Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Hingar bingar

Menjelang pemilihan presiden
lingkungan seakan berwarna
bendera warna-warni
spanduk warna-warni
slogan macam-macam
tetapi sesungguhnya kita enggan berbeda
yang berbeda adalah "musuh"
itulah yang ditanamkan kepada kita

yang berwarna
yang berbeda
sesungguhnya hanya yang nampak di mata
hati kita tertambat pada satu saja

itulah yang nanti terbaca
pada hari yang ditentukan

Teruslah menghina ?


Yang direndahkan tak selalu rendah

Jika kita memperhatikan dua calon Presiden dan wakilnya untuk pemilihan umum tahun 2019, persaingannya benar-benar panas. Namun memang ada salah satu calon yang saya perhatikan lebih suka bersaing dengan cara cara yang konfrontatif, lebih suka diekspose sekalipun kadang-kadang menggunakan cara cara yang tidak elegan. Cara-cara yang merendahkan pihak lain kadang-kadang membuat orang lain menjadi tidak nyaman. Seperti misalnya menyebut tampang Boyolali yang serta merta menuai kritik dari mereka yang lahir di Boyolali. Kemudian wartawan tidak bisa kaya, serta merta membuat wartawan gerah, lalu akhir akhir ini adalah “lulusan SMA paling banter cuma jadi tukang ojek”, yang inipun pasti membuat tukang ojek menjadi bergejolak.

Tetapi diatas semuanya itu marilah saya ajak kita melihat sisi positif dari pernyataan-pernyataan tersebut.  Kita lihat bahwa semua pernyataan merendahkan itu tidak terbukti nyata, hal tersebut nampak dari respon yang begitu santer setelah pernyataan tersebut diluncurkan. Justru terjadi hal hal yang berkebalikan. Bahwa sesungguhnya ada juga tampang Boyolali yang sukses sebagai orang terpandang dan berjabatan, bahwa sesungguhnya ada banyak wartawan yang sukses secara finansial, bahwa sesungguhnya banyak tukang ojek yang menjadi tumpuan hidup keluarganya dan juga sukses, tidak semua tukang ojek hidup sengsara. Bahwa ada dokter yang punya sambilan sebagai tukang ojek itu sungguh sebuah kenyataan yang menohok. Bahwa ada banyak hal positif dimunculkan akibat adanya pernyataan kontroversial tersebut.

So bagaimana? Kalau sudah begini saya bersyukur ada orang yang memancing bawah sadar kita bahwa sebenarnya tak ada yang perlu direndahkan karena sesungguhnya kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.  Bangsa kita bangsa yang beradab dan mulia, tentu tak pantas sesama anak bangsa salin merendahkan. Tetaplah berjuang untuk kemajuan Indonesia.

Terobosan Allah, terobosan Daud

Bahan bacaan : I Tawarikh 14 : 8- 12
Mari kita merenungkan tentang bagaimana Daud mengalahkan Bangsa Filistin.
Diceritakan disana bahwa bangsa Filistin menyerang Daud yang baru saja diurapi Allah untuk memimpin Israel sebagai Raja. Singkat kata Allah memberikan kemenangan buat Daud atas bangsa Filistin. Ada hal-hal menarik disini yang bisa kita pakai sebagai refleksi bersama terutama untuk kita yang bekerja sebagai pemimpin sekaligus pelayan
Saya lantas menghubungkan sedikit dengan jaman pemerintahan sekarang ini. Ketika Presiden itu belum benar benar terpilih dan dilantik sebagai Presiden, maka kekuatan lawan belum benar benar Nampak dan memunculkan diri. Baru setelah seseorang terpilih menjadi presiden maka segera saja kekuatan oposisi yang dengan dalih mengkritisi akan segera muncul. Entah apakah benar benar mengkritisi atau sekedar mengacau atau berpikir untuk menjatuhkannya.

