Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

BELAJAR KETRAMPILAN BARU hanya 20 JAM SAJA?

 

JOSH KAUFMAN

Belakangan rame di media sosial buku tulisan Josh Kaufman yang berjudul "The First 20 hours: How to learn anything Fast". Konon buku ini mengupas trik bagaimana belajar segala sesuatu hanya dalam waktu 20 jam saja, tidak perlu sampai ribuan jam.  Mari kita kupas ringkasannya yaa... supaya para pembaca punya kerangka berpikir sebelum bener-bener membaca bukunya. Inilah hidangan pembuka yang memberi hasrat untuk makan, makanan utamanya.

Buku ini menjelaskan bagaimana kita bisa mempelajari keterampilan baru dengan cepat, terutama di 20 jam pertama proses belajar. Kaufman menekankan bahwa kita tidak perlu menjadi ahli (expert), tetapi cukup untuk menjadi good enough dalam waktu relatif singkat jika menggunakan strategi belajar yang tepat.

5 Prinsip

Josh Kaufman menawarkan lima langkah inti untuk belajar keterampilan baru secara efektif:

  1. Pilih keterampilan yang ingin dipelajari
    Fokus pada satu keterampilan yang benar-benar penting atau menarik.

  2. Uraikan keterampilan menjadi bagian-bagian kecil
    Pecah keterampilan menjadi sub-keterampilan. Fokus pada bagian yang paling berdampak besar terlebih dahulu.

  3. Hilangkan hambatan yang mengganggu latihan
    Kurangi distraksi, atur lingkungan agar mendukung fokus, dan hilangkan rasa takut salah.

  4. Belajar cukup untuk bisa berlatih sendiri
    Gunakan sumber belajar (buku, kursus, video) secukupnya, jangan sampai terjebak hanya mengumpulkan informasi tanpa praktik.

  5. Berlatih dengan sengaja setidaknya 20 jam
    Latihan harus konsisten, fokus, dan terarah, bukan sekadar mengulang tanpa tujuan.


10 Prinsip

10 Prinsip Umum Belajar Efektif

Selain lima langkah inti, Kaufman juga menyebutkan 10 prinsip seperti dibawah :

  1.    Fokus pada keterampilan yang benar-benar kamu inginkan.

  2.  Energi dan perhatian harus diarahkan sepenuhnya pada keterampilan itu.

  3.  Tentukan target performa yang jelas (misalnya: bisa main 1 lagu, bisa buat 1 aplikasi sederhana).

  4.  Pecah keterampilan menjadi bagian-bagian kecil.

  5.  Prioritaskan sub-keterampilan yang paling berdampak besar.

  6.  Gunakan alat bantu sederhana untuk mempercepat proses (buku, video, software, mentor).

  7.  Hilangkan hambatan latihan (distraksi, rasa takut, lingkungan yang tidak mendukung).

  8.  Latihan dalam sesi singkat tapi sering (lebih baik 30–90 menit fokus daripada 3 jam asal-asalan).

  9.  Amati umpan balik, koreksi kesalahan, dan ulangi.

  10.  Rayakan kemajuan kecil untuk menjaga motivasi.


Jadi perbedaannya:

  • 5 langkah inti = cara teknis untuk langsung mulai berlatih.

  • 10 prinsip umum = fondasi mental & strategi agar proses 5 langkah inti tidak gagal di tengah jalan.

Jadi kesimpulan ringkasnya begini :

  • Untuk bisa cukup terampil dalam sesuatu, kita tidak butuh 10.000 jam (seperti mitos populer), tapi cukup dengan 20 jam latihan fokus.
  • Kunci keberhasilan terletak pada pemilihan keterampilan, pemecahan jadi bagian kecil, konsistensi latihan, dan mengatasi hambatan mental maupun lingkungan.
Semoga pembaca tertarik membaca keseluruhan buku ini.  Sudah ada dalam bahasa Indonesianya kok. Silakan cari di marketplace.  Mantap boss... selamat membaca

BANGSA KITA TIDAK SUKA MEMBACA?

