Tampilkan postingan dengan label Yesus Kristus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus Kristus. Tampilkan semua postingan

PERGUMULAN DALAM DOA (sebuah perenungan pribadi)

Hari Sabtu pagi, 7 Maret 2026, saya mengahdiri Doa Pagi di GKI Ngupasan. Tema yang diangkat adalah tentang pergumulan. Ayat yang dibahas berasal dari Kejadian 32:22-32 yang menceritakan tentang Pergumulan Yakub dengan Allah.  Pembawa renungan adalah Pendeta Shirley Dewi Indrawati.  Tentu makna pergumulan yang diaktualisasi pada masa sekarang dan untuk umat adalah soal pergumulan hidup tentunya yang berkaitan dengan pergumulan doa-doa kita.  Ayat kunci nya ada di Kejadian 32:24 "Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing"

Ayat ini diberi pemaknaan tentang bagaimana kita bergumul bersama Tuhan menghadapi permasalahan kehidupan kita pribadi.  Kita tidak menghadapi masalah seorang diri, sebab di sana ada Tuhan yang "bergumul" bersama kita. Bahkan sampai fajar menyingsing, semalam-malaman Yakub tidak seorang diri tetapi bersama dengan Tuhan.

Dalam menghadapi permasalahan hidup bukankah seringkali kita lebih mengutamakan memakai akal budi kita, tentu ini tidak salah, karena akal budi pun adalah karya besar Allah yang diberikan kepada manusia sehingga ia mampu menyelesaikan berbagai masalah, ia mampu menciptakan berbagai karya yang hebat, penemuan-penemuan yang memberi manfaat bagi sesama dan dunia. Namun diatas itu semua adalah Tuhan yang menciptakan kita. Tentu menemuiNya dalam kesulitan-kesulitan kita adalah hal yang sangat wajar, kita bertemu dengan Sang Kreator itu sendiri.  Saya juga kemudian teringat satu bagian di Perjanjian Baru yang menceritakan bagaimana tentang Doa, yaitu di Matius 6:6 "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" Disini saya melihat kesamaan antara kedua ayat di atas, yaitu saat kita menghadap Tuhan dalam doa pergumulan kita, kita ini tidak sendiri. tetapi bertemu bahkan bergumul dengan Tuhan. Permasalahan-permasalah sulit kadang kita sembunyikan baik-baik, kadang kita tidak mau merepotkan anak, isteri, saudara, orang tua, teman. Hanya kita sendiri yang tahu, inilah saat dimana kita bergumul dalam kondisi paling berat. Tetapi percayalah bahwa Tuhan menolong kita, bahkan di saat kesendirian itu sedang menghampiri kita.   Jangan pernah takut, jangan pernah gentar. Kita memilikki Allah yang hidup dan peduli.

Selamat Pagi, selamat merenungkan firman Tuhan

BEGITU DEKAT, BEGITU NYATA


Markus 5:21-43

Entah kebetulan atau tidak dua kejadian ini disajikan didalam sebuah perikop yang sama? Kejadian perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun dan peristiwa anak yairus yang sakit keras.  Keduanya diungkapkan bersama – sama dalam satu perikop karena mempunyai tujuan yang hendak disampaikan oleh Yesus kepada kita semua.
Beberapa hal menarik tentang keduanya :
  •  Keduanya berkisah tentang orang yang sakit, yang satu adalah wanita yang sakit pendarahan dan yang lainnya adalah anak perempuan dari Yairus seorang kepala rumah ibadat.
  • Si perempuan yang sakit pendarahan datang sendiri di dekat Yesus, sedangkan anak perempuan Yairus tidak datang secara langsung, tetapi hanya Yairus ayahnya yang datang memohon kesembuhan kepada Yesus.
  • Perempuan itu sudah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah menghabiskan harta si perempuan itu untuk mencari kesembuhannya. Yairus rupanya langsung mencari Yesus untuk meminta kesembuah anaknya, ia bukan mendatangi tabib atau penyembuh lainnya terlebih dahulu.
  • Baik perempuan yang sakit pendarahan itu disembuhkan oleh Yesus, demikian pula anak yairus yang sakit bahkan dikatakan sudah mati.
  • Baik perempuan maupun Yairus masing-masing mengemukakan pernyataan iman yang begitu detil. Si perempuan yang sakit pendarahan menyatakan (ayat 18 )“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Sedangkan Yairus demikian juga, ia mengatakan ( ayat 23 b ) :”letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup”
  •  Uniknya untuk memperoleh kesembuhan mereka, Yesus melakukan/mengijinkan mereka masing-masing melakukan/mengalami seperti yang mereka imani: Perempuan yang sakit pendarahan itu ( ayat 33b ) dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Ia mengakui dengan jujur bahwa telah menyentuh jubah Yesus. Demikian juga dengan anak Yairus yang sakit disembuhkan oleh Yesus dengan jalan ( ayat 41 ) Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya:”Talita kum,” yang berarti “hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah”