  • ·       Ternyata orang yang diurapi Tuhan tidak lepas dari permasalahan juga. Lihat 14:8 Jangan berpikir bahwa orang yang dekat Tuhan selalu baik-baik saja. Kurang dekat apa Daud dengan Tuhan? Tuhan tidak menjanjikan langit selalu biru namun kasihNya selalu nyata dalam segala keadaan kita
  • ·         Seorang pimpinan harus tajam pendengarannya. Sebab lawan juga mendengar lebih tajam. Lihat 14:8b.  Sesungguhnya bukan kita lalu memasang mata mata kita disetiap sudut kota, namun dengan tetap menjaga relasi intim dengan Tuhan. Kedekatan ini memberi kita kepekaan bukan saja kepakaan terhadap Allah tetapi juga kepekaan terhadap hal hal yang akan membuat kita celaka. Tajam mendengar juga sebagai sarana menyerap aspirasi orang-orang yang kita pimpin. 
  • ·         Seorang pemimpin tidak boleh gentar menghadapi permasalahan. Daud langsung maju menghadapi mereka ( Filistin ). Filistin maju dengan pasukan penuh. Dalam NIV dituliskan bahwa Filistin datang dengan Full Fore, pasukan penuh. Tetapi tak satu langkahpun membuat Daud bergeming
  • ·         Seorang pemimpin harus dekat dengan Tuhan dan bertanya kepadaNya sekalipun dia merasa kekuatannya mampu menghadapi permasalahan tsb. Daud mungkin sudah cukup handal dalam menghadapi musuh karena dia berlatar belakang seorang gembala. Ditambah pengalamannya saat melawan Goliat. Daud tidak lupa memanjatkan doa kepada Tuhan dalam bentuk pertanyaan? “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin?”. Bukan perhitungan teknis diatas kertas yang diajukan Daud kepada Tuhan. Bukan urusan jumlah pasukan yang dipermasalahkan Daud kepada Tuha. Tetapi sebuah pertanyaan mendasar apakah aku harus maju atau tidak. Bagi Daud pertanyaannya itu penting, sekaligus menunggu pernyataan Allah atas pertanyaannya.
  • ·         Seorang pemimpin bertindak dengan cepat segera setelah dia mendengar jawaban Allah. Kecepatan bertindak seringkali diperlukan dalam mengatasi berbagai masalah kepemimpinan. Membiarkan sebuah masalah berlarut larut membuat sebuah kepemimpinan kehilangan momentum untuk menyelesaikannya. Demikian juga dengan Daud, dia memukul kalah Filistin di Baal Perasim. Sungguh kita melihat segala sesuatunya berjalan lancar tanpa hambatan berarti, Daud menyelesaikan perang itu dengan baik. Bahkan dituliskan di ayat 11b bahwa Allah menerobos musuh melalui tangan Daud seperti air yang menerobos ( break out ). Sepertinya kekalahan Filistin sangat telak dan hantaman yang dialaminya sangat keras. Bahwa terobosan yang dilakukan Allah tetap melalui perantaraan Daud sebagai Raja yang sudah diurapi.

Mari kita meneladani Daud sebagai raja yang diurapi Tuhan. Kita minimal menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri, bagi keluarga kita atau mungkin lebih luas lagi dalam pelayanan di Gereja atau ditengah pekerjaan kita




Soekardjo Wilardjito meninggal dunia

Mantan pengawal Presiden Soekarno yang juga saksi penandatanganan SUPERSEMAR, Soekardjo Wilardjito meninggal dunia pada hari Selasa 5 Maret 2013, jam 10.30 WIB, pada usia 86 tahun, di rumah duka Gancahan V Sidomulyo Godean Sleman. Jenazah akan dimakamkan pada hari Rabu 6 Maret 2013 pukul 14.00 ke pemakaman Suruh Gancahan VI Sidomulyo.
 Almarhum menderita sakit lever pada akhir hayatnya, sempat dirawat dirumah sakit 3 hari namun karena livernya tak berfungsi maka dibawa pulang kerumahnya kembali. Yang memprihatinkan hingga akhir hayatnya, SK pensiun almarhum sebagai anggota TNI AD belum juga turun. Putri keenam almarhum, Gadarina mengatakan demikian.
Almarhum tidak bisa berjalan karena pernah disetrum sebanyak 22 kali semasa Orde Baru sehingga sumsum tulang belakangnya kering. Bahkan almarhum dipenjara selama 14 tahun tanpa proses persidangan.
Selama ini, Soekardjo dianggap sebagai seorang tokoh kontroversi berkaitan dengan lahirnya Supersemar. Soekardjo dulunya adalah anggota TNI AD dan mantan anggota sekuriti Istana Bogor menyaksikan Bung Karno menandatangani naskah Supersemar dibawah todongan pistol oleh 4 orang jenderal.