Lebih suka gawai

 Coba saja tanyakan kepada teman Anda, buku atau bacaan apa yang sedang mereka baca dalam satu minggu atau satu bulan ini? Tentu jawabannya bisa beragam, tetapi saya menduga banyak yang menjawab "Saya tidak membaca apa-apa, karena melihat youtube labih menarik dibandingkan membaca buku".  Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menyenangi sesuatu, termasuk membaca. Sebab otak kita hanya menyenangi sesuatu hal yang ingin ia senangi. Jadi memang sulit membangkitkan membaca pada orang yang pada dasarnya tidak suka membaca.

Meskipun secara statistik negeri ini mengalami pertumbuhan dalam hal minat baca pada tahun 2024 namun itu pun masih tergolong sedang, belum bisa masuk pada kategori tinggi. Tidak mengapa, sepanjang memang ada trend kenaikan. Mari kita lihat data nya 

Statistik TGM ( Tingkat Kegemaran membaca ) Nasional (Tahun 2021–2024)

  • 2021: Skor TGM sebesar 59,52 (kategori sedang) 

  • 2022: Meningkat menjadi 63,90 (kategori tinggi)

  • 2023: Terus naik menjadi 66,77 (kategori tinggi)

  • 2024: Skor terbaru menunjukkan 72,44, tetapi meski lebih tinggi, masih masuk dalam kategori sedang (rentang skor 50,1–75)

Tren ini menunjukkan adanya peningkatan konsisten dalam minat baca masyarakat

Ada tambahan data dari UNESCO yang demikian :

Angka dari UNESCO menggambarkan gambaran historis terkait budaya membaca—dengan tingkat yang sangat rendah—sedangkan data BPS dan TGM Perpusnas menunjukkan tren perbaikan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Lalu apa sebenarnya kesulitan yang dihadapi dari orang orang yang tidak suka membaca padahal ketersediaan buku bacaan sudah semakin mudah dari tahun ke tahun. Dimana membaca sudah tidak lagi harus membeli buku karena adanya kemudahan-kemudahan sebagai berikut:

  • Digitalisasi: Saat ini ada banyak aplikasi baca (Gramedia Digital, iPusnas, Google Books), plus ebook gratis dari pemerintah.

  • Perpustakaan: Jumlah perpustakaan meningkat, bahkan di desa (Perpusdes, Taman Bacaan Masyarakat).

  • Buku Murah: Buku bajakan (meski ilegal) membuat bacaan jadi lebih murah.

👉 Artinya, secara fisik maupun digital, bahan bacaan jauh lebih mudah diakses daripada 10–20 tahun lalu.

Dari seluruh propinsi di Indonesia ternyata Yogyakarta punya angka yang cukup tinggi dalam hal minat baca yaitu 73,27 pada tahun 2023. Itupun saya duga didominasi oleh para mahasiswa yang belajar di Yogyakarta dan mungkin bisa jadi bukan penduduk asli Yogyakarta hahaha...

Ada beberapa faktor yang layak dipertimbangkan sehingga membuat minat baca rendah, antara lain :

  1. Budaya & Kebiasaan

    • Membaca belum jadi tradisi keluarga maupun komunitas.

    • Anak lebih sering dikenalkan pada gawai hiburan (YouTube, TikTok, game) dibanding buku.

  2. Motivasi & Relevansi

    • Banyak orang merasa membaca buku tidak praktis dibanding menonton video atau mendengar podcast.

    • Materi bacaan kadang tidak sesuai kebutuhan (misalnya terlalu akademis).

  3. Keterampilan Literasi

    • Hasil PISA 2022: Indonesia peringkat 62 dari 81 negara dalam literasi membaca. Artinya, kemampuan memahami bacaan rendah.

    • Jika membaca terasa sulit, maka akses buku sekalipun tidak cukup menarik.

