

Ada mahasiswa yang menginginkan bekerja di Singapura, yang mana hal itu sudah ia impikan sejak lama, setelah lulus iapun mengirimkan banyak surat lamaran ke negeri Singa itu, tetapi tak satupun lamaran yang dijawab oleh perusahaan. Sampai-sampai setiap ia mengunjungi negeri itu ia harus make a wish lebih sering jika melewati kantor perusahaan yang diinginkannya.  Sementara mahasiswa lain yang bersekolah di sebuah universitas yang tidak keren-keren amat, tiba-tiba dengan gesitnya sudah bekerja di perusahaan Asing Amerika yang berkantor i Singapura.  Sungguh ironis dua kejadian tersebut.  Apakah hal ini berarti bahwa harapan-harapan dan doa-doa mereka tidak dikabulkan. Padahal orang tuanya semua baik-baik saja, bukan orang yang jahat.

Saya sering mendengar para pemberi renungan Kristen menyatakan bahwa semua doa kita itu dijawab oleh Tuhan, tetapi jawaban itu ada 3 macam : yang pertama Tuhan menjawab YA, artinya begitu selesai doa permintaan kita ucapkan lalu segera dikabulkan. Yang kedua, jawabannya adalah TIDAK, permintaannya tidak dikabulkan. Dan yang ketiga, adalah TUNGGU, artinya kita disuruh menunggu sampai waktu Tuhan yang menentukannya.  Menurut pendapat saya itu adalah perspektif manusia saja.  Sebab siapakah yang dapat mengerti jalan pikiran Tuhan, sementara kita hanya mahluk ciptaanNya saja.

Tidak seorangpun mengerti dan memahami pikiran TUHAN, rencana TUHAN. Perspektif Tuhan tidak sama dengan perspektif kita. Titik tolak berpikir Tuhan tidak sama dengan manusia. Kalau sama, berarti dia bukan Tuhan dan hanya ciptaan yang sama dengan kita.  Bagaimana mungkin kita membantah fakta bahwa Tuhan menciptakan Matahari yang menyinari seluruh dinia dengan merata. Memberi kehidupan pada tumbuh-tumbuhan yang pada gilirannya akan memberi makan kepada hewan maupun manusia. Tidak peduli manusia baik atau jahat, tidak peduli hewan jinak atau hewan buas. Semua mendapat bagiannya.

Lantas mengapa kita berdoa meminta untuk selalu dikabulkan? Apa alasan terbesar kita menuntut Tuhan mengabulkan doa kita. Ibarat orang melakukan penjualan sebuah produk, ambillah contoh sabun cuci piring cair modern. Produk ini harganya ekonomis, aman bagi manusia, tidak meninggalkan limbah berbahaya bagi lingkungan, membersihkan lebih banyak kuman dalam waktu singkat, melindungi piring/gelas dengan lapisan khusus yang bisa bertahan sampai 12 jam. Ini misalnya bener-bener ada maka saya katakan bahwa ada alasan kuat untuk membeli produk ini.

Kembali kepada doa-doa permohonan kita tadi, sebaik apakah kita sehingga Tuhan layak mengabulkan doa-doa kita? Apakah perbuatan baik kita mampu melebihi yang dilakukan Tuhan terhadap kita? Saya kira tidak seorangpun mampu melakukannya. Jadi bagaimana kalau boleh saya katakan bahwa setiap manusia diberikan kesadaran untuk bersyukur terhadap apa saja yang sudah dimintanya. Bukan karena ia merasa seolah olah sudah menerimanya. Tetapi memang semuanya sudah disediakan oleh Tuhan sehingga kita hanya layak untuk mensyukurinya, tidak lebih dan tidak kurang. Untuk setiap peristiwa yang boleh kita alami. Terpujilah nama Tuhan

MENGAPA RABU ABU?

