Tampilkan postingan dengan label pecinta buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pecinta buku. Tampilkan semua postingan

Apakah masih suka membaca?

Menulis blog itu selain mengasah kita berpikir dan mengungkapkan ide melalui tulisan, ternyata bisa juga dijadikan sebagai sarana melepas stress.  Terlepas dari itu semua apakah kita msih suka membaca?  kebiasaan membaca ini jarang dimiliki oleh orang Indonesia. Menurut UNESCO tahun 2023 pernah mengatakan bahwa "minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan yakni hanya 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca."

Apalagi tawaran-tawaran diluar membaca sekarang semakin banyak, seperti misalnya bermain game, melihat video online, mendengarkan musik online, traveling dan sebagainya. Semua nya itu tidak salah dan baik-baik saja sepanjang dilakukan dengan seimbang.  Tetapi melihat fakta bahwa anak bangsa ini hanya 1 orang yang suka membaca diantara 1000 orang, sungguh menyedihkan dan memprihatinkan.  Bagaimana kiranya hal itu dapat menyongsong Indonesia Emas yang digembar-gemborkan tahun 2045 mendatang?  Apakah itu bukan mimpi saja? Apalagi akhir-akhir ini Harian Kompas merilis berita dimana banyak orang-orang pandai yang pernah mengikuti Olimpiade Sains banyak tinggal/pindah ke Singapura yang menawarkan fasilitas lebih baik bagi mereka. Apakah tidak semakin miris keadaannya?

Apa yang bisa kita lakukan saat ini? Apakah menimbulkan minat baca bagi anak anak remaja masih bisa dilakukan? Saya sendiri menggemari membaca semenjak masih kecil.  Saya tidak tahu apakah itu terjadi karena ibu saya seorang guru, entahlah?  tetapi seingat saya, ibu selalu mendampingi saya menghadapi buku-buku berlatih membaca yang sederhana. Sesederhana menulis huruf A, B, C dan angka-angka.  Sesederhana mengeja suku-suku kata dan sebagainya.

Apalagi jika melihat realitas dihadapan kita tentang rumah tangga baru yang kedua orang tuanya bekerja diluar seharian, bagaimana mereka mampu mendampingi anak-anak mereka bahkan sekedar membaca bersama?  Semoga ini bisa menyadarkan kita semua, terutama bagi mereka yang belum menikah.

Sampai sekarang kegemaran membaca saya tak pernah pudar. Ini sebuah kenyataan yang saya alami sendiri, sehingga saya mampu menceritakan kepada generasi di bawah saya. Perlu diketahui bahwa saya generasi X kelahiran tahun 67.

Semoga bermanfaat

Lebih suka yang mana, e-book atau buku konvensional?


Kebetulan saya senang membaca sejak dari kecil. Memang pada usia 5 tahun saya membaca lancar surat kabar meskipun pemahaman maknanya tidak sampai.  Saya membaca papan papan reklame, waktu saya kecil reklame Rinso sudah ada dan saya senang sekali membaca tulisan Rinso berwarna kuning diatas kardus berdasar warna hijau tua.

Sampai sekarang pun saya suka membaca, memang perkembangan hal-hal yang disukai sangat bervariatif. Ada kalanya saya menyukai buku buku pengembangan diri, kali lain saya menyukai buku-buku spiritualitas, saya juga membaca beberapa novel khusus yang ini saya tidak terlalu banyak koleksi.  Saya suka membaca buku buku tentang pemasaran, biografi tokoh tokoh terkenal, buku buku motivasi dan psikologi juga saya senangi

Tetapi semenjak berkembang internet maka ada banyak buku yang diterbitkan secara elektronik. Pandangan saya sebagai penggemar buku sangat positif sih tetapi ada beberapa hal yang membuat saya masih enggan move on dari buku konvensional yang dicetak di atas kertas.

Yang pertama adalah soal kebiasaan saya menggaris garis hal-hal penting, pemahaman baru yang saya terima dari buku tersebut, catatan-catatan kecil untuk menghubungkan dengan hal lain. Sekalipun ini bisa dilakukan juga di dalam buku elektronik tetapi saya masih belum nyaman melakukannya. Seperti tidak sebebas melakukan coret mencoret di buku konvensional. Atau barangkali karena saya seorang generasi X yang digital migran?

Hal kedua adalah, menurut saya membaca buku itu adalah sebuah ungkapan emosional yang didorong dengan keingintahuan yang besar sehingga memandang buku tersebut akan memberitahu apa yang kita perlukan. Dia bukan lagi benda mati tetapi menjadi “hidup” karena bersahabat dengan pikiran kita. Persahabatan itu tidak menarik ketika kita tidak bisa mengungkapkan “kasih” kita dengan jalan memberinya cover dari mika bening, menyentuh hard covernya, menyentuh permukaan cover yang kadang dicetak dengan huruf atau gambar timbul, meraba halaman-halaman nya, menggenggamnya erat ketika kita sedang membawanya seolah sebuah benda yang sangat berharga, memberinya selipan atau bookmark yang menarik di saat kita belum selesai membaca nya hingga tuntas, kadang mencium aroma tinta cetak nya yang khas/bau kertasnya.  Barangkali hal-hal yang saya ungkapkan begitu aneh, tetapi bisa jadi ada yang punya pemahaman seperti saya.

Hal ketiga adalah sebuah kebanggaan ketika kita memajang buku di rak buku, dengan melihat sepintas judul yang tercetak di punggungnya maka kita akan teringat pada isi buku tersebut. Sangat memotivasi secara visual.

Namun jika dengan buku elektronik maka hal hal yang bersifat fisik seperti meraba, menggenggam, membuka halaman dsb tidak bisa kita rasakan. Tidak ada kesan emosional saat kita hendak membacanya. Misalnya : kita melihat bookmark masih di posisi sepertiga buka maka memberi dorongan dan semangat kepada kita untuk membaca lebih giat lagi supaya semua bisa terbaca.
Dengan menggunakan buku elektronik kita hanya mengenal menyentuh/menggeser saja. Buku elektronik cocok dibawa untuk menemani sebuah perjalanan panjang. Misalnya saja naik pesawat 2 jam atau lebih, naik kereta api 2 jam lebih. Sebab saat perjalanan jauh kita akan membawa bagasi yang ringkas dan ringan maka buku elektronik sangat cocok dalam hal ini.

Semua ada plus minusnya, tergantung apa tujuan kita.