LARI ALA ORANG LANJUT USIA

Usia saya tahun ini 2026 adalah 59 tahun. Sebagai seorang lanjut usia maka tentu diperlukan olah raga yang bisa memenuhi kesehatan dan kebutuhan gerak bagi tubuh. Tentu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.  Tinggi badan saya 167 cm dan berat badan 66 kilogram.  Sementara ini saya berolahraga yang sederhana yaitu slow Jogging.  Penemuan olahraga ini tentu bukan melalui cara yang mudah, tetapi melalui serangkaian percobaan sehingga bisa mengetahui komposisi pergerakan mana yang sesuai.  Saya menyukai olah raga lari semenjak dari muda, seusia ketika masih Sekolah Menengah. 

Jadi saya dulu pertama hanya berjalan saja, dengan pace bener-bener lambat yaitu pace 11 kadang juga pace 10.  Lalu saya terusik juga ketika melihat orang banyak mulai berlari juga, lalu saya coba perlahan-lahan untuk mulai berlari secara perlahan lahan. Sebab saya sudah lama tidak berlari, tentu tidak bisa serta merta langsung berlari mengingat usia saya sudah lebih dari 50 tahun.  Saya mulai berlari mulai 10 meter, kombinasi dengan berjalan lagi, lalu berlari lagi demikian.  kemudian ditambah lagi jaraknya sampai akhirnya bisa lebih jauh. 

Tetapi pada akhirnya saya menemukan komposisi yang demikian: 1 km pertama: jalan cepat, 1 km kedua: slow jogging. 2 km terakhir kembali jalan cepat. Total jarak adalah 4 kilometer.  Saya melakukannya 2 hari sekali.  Ternyata dengan komposisi semacam ini saya menemukan kebugaran tersendiri.  

Sesungguhnya kita harus kreatif dalam mengelola tubuh ini. Selain memang juga untuk menjaga agar olahraga itu tidak membosankan. Dan jangan lupa membawa memakai smartwatch agar bisa membantu kita menyesuaikan, terutama untuk olahraga lari kita bisa memantau Heart Rate kita dan memantau jarak yang sudah kita tempuh.

Demikian sedikit sharing, semoga bermanfaat bagi yang memerlukan.

KESADARAN, apakah sebenarnya itu?

 


Kata Kesadaran jika tidak direnungkan mendalam maka hanya menjadi kata seperti kata-kata lainnya di dalam perbendaharaan kita manusia. Namun bila kita mempertanyakannya secara mendalam, maka kata Kesadaran ini penuh dengan misteri.

    Mengapa kata kesadaran ini penuh misteri, karena di dalam kesadaran kita sebagai manusia mampu berpikir dan bertindak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Seolah-olah bahwa kehidupan kita dikendalikan oleh kesadaran itu sendiri. Sementara "ketidaksadaran" membuat kita tidak mampu mengendalikan diri kita/ bahkan orang lain dengan baik.  Sebagai contoh ketika manusia sedang tidur, kesadaran ini seolah-olah hilang. Sehingga kita pun tidak mampu menggerakkan tubuh kita, anggota-anggota badan kita.  Meskipun saat bermimpi kita masih mengingat apa yang kita impikan -berarti kesadaran masih bekerja, sekalipun dalam mimpi. 

    Tetapi bagaimana saat orang sedang dibius total seperti ketika menjalani operasi? Apakah kesadaran itu masih ada? Sementara Jantung, sistem pencernaan, otak masih bekerja dengan baik tetapi dalam hal ini kesadaran -atau ingatan/memor, dalam kasus ini- tidak bekerja secara sempurna.   Dalam mimpi kita masih mengingat mimpi kita. Tetapi dibawah pengaruh obat bius, daya ingat kita tidak berfungsi.  Seperti ada jeda tak tercatat saat kita berada di bawah pengaruh bius total.  Saya pernah operasi tulang selangka patah, dibius total.  Ingatan saya hanya mencatat saat bius di ambang bekerja, lalu ..... lapse hilang, dan tiba-tiba saya mendengar dokter membangunkan saya, kemudian saya tersadar kembali.  Yang terlelap di meja operasi tidak pernah saya ingat, sebab tidak ada catatan yang tertinggal. 