Sungguh luar biasa proses kesembuhan yang diterima olEh masing-masing orang. Saya yakin bahwa apa yang hendak dikatakan Yesus kepada kita adalah soal bagaimana seseorang sampai pada sebuah pernyataan iman yang begitu nyata. Bagaimana si perempuan yang sakit begitu yakin bahwa dengan menyentuh jubah-Nya ia akan sembuh, padahal ia belum pernah melakukannya. Darimana timbul keyakinannya yang begitu besar? Bagaimana pula Yairus yang sampai pada sebuah kalimat “letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat…” darimana semuanya itu padahal Yairus belum pernah mengalaminya sebelumya?

Inilah yang menjadi sangat penting kita perhatikan, Yesus tidak mempersoalkan apakah Ia ditemui lebih dahulu atau ditemui kemudian. Penekanannya adalah pada statement iman yang begitu jernih oleh masing-masing orang.

Apakah kita sudah sampai pada ungkapan iman yang jernih dan begitu nyata dalam hidup kita? 

Apakah keimanan kita masih samr-samar dan belum nyata sebagaimana mereka berdua?

Marilah kita semakin dekat dan bertumbuh kearah Kristus agar iman kita semakin nyata didalam-Nya

Dipulihkan dari kebebalan

Mazmur 14


Renungan Mazmur 14

Mazmur ini diawali dengan perkataan atau pendapat orang bebal tentang Allah. Siapa orang bebal itu?  Amsal mengatakan bahwa “Seperti anjing kembali ke muntahannya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya – Amsal 26:11”.  Amsal memberikan gambaran bahwa orang bebal adalah orang yang tidak mendengarkan orang lain, ia berbalik pada sesuatu -pasti yang buruk, digambarkan dengan muntahan- yang seharusnya ia tinggalkan. Bisa perbuatan, sikap, hal-hal yang harus ditinggalkan tetapi justru diulanginya untuk dilakukan kembali.  Lantas bagaimana mungkin seorang bebal punya pendapat tentang Allah yang Maha Agung dan Maha Suci? Sudah barang tentu pendapatnya akan nyinyir. Pemazmur mengatakan bahwa orang bebal perbuatannya busuk dan jijik, tidak ada yang berbuat baik.
Kontras dengan ayat yang pertama dari mazmur ini adalah ayat yang kedua. Seolah Allah ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh si bebal dengan kalimat “Tidak ada Allah”.  Allah memandang ke bawah dari surga, dari tempat kudus-Nya ia memandang ke  bawah untuk memastikan benarkah sudah tidak ada lagi yang berbuat baik? Tetapi perkataan “memandang” itu menyatakan bahwa “Allah ada”, tidak seperti si bebal menyatakan di ayat yang 1.
Ayat ke 3 memberi penekanan lebih kepada ayat 1 dan 2, memberi kesimpulan bahwa memang benar semua telah menyeleweng dan bejat, tidak ada yang berbuat baik seorang pun tidak
Allah tetap optimis bahwa ada angkatan yang benar yang akan disertai-Nya, ayat 5b dengan jelas menyatakan “sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”
Mazmur ini memberikan penghiburan bagi kita di tengah-tengah dunia yang jahat, penuh dengan orang bebal tetapi sekalipun demikian Allah tetap menyertai orang-orang benar. Ada angkatan yang disertai oleh-Nya ditengah tengah kebebalan yang melanda dunia. Harapan selalu diberitakan kepada mereka yang berharap kepada kasih-Nya. “Apabila TUHAN memulihkan keadaan umat-Nya, maka Yakub akan bersorak-sorak, Israel akan bersukacita” Kata kuncinya adalah pemulihan yang dilakukan Allah terhadap umatnya.
Apakah kita juga menghendaki pemulihan oleh Allah, jauh dari kebebalan, jauh dari kejahatan. Kiranya ini mengingatkan semua akan Kasih Tuhan Yesus Kristus yang datang untuk keselamatan seluruh dunia.

Selamat merenung