 Sebagai penganut Protestan saya belum terlalu "lama" mengenal ibadah rabu Abu yang diselenggarakan di gereja kristen, gereja saya  adalah aliran Presbyterian ( GKI ). Apalagi ada acara penorehan simbol abu di dahi.  Saya seringkali hanya melihat orang-orang pada flexing di media sosial dengan dahinya yang sudah tertoreh abu dalam bentuk lambang salib.  Dalam hati, saya bertanya apakah simbol rabu abu ini hanya sekedar sarana pamer rohani atau memang ada maknanya.  Namun saya melihat bahwa dalam agama katolik rabu Abu sudah dilakukan lama sekali di gereja pada saat memasuki awal Paskah.  Tetapi di gereja-gereja Protestan tidak serta merta melakukannya. Kalau saya tidak salah lihat, gereja-gereja Pantekosta kebanyakan tidak melakukan ibadah rabu abu ini ( maaf kalau saya salah mengatakannya ).

Ada beberapa poin penting sehubungan dengan Rabu Abu

  • Abu melambangkan pertobatan dan kefanaan manusia. Kita bisa merujuk pada Kejadian 3:19 "Engkau debu dan akan kembali menjadi debu"
  • Abu biasanya dibuat dari daun palma Minggu Palma tahun sebelumnya ( tradisi Katolik )
  • Tradisi ini mengawali masa Prapaskah selama 40 hari menuju Paskah.
  • Selama berabad-abad tradisi ini menjadi bagian liturgi Gereja Katolik dan juga Anglikan serta Lutheran tertentu.
Pada mulanya gereja Protestan tidak merayakan Rabu Abu
  • Pada masa reformasi abad ke-16 tokoh gereja seperti Martin Luther dan John calvin tidak sepenuhnya menolak kalender gerejawi.
  • Namun banyak gereja Protestan kemudian menjauh dari ritual yang dianggap "terlalu katolik" atau yang secara eksplisit tidak diperintahkan Alkitab.
  • Akibatnya, Rabu Abu tidak menjadi praktik umum di gereja-gereja Reformasi, terutama di tradisi Reformed dan Evangelikal
  • Sementara yang masih mempertahankan kalender liturgi adalah gereja Anglican dan Lutheran
Kapan gereja protestan secara intens merayakan Rabu Abu?
  • Peningkatan secara signifikan terjadi sekitar tahun 1970-1990, abad ke-20 akhir
  • Faktor pendorongnya adalah Gerakan Liturgical Renewal. Banyak gereja Protestan mulai menemukan kembali praktik gereja mula-mula.
  • Gerakan ekumenis.  Setelah Konsili vatikan II (1962-1965) relasi Katolik-Protestan membaik dan dialog teologis meningkat.
  • Kebutuhan spiritualitas yang lebih simbolik.  Banyak jemaat gereja Protestan modern merasa bahwa ibadah mereka terlalu kognitif dan merindukan simbol pertobatan yang lebih konkrit.
Pada situasi sekarang ini terutama di Indonesia gereja Lutheran dan Anglican sudah lama merayakan, kemudian sejak 1990 hingga 2000 an gereja reformed tertentu, gereja methodist bahkan sebagian gereja injili dan noin denominasi juga sudah merayakannya.  Meskipun penyelenggaraan nya tidaklah seragam, artinya ada juga yang tanpa penorehan abu.

Secara teologis bagaimana?

Bagi gereja protestan yang menyelenggarakan maka ada catatan penting :
  • Bahwa abu bukanlah sakramen
  • Penorehan abu tidak dianggap memberi "rahmat khusus"
  • Abu hanyalah simbol pertobatan dan pengingat kefanaan
Jadi lebih bersifat sebagai praktik spiritual saja dan bukanlah sebuah kewajiban

Semoga tulisan sederhana ini melengkapi wawasan dan pemahaman umat Kristen. 

Dialah orang yang memperkenalkan Yesus kepada saya

 


Setidaknya ada dua orang yang selalu saya ingat karena merekalah yang memperkenalkan saya kepada pribadi Yesus Kristus yang menjadi juruselamat saya. Saya menjadi teringat ini karena salah satu dari mereka baru saja menghadap Illahi pada tanggal 3 Maret 2022.  Dialah Om Elia Budi Saputra yang tidak lain adalah paman saya sendiri. 