  4. Ekonomi & Sosial

    • Harga buku relatif mahal dibanding daya beli sebagian besar masyarakat.

    • Waktu luang untuk membaca juga terbatas (lebih banyak digunakan untuk bekerja atau aktivitas produktif).

Ada tips kecil yang bisa dipakai sehingga minat baca meningkat, tetapi tidak serta merta dapat terjadi dalam 1 atau 2 tahun sebab ini menyangkut proses:

Biasakanlah membaca sejak kecil, ini juga meminta kesediaan dan kesadaran orang tua agar menyediakan buku buku bacaan berkaualitas. Buku bacaan sederhana yang penuh gambar dan berwarna seringkali menjadi awal yang menimbulkan kecintaan anak pada bacaan. Saya mengalaminya sendiri.

Pilihlah bacaan yang relevan dan menarik. Untuk anak-anak berikan buku buku sederhana mengenal hewan, tumbuhan, macam-macam warna, macam macam huruf, kisah kisah fabel dan sebagainya. Bagi orang dewasa sesuaikan dengan bidang pekerjaan atau minat Anda. Sehingga memperluas wawasan.

Jadikan membaca aktivitas sosial—diskusi buku, book club, atau konten review di media sosial. Bacalah kemudia buatlah ringkasan bacaan nya dan sajikan dalam bentuk konten yang menarik di media-media sosial. Bisa jadi sebagai alternatif tambahan penghasilan dengan menjadi konten kreator yang menjual buku sebagai afiliate.

Semoga tulisan ini memberi sedikit pencerahan kepada pembaca tentang pentingnya literasi

Apakah masih suka membaca?

Menulis blog itu selain mengasah kita berpikir dan mengungkapkan ide melalui tulisan, ternyata bisa juga dijadikan sebagai sarana melepas stress.  Terlepas dari itu semua apakah kita msih suka membaca?  kebiasaan membaca ini jarang dimiliki oleh orang Indonesia. Menurut UNESCO tahun 2023 pernah mengatakan bahwa "minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan yakni hanya 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca."

Apalagi tawaran-tawaran diluar membaca sekarang semakin banyak, seperti misalnya bermain game, melihat video online, mendengarkan musik online, traveling dan sebagainya. Semua nya itu tidak salah dan baik-baik saja sepanjang dilakukan dengan seimbang.  Tetapi melihat fakta bahwa anak bangsa ini hanya 1 orang yang suka membaca diantara 1000 orang, sungguh menyedihkan dan memprihatinkan.  Bagaimana kiranya hal itu dapat menyongsong Indonesia Emas yang digembar-gemborkan tahun 2045 mendatang?  Apakah itu bukan mimpi saja? Apalagi akhir-akhir ini Harian Kompas merilis berita dimana banyak orang-orang pandai yang pernah mengikuti Olimpiade Sains banyak tinggal/pindah ke Singapura yang menawarkan fasilitas lebih baik bagi mereka. Apakah tidak semakin miris keadaannya?

Apa yang bisa kita lakukan saat ini? Apakah menimbulkan minat baca bagi anak anak remaja masih bisa dilakukan? Saya sendiri menggemari membaca semenjak masih kecil.  Saya tidak tahu apakah itu terjadi karena ibu saya seorang guru, entahlah?  tetapi seingat saya, ibu selalu mendampingi saya menghadapi buku-buku berlatih membaca yang sederhana. Sesederhana menulis huruf A, B, C dan angka-angka.  Sesederhana mengeja suku-suku kata dan sebagainya.

Apalagi jika melihat realitas dihadapan kita tentang rumah tangga baru yang kedua orang tuanya bekerja diluar seharian, bagaimana mereka mampu mendampingi anak-anak mereka bahkan sekedar membaca bersama?  Semoga ini bisa menyadarkan kita semua, terutama bagi mereka yang belum menikah.

Sampai sekarang kegemaran membaca saya tak pernah pudar. Ini sebuah kenyataan yang saya alami sendiri, sehingga saya mampu menceritakan kepada generasi di bawah saya. Perlu diketahui bahwa saya generasi X kelahiran tahun 67.