    Kemarin malam saya mendengarkan seorang wanita teman isteri saya menceritakan pengalamannya yang ia sebut sebagai mati suri. Kejadiannya adalah saat dia dioperasi untuk kuret karena keguguran bayinya.  Dia merasa seperti ( dalam penglihatannya ) keluar dari tubuhnya lalu dibawa oleh sesuatu ( mungkin disebut sebagai malaikat), ke tempat yang terus meninggi dan bermandikan cahaya terang nan menenteramkan.  Dan dia bertemu sosok berjubah putih yang kemudian menyurhnya kembali.  Sehingga kemudian ia tersadar.  Apapun namanya itu  apakah pengalaman di dekat kematian ( Near death experience ) atau mati suri, saya tidak terlalu paham.  Atau itu memori-memori dalam pikiran yang bekerja karena bius yang terlalu "banyak" diberikan sehingga berakibat demikian pada otak? Ataukah itu benar-benar mati ( artinya mati batang otak, henti jantung dsb ), saya juga tidak tahu.  tetapi mengapa dalam hal ini kesadaran dan memorinya bisa bekerja?  Terbukti dia bisa menceritakan dengan gamblang peristiwa yang dialaminya.  Sampai-sampai dia berkesimpulan "tidak usah takut dengan kematian" karena Yesus sudah menyambut kita di surga, dia seorang yang beragama Kristen.

    Gambaran-gambaran persitiwa yang dialami oleh beberapa orang selalu membuat saya bertanya-tanya tentang kesadaran itu sendiri.  Pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah kesadaran saat kita meninggal dunia.  Sementara memori-memori peristiwa tercatat di dalam otak kita. Jika kematian dialami oleh orang, maka otak juga akan mati sebagaimana organ-organ lain dalam tubuh.  Maka apakah kesadaran itu akan membawa memori atau ingatan manusia yang sudah mati?  Mungkinkah sebenarnya kesadaran adalah jalur mengunggah memori-memori kedalam cloud semesta yang berisi kesadaran semesta yang menyatu dalam sebuah "penyimpan" berkapasitas sangat-sangat besar?  Atau mungkinkah ada organ tersembunya dalam tubuh kita yang akan aktif/hidup di saat otak dan yang lainnya justru mengalami kematian? Organ tersembunyi inilah yang akan membawa kesadaran sekaligus akses menuju kesadaran semesta?

    Ini hanya angat angan dan imajinasi saya sendiri. Karena barangkali sudah ada pengujian atau pengamatan tentang kesadaran ini yang selalu dibahas tiada henti di sepanjang peradaban manusia.


Salam

JALAN KEABADIAN SIAPA?

 Saya pernah punya pengalaman menungguin seseorang yang sedang dalam sakaratul maut sampai menuju kepada kematian.  Setidaknya sebanyak dua kali, yang pertama ibu saya sendiri dan yang kedua adalah kakak ipar saya. Dari pengalaman ini saya sepertinya mengambil kesimpulan bahwa "agama" yang dianutnya beserta dengan ritual/doa-doanya yang akan mengantar almarhum menuju kepada kebadian.  Namun diatas semuanya, bagi orang beriman tentu lebih meyakini bahwa Tuhan yang mereka percaya yang akan menjemput menjelang roh itu terlepas dari wadag nya.

    Jadi begini, saat saya mendampingi almarhumah ibu saya, maka saya mendoakan secara Kristiani sesuai kemampuan saya. Mohon Tuhan menjemput roh ibu saya, demikian saja intinya. Dan sejenak kemudian memang benar-benar terjadi ibu saya wafat.  Kedua adalah kakak ipar saya, kebetulan saat maut hendak menjemput saya dan isteri sempat menemaninya.  Bersama dengan kami ada seorang ibu yang kebetulan pengurus kring (wilayah) yang sama-sama beragama Katolik, dia malam itu juga menunggui kakak ipar saya. Sementara menjelang jam 01,00 beliau hendak pulang ke rumah lalu meninggalkan selembar foto kopian kertas doa secara Katolik. Maaf saya juga tidak hapal doa apa itu, karena saya sendiri Kristen Protestan.  Kemudian saat kakak ipar mulai tersengal-sengal, saya mencoba mendoakan dengan doa secara Kristiani. Tetapi apa yang terjadi? Tidak terjadi sesuatu yang berarti. Namun kemudian setelah dibacakan doa secara Katolik sesuai agama yang dianutnya, berangsur-angsur napasnya terhenti.

    Entahlah dengan dua sampel ini barangkali masih belum bisa diambil sebagai sebuah kesimpulan?  Tetapi bisa jadi begitulah adanya. Hanya oleh iman saja kita mempercayai hal-hal tersebut.

    Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi teman-teman yang sedang (maaf) menjumpai hal-hal semacam itu.


Salam

MENJADI NOMER 1

Bahkan saya tidak terlalu yakin masih ada yang membaca tulisan ini

Hampir keseluruhan orang selalu ingin mengejar untuk menjadi nomer satu dalam berbagai hal. Bagi anak-anak sekolah menjadi juara kelas sepertinya adalah cita cita luhur yang diidamkan setiap anak maupun orang tuanya. Namun soal juara kelas ini barangkali adalah kenangan di masa kecil saya sebagai seorang generasi X. Saya tidak tahu apakah sekolah di zaman sekarang tahun 2026 ini masih ada sistem ranking dalam kelas individu maupun paralel? Saya sudah lama tidak mengikuti perkembangan ini, karena anak saya sudah lulus kuliah,  

Sebagai seorang anak tunggal, saya tidak memiliki saingan di dalam rumah saya semenjak kecil. Bukan karena orang tua saya memanjakan saya, sama sekali tidak. Sebab semua pekerjaan rumah tangga mampu saya kerjakan semasa kecil saya. Keluarga ekcil saya adalah keluarga sederhana yang hidup dari penghasilan ibu saya sebagai penjahit dan ayah saya sebagai sebuah karyawan toko di bilangan solo bagian selatan membuat kami hidup sederhana di sebuah rumah kontrakan. Cita-cita untuk memiliki rumah sendiri barangkali tak pernah hinggap di mimpi kedua orang tua saya yang hanya mengandalkan gaji dan upah jahitan dari orang-orang yang menjahitkan bajunya.

Namun demikian kehidupan sederhana saya di Solo tidak membuat saya sedih ataupun tidak berbahagia, sebagai anak tunggal tentu saya menjalani kehidupan masa kecil sampai masa remaja sebagaimana adanya orang-orang lain, meskipun kedua orang tua saya saya pandang over protektif kepada saya. Namun saya bisa memakluminya dan memandangnya sebagai sebuah kewajaran dari sudut pandang orang tua yang hanya memiliki satu anak saja.  Kelahiran saya pun dianntikan selama 7 tahun oleh orang tua saya, sehingga wajar saja mereka eman terhadap anaknya.  Kegiatan mencuci piring/gelas, menyapu, mengepel, menimba air, mencuci pakaian, memasak nasi sudah sangat-sangat saya pahami segala lekuk likunya. Bahkan menanak nasi di zaman itu belum memakai apa yang namanya Rice Cooker atau sejenisnya yang sekarang begitu canggihnya dengan berbagai mode menanak.  Mulai mencuci beras sampai memasukkannya ke dandang saya cukup fasih melakukannya. Sangat jarang seorang laki-laki mampu melakukan tugas rumah tangga semacam itu. Bahkan saat memasak pun, saya diminta untuk mempersiapkan racikan2 sayur dan bumbu oleh ibu saya. Sebenarnya ini sebuah keuntungan bagi saya, hingga di masa tua ini tidak lagi merasa canggung saat melakukan kegiatan masak-memasak untuk pribadi sendiri.

Jadi sekalipun saya hidup "sendiri" namun banyak hal mampu saya kerjakan tanpa bantuan orang lain.  Sehingga rasa atau semangat bersaing saya begitu rendah. Termasuk di sekolah, saya hanya menjalankan kegiatan belajar yang semestinya. Sehingga prestasi saya pun lumayan sejak di kelas 1 SD sampai SMA. Selalu ada dalam range 5 besar, beberapa kali nomer 1 atau nomer 2. Lumayan lah haha.... Dapet penghargaan ini itu, hadiah ini itu. tetapi semua itu tidak saya dasari karena ingin jadi nomer 1, sebab dirumah saya sudah nomer 1 dan satu satunya....

    Oleh karena latar belakang itulah kehidupan saya selanjutnya ada dalam mode "narimo ing pandum", menerima apa adanya tanpa ingin bersaing. Di satu sisi ini mengandung keburukan yang membuat hidup serasa kurang nendang. Tetapi tentu ada sisi lain yang membuat hidup terasa damai dan minim konflik dalam pikiran. Baru setelah memasuki dunia kerja, saya melihat bahwa pekerjaan sebenarnya penuh dengan semangat persaingan. Sekalipun dalam konteks  budaya di Jawa/ Jogja kita sering melihat persaingan itu dalam wujud yang lebih halus. Bukan mahluk halus ya hahaha....

Besoklah saya lanjut lagi perspektif dan keisengan saya