Tampilkan postingan dengan label hutang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutang. Tampilkan semua postingan

Pernahkah kalian merasakan begitu pas?

 Gimana ya, saya kadang merasa kok ada yang aneh dengan mekanisme kehidupan.  Ini yang beberapa kali saya rasakan.  Seolah seperti semesta ini tahu apa yang orang lain butuhkan.

Ini tentang uang gaes, saya pernah ngalamin ketika memperoleh reeki atawa tambahan penghasilan. Tentu ding saya bersukur Puji Tuhan pemilik semesta.  Sudah mikir sesuatu yang akan saya beli sebagai idaman saya. Eh ada saja orang yang mengajukan pinjaman uang.  Ya kan ya kan, jumlahnya kadang-kadang mendekati jumlah reeki yang saya terima.  Apakah ini sebuah kebetulan semata?. Atau memang sebenernya itu bukan jatah saya tetapi Tuhan melewati tangan saya sekaligus menguji apakah ciptaan-Nya ini setia memperhatikan orang lain?

Saya selalu bercakap-cakap dengan pemilik semesta ini ketika menghadapi hal-hal tersebut. Berkutat dalam tanya jawab internal dalam doa dan dalam diskusi nurani.  Benarkah ini kehendakNya yang dilewatkan melalui tangan saya?

Atau sesungguhnya DIA sedang menguji? Mungkin tidak selalu saya harus menjawab YA untuk sebuah pengajuan permintaan pinjaman jika nantinya justru mencelakakan orang tersebut.  Sebab bisa jadi ada kesalahan orang tersebut yang Tuhan mau menempanya agar mereka tidak mengulanginya lagi. Misalnya jika ternyata seseorang punya kebiasaan ngutang, dan kita termasuk pemberi utang an kepadanya. Ini yang mungkin bisa mengganggu ujian Tuhan?


Bisa jadi.

Catatan untuk pengutang

 Saya menulis ini bukan dalam rangka merendahkan orang yang berhutang. Terminologi berhutang disini adalah berhutang secara pribadi person to person, bukan hutang kepada Bank yaa.  Kenapa demikian? Sebab hutang kepada Bank pertimbangan yang dilakukan oleh Bank sudah sangat teliti, sehingga hanya orang yang layak saja yang diberikan.   Berbeda dengan hutang pribadi, ini yang pertimbangannya hanya hati saja (kadang-kadang) sehingga jika tidak tertagih juga akan makan hati atau kecewa.   Bahkan bisa merusak hubungan persaudaraan atau pertemanan.

Prinsip utama para pengutang yang harus diperhatikan adalah Setiap hutang harus dibayar dengan jumlah sama dan dalam kurun waktu tertentu. Prinsip ini sering dilanggar dan memanfaatkan belas kasihan si pemberi hutang. Ini menjengkelkan sesungguhnya.  Bukankah pemberi hutang juga punya permasalahan sendiri? Bukan menjadi ATM yang setiap saat bisa di tarik uangnya.  Kalau sedang membutuhkan maka akan memasang wajah memelas dan menghiba supaya bisa diberikan pinjaman.  Tapi tahukah hai kalian pemberi hutang, jika para pengutang memasang wajah yang sama pada 5 orang saja maka bisa jadi omsetnya sudah bisa dikalikan 5 bukan.  Kita pemberi hutang tidak tahu lingkaran atau circle mereka, sehingga kita hanya punya gambaran seolah-olah kita sendiri yang memberikan pinjaman. Padahal...... omaigat bisa jadi dia mengcopas nya kepada banyak orang yang berbeda lingkaran/kalangan.  Sehingga tidak bisa saling ngecek. Ini jahatnya para pengutang yang buruk.

Sikap kita kepada mereka yang jenis ginian harus tegas dan tidak mudah emosional memakai hati, karena itu akan menipu perasaanmu sendiri. Karena yang beginian terbukti tidak pernah menyelesaikan pinjamannya dengan baik atau ngemplang.  Sebagai pemberi hutang maka cukup berikan secukupnya dan anggaplah uang hilang.  Supaya kita tidak pernah kecewa dan rusak relasi kita. Kecuali kita memang sudah hendak tidak berhubungan sama sekali dengan mereka, ya blokir lah mereka semua dan damai sejahteralah hidupmu ha ha ha...

Selamat mencoba curhatan saya