Semoga bermanfaat

Lebih suka yang mana, e-book atau buku konvensional?


Kebetulan saya senang membaca sejak dari kecil. Memang pada usia 5 tahun saya membaca lancar surat kabar meskipun pemahaman maknanya tidak sampai.  Saya membaca papan papan reklame, waktu saya kecil reklame Rinso sudah ada dan saya senang sekali membaca tulisan Rinso berwarna kuning diatas kardus berdasar warna hijau tua.

Sampai sekarang pun saya suka membaca, memang perkembangan hal-hal yang disukai sangat bervariatif. Ada kalanya saya menyukai buku buku pengembangan diri, kali lain saya menyukai buku-buku spiritualitas, saya juga membaca beberapa novel khusus yang ini saya tidak terlalu banyak koleksi.  Saya suka membaca buku buku tentang pemasaran, biografi tokoh tokoh terkenal, buku buku motivasi dan psikologi juga saya senangi

Tetapi semenjak berkembang internet maka ada banyak buku yang diterbitkan secara elektronik. Pandangan saya sebagai penggemar buku sangat positif sih tetapi ada beberapa hal yang membuat saya masih enggan move on dari buku konvensional yang dicetak di atas kertas.

Yang pertama adalah soal kebiasaan saya menggaris garis hal-hal penting, pemahaman baru yang saya terima dari buku tersebut, catatan-catatan kecil untuk menghubungkan dengan hal lain. Sekalipun ini bisa dilakukan juga di dalam buku elektronik tetapi saya masih belum nyaman melakukannya. Seperti tidak sebebas melakukan coret mencoret di buku konvensional. Atau barangkali karena saya seorang generasi X yang digital migran?

Hal kedua adalah, menurut saya membaca buku itu adalah sebuah ungkapan emosional yang didorong dengan keingintahuan yang besar sehingga memandang buku tersebut akan memberitahu apa yang kita perlukan. Dia bukan lagi benda mati tetapi menjadi “hidup” karena bersahabat dengan pikiran kita. Persahabatan itu tidak menarik ketika kita tidak bisa mengungkapkan “kasih” kita dengan jalan memberinya cover dari mika bening, menyentuh hard covernya, menyentuh permukaan cover yang kadang dicetak dengan huruf atau gambar timbul, meraba halaman-halaman nya, menggenggamnya erat ketika kita sedang membawanya seolah sebuah benda yang sangat berharga, memberinya selipan atau bookmark yang menarik di saat kita belum selesai membaca nya hingga tuntas, kadang mencium aroma tinta cetak nya yang khas/bau kertasnya.  Barangkali hal-hal yang saya ungkapkan begitu aneh, tetapi bisa jadi ada yang punya pemahaman seperti saya.

Hal ketiga adalah sebuah kebanggaan ketika kita memajang buku di rak buku, dengan melihat sepintas judul yang tercetak di punggungnya maka kita akan teringat pada isi buku tersebut. Sangat memotivasi secara visual.

Namun jika dengan buku elektronik maka hal hal yang bersifat fisik seperti meraba, menggenggam, membuka halaman dsb tidak bisa kita rasakan. Tidak ada kesan emosional saat kita hendak membacanya. Misalnya : kita melihat bookmark masih di posisi sepertiga buka maka memberi dorongan dan semangat kepada kita untuk membaca lebih giat lagi supaya semua bisa terbaca.
Dengan menggunakan buku elektronik kita hanya mengenal menyentuh/menggeser saja. Buku elektronik cocok dibawa untuk menemani sebuah perjalanan panjang. Misalnya saja naik pesawat 2 jam atau lebih, naik kereta api 2 jam lebih. Sebab saat perjalanan jauh kita akan membawa bagasi yang ringkas dan ringan maka buku elektronik sangat cocok dalam hal ini.

Semua ada plus minusnya, tergantung apa tujuan kita.