Semenjak saya masih kecil, dia entah secara sengaja atau tidak selalu mengajak saya pergi ke gerejanya di Solo yaitu Gereja Utusan Pantekosta di Indonesia, waktu itu saya masih kecil, mungkin masih Sekolah Dasar.  Om Elia selalu merekam setiap kotbah pendeta pada saat hari Minggu.  Saya masih ingat nama dan wajah pendeta Gerejanya yaitu alm Pdt Petrus Iman Santosa. Om Elia dengan setia mendokumentasikan kotbah-kotbah tersebut dalam bentuk rekaman pita kaset. Maklum jaman dahulu belum ada file-file digital maka yang dipakai adalah pita kaset. Tape recorder nya pun saya masih ingat bermerk Philips, masih mono gaes, belum musim tape mode stereo apalagi sampai home theatre.  Semua dilakukannya dibalik sebuah bilik kecil di samping mimbar gereja.

Secara rutin hampir setiap Sabtu saya selalu dijemput di rumah oleh Om Elia, karena memang di rumah nenek tidak ada anak sekecil saya waktu itu, sehingga dengan adanya anak kecil dirasa sangat menghibur oleh nenek, paman dan bibi yang kala itu masi tinggal serumah.  Saya akan menginap di rumah nenek setiap Sabtu dan kemudian Minggu pagi pergi ke gereja bersama om dan tante ( adik papa saya ).

Dari kebiasaannya merekam kotbah itulah kemudia kaset kaset hasil rekamannya dipinjamkan kepada ibu saya. Ibu juga merasa senang dapat mendengarkan firman Tuhan melalui hasil rekaman kotbah di kaset. 

Dari sana saya mengenal apakah itu kebaktian, apakah itu melayani Tuhan, apakah itu kotbah dan seterusnya dalam pengertian seorang anak kecil.

Tulisan selanjutnya adalah tentang orang kedua yang juga dipakai Tuhan untuk memperkenalkan Kristus kepada saya.

Pandemi Covid membuat kita kreatif

Dengan adanya penyebaran virus corona di Indoneisa, maka pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Pola tersebut adalah serangkaian tindakan yang harus dilakukan untuk memutuskan mata rantai Virus Corona tersebut.
  • ·     Yang pertama adalah menjaga jarak antara seorang dengan yang lain, sebab  penularan virus terjadi melalui droplet penderita. Maka dengan mengatur jarak tertentu diharapkan droplet/ air ludah tidak tersebar menuju kepada mulut, mata, hidung yang berhubungan langsung dengan paru paru sebagai lokasi berbiaknya Virus Corona.
  • ·     Memakai masker, pada mulanya yang memakai masker adalah para penderita Covid 19 tetapi selanjutnya berkembang sebuah aturan baru yaitu bahwa semua orang diwajibkan memakai masker. Ini tentu untuk mengantisipasi mereka yang Orang Tanpa Gejala, mereka para carrier ini bisa tidak menampakkan gejala fisik apapun namun membawa serta Virus kemana-mana dan siap ditularkan.
  • ·     Cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, ini sederhana namun sangat ampuh dalam mematikan Virus. Sebab lemak di virus akan hancur dengan pemakaian detergen. Bukan tidak mungkin kebiasaan cuci tangan ini juga menghindarkan kita dari banyak penyakit.
Dengan adanya anjuran tersebut maka segala macam acara yang berpotensi mendatangkan orang banyak akan dilarang penyelenggaraannya. Termasuk dalam hal ini adalah Kebaktian di gereja-gereja. Tentu gereja-gereja melakukan Live Streaming dengan menggunakan bantuan Youtube.  Jadi untuk hal ini ada dua macam, yang bener bener Live streaming real time. Artinya di gereja yang bersangkutan tetap berlangsung ibadah, hanya tanpa pengunjung/umat yang berbakti.    Kemudian jenis satunya adalah menyiarkan rekaman hasil kebaktian. Jadi para pendukung kebaktian sudah merekamnya terlebih dahulu, baru kemudian pada saat hari Minggu diputarkan tepat seperti jam kebaktian biasa.

       Adanya kebaktian dengan Live Streaming ini tentu membawa pro dan kontra dalam menjalankannya.  Ada yang tidak setuju karena persekutuan itu bermakna pertemuan secara fisik.  Ada yang setuju karena konsep bersekutu dengan Allah adalah di dalam roh dan kebenaran, jadi tidak terikat secara fisik harus hadir di gedung gereja. Tentu dengan catatan hal ini bisa dilakukan didalam kondisi tertentu seperti saat adanya wabah yang menular.

