Sebagai penganut Protestan saya belum terlalu "lama" mengenal ibadah rabu Abu yang diselenggarakan di gereja kristen, gereja saya adalah aliran Presbyterian ( GKI ). Apalagi ada acara penorehan simbol abu di dahi. Saya seringkali hanya melihat orang-orang pada flexing di media sosial dengan dahinya yang sudah tertoreh abu dalam bentuk lambang salib. Dalam hati, saya bertanya apakah simbol rabu abu ini hanya sekedar sarana pamer rohani atau memang ada maknanya. Namun saya melihat bahwa dalam agama katolik rabu Abu sudah dilakukan lama sekali di gereja pada saat memasuki awal Paskah. Tetapi di gereja-gereja Protestan tidak serta merta melakukannya. Kalau saya tidak salah lihat, gereja-gereja Pantekosta kebanyakan tidak melakukan ibadah rabu abu ini ( maaf kalau saya salah mengatakannya ).
Ada beberapa poin penting sehubungan dengan Rabu Abu
- Abu melambangkan pertobatan dan kefanaan manusia. Kita bisa merujuk pada Kejadian 3:19 "Engkau debu dan akan kembali menjadi debu"
- Abu biasanya dibuat dari daun palma Minggu Palma tahun sebelumnya ( tradisi Katolik )
- Tradisi ini mengawali masa Prapaskah selama 40 hari menuju Paskah.
- Selama berabad-abad tradisi ini menjadi bagian liturgi Gereja Katolik dan juga Anglikan serta Lutheran tertentu.
- Pada masa reformasi abad ke-16 tokoh gereja seperti Martin Luther dan John calvin tidak sepenuhnya menolak kalender gerejawi.
- Namun banyak gereja Protestan kemudian menjauh dari ritual yang dianggap "terlalu katolik" atau yang secara eksplisit tidak diperintahkan Alkitab.
- Akibatnya, Rabu Abu tidak menjadi praktik umum di gereja-gereja Reformasi, terutama di tradisi Reformed dan Evangelikal
- Sementara yang masih mempertahankan kalender liturgi adalah gereja Anglican dan Lutheran
- Peningkatan secara signifikan terjadi sekitar tahun 1970-1990, abad ke-20 akhir
- Faktor pendorongnya adalah Gerakan Liturgical Renewal. Banyak gereja Protestan mulai menemukan kembali praktik gereja mula-mula.
- Gerakan ekumenis. Setelah Konsili vatikan II (1962-1965) relasi Katolik-Protestan membaik dan dialog teologis meningkat.
- Kebutuhan spiritualitas yang lebih simbolik. Banyak jemaat gereja Protestan modern merasa bahwa ibadah mereka terlalu kognitif dan merindukan simbol pertobatan yang lebih konkrit.
- Bahwa abu bukanlah sakramen
- Penorehan abu tidak dianggap memberi "rahmat khusus"
- Abu hanyalah simbol pertobatan dan pengingat kefanaan