       Selain kebaktian yang disiarkan secara Live Streaming maka ada acara acara lain semacam persekutuan doa, pemahaman Alkitab juga dilakukan dengan memanfaatkan media media digital. Misalnya saja di GKI Ngupasan membagikan perenungan berupa Sapaan Pendeta setiap pagi, hal ini bertujuan sebagai bentuk sapaan Tuhan kepada umatNya melalui Sabda singkat yang diberikan oleh para pendeta.  Sapaan Pendeta ini diharapkan memberikan kekuatan bagi umat yang sedang stay at home, tentu mereka sangat merasa dikuatkan saat pandemi ini mendapat peneguhan peneguhan dari gembalanya.

       Berikut saya sertakan contoh tampilan Youtube yang dipergunakan GKI Ngupasan untuk meyapa baik umat secara umum maupun anak anak sekolah minggu.

BEGITU DEKAT, BEGITU NYATA


Markus 5:21-43

Entah kebetulan atau tidak dua kejadian ini disajikan didalam sebuah perikop yang sama? Kejadian perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun dan peristiwa anak yairus yang sakit keras.  Keduanya diungkapkan bersama – sama dalam satu perikop karena mempunyai tujuan yang hendak disampaikan oleh Yesus kepada kita semua.
Beberapa hal menarik tentang keduanya :
  •  Keduanya berkisah tentang orang yang sakit, yang satu adalah wanita yang sakit pendarahan dan yang lainnya adalah anak perempuan dari Yairus seorang kepala rumah ibadat.
  • Si perempuan yang sakit pendarahan datang sendiri di dekat Yesus, sedangkan anak perempuan Yairus tidak datang secara langsung, tetapi hanya Yairus ayahnya yang datang memohon kesembuhan kepada Yesus.
  • Perempuan itu sudah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah menghabiskan harta si perempuan itu untuk mencari kesembuhannya. Yairus rupanya langsung mencari Yesus untuk meminta kesembuah anaknya, ia bukan mendatangi tabib atau penyembuh lainnya terlebih dahulu.
  • Baik perempuan yang sakit pendarahan itu disembuhkan oleh Yesus, demikian pula anak yairus yang sakit bahkan dikatakan sudah mati.
  • Baik perempuan maupun Yairus masing-masing mengemukakan pernyataan iman yang begitu detil. Si perempuan yang sakit pendarahan menyatakan (ayat 18 )“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Sedangkan Yairus demikian juga, ia mengatakan ( ayat 23 b ) :”letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup”
  •  Uniknya untuk memperoleh kesembuhan mereka, Yesus melakukan/mengijinkan mereka masing-masing melakukan/mengalami seperti yang mereka imani: Perempuan yang sakit pendarahan itu ( ayat 33b ) dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Ia mengakui dengan jujur bahwa telah menyentuh jubah Yesus. Demikian juga dengan anak Yairus yang sakit disembuhkan oleh Yesus dengan jalan ( ayat 41 ) Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya:”Talita kum,” yang berarti “hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah”

Sungguh luar biasa proses kesembuhan yang diterima olEh masing-masing orang. Saya yakin bahwa apa yang hendak dikatakan Yesus kepada kita adalah soal bagaimana seseorang sampai pada sebuah pernyataan iman yang begitu nyata. Bagaimana si perempuan yang sakit begitu yakin bahwa dengan menyentuh jubah-Nya ia akan sembuh, padahal ia belum pernah melakukannya. Darimana timbul keyakinannya yang begitu besar? Bagaimana pula Yairus yang sampai pada sebuah kalimat “letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat…” darimana semuanya itu padahal Yairus belum pernah mengalaminya sebelumya?

Inilah yang menjadi sangat penting kita perhatikan, Yesus tidak mempersoalkan apakah Ia ditemui lebih dahulu atau ditemui kemudian. Penekanannya adalah pada statement iman yang begitu jernih oleh masing-masing orang.

Apakah kita sudah sampai pada ungkapan iman yang jernih dan begitu nyata dalam hidup kita? 

Apakah keimanan kita masih samr-samar dan belum nyata sebagaimana mereka berdua?

Marilah kita semakin dekat dan bertumbuh kearah Kristus agar iman kita semakin nyata didalam-Nya