 Sumber : Kedaulatan Rakyat dan Detikcom

Kita ini mudah dipecah belah

Bangsa Indonesia dijajah Belanda 350 tahun , dijajah jepang 3,5tahun. Pada intinya jika tidak ada persatuan maka mustahil bangsa ini menjadi kuat. Kalau dahulu semangat Soempah Pemoeda begitu memperkuat para kaum muda saat itu, kini sumpah itu tinggal gaungnya saja. Bagaimana tidak, kalau sekarang kita lihat bahwa bangsa ini komponen komponennya sudah memperjuangkan kepentingannya sendiri sendiri. Ada yang memperjuangkan etnisnya, memperjuangkan agamanya, memperjuangkan partainya, memperjuangkan gendernya tanpa dibingkai dengan persatuan Indonesia. Mudahnya masalah masalah sepele dibesar besarkan sehingga menjadi tawuran dan perkelahian masal. Mudahnya antar pelajar berkelahi untuk sebuah sebab yang tidak jelas. Mudahnya seseorang melakukan korupsi untuk kepentingan pribadi dan golongan, mudahnya sekelompok orang berkedok agama memperjuangkan agamanya. Namun diatas semua itu sudah sedikit orang yang memperjuangkan negaranya. Kepentingan pribadi lebih diutamakan. Jika ada yang berjuang untuk kepentingan publik, belum belum sudah dicaci maki dan dicurigai. Contohnya lihatlah pasangan Jokowi- Ahok yang pada awalnya sudah dicurigai dan di cap dengan berbagai cap yang sangat sangat tidak wajar. Semoga bangsa ini berpikir jernih, bahwa semangat persatuan tak mudah dipatahkan itu sangat diperlukan oleh bangsa ini agar menjadi lebih kuat.

Ngrasani korupsi

Saya kadangkala jengkel kalau Pemerintah mengejar ngejar wajib pajak disuruh jujur membayar pajak, katanya pajak akan dipakai untuk kesejahteraan rakyat. Buktinya malah korupsi meraja lela, hukuman untuk koruptor juga seakan akan dipermainkan sehingga ringan sekali. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk memburu para koruptor, itu semua memakai uang pajak dari rakyat juga. Baru baru ini seorang yang didakwa koruptor tertangkap kemudian mengembalikan uang hasil korupsinya, apakah dengan kembalinya uang tersebut maka kasusnya menjadi selesai. Saya kira ngga boleh begitu, hal ini terjadi karena korupsi nya ketahuan. Coba saja tidak ketahuan, apakah uang itu juga akan dikembalikannya. Ngga bakal lah akan kembali. Adalagi kecenderungan koruptor akan membongkar semua yang dia ketahui, ceritanya pakai ngancam ngancam segala. Sangat sangat tidak bertanggungjawab dan ksatria, boro boro mengakui eh malah ngajak ngajakin temen lainnya. Istilahnya menggigit yang lain. Sudah sangat parah sekali keadaan korupsi di negeri ini, Bahkanmalaikatpun ngga bakal bisa menyelesaikannya. Lantas bagaimana sebagai anggota masyarakat awam begini? Saya mensinyalir bahwa seolah olah semua korupsi itu akan dibuat tidak ada tersangkanya. Karena para pelakunya adalah para pengecut yang mau ambil duitnya tetapi tidak berani bertanggungjawab. Lebih menyedihkan lagi terjadi di tengah tengah negara mayoritas penduduknya mengaku berAGAMA. Sila pertamanya adalah KeTuhanan yang Maha Esa. Tetapi perilakunya sungguh tidak mencerminkan manusia yang menjalankan perintah Tuhan. Semoga ada keajaiban terjadi atas negara kita. Semoga

Hebohnya Tridianto dari Cilacap

Nama Tridianto mendadak mencuat seiring dengan mundurnya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Tri banyak muncul di layar kaca dalam kapasitas sebagai loyalis Anas, saya sendiri tahu bahwa Tri adalah mantan Ketua DPC Partai Demokrat Cilacap juga dari pemberitaan media.

Beberapa catatan kecil sepak terjangnya antara lain:

  • Tri adalah pengusaha jamu oplos yang perusahaannya pernah digerebeg polisi namun saat itu dia tidak ada ditempat.
  • Menurut pengakuannya dia pernah meminjami uang kepada Nazarudin sebesar 1,5milyar.( sumber : http://www.jpnn.com)
  •   Masih menurut pengakuannya juga, ia sudah mengeluarkan 600 juta untuk  pemenangan AU sebagai Ketum DPP Partai Demokrat.
  • Soetan Bhatoegana nyeletuk agar pihak berwajib membuka kembali kasus jamu oplosannya yang lalu. (sumber: http://www.jpnn.com/read/2013/02/28/160578/Sutan-Bakal-Polisikan-Loyalis-Anas-)

Semoga saja pembelaannya terhadap AU didasari sikap yang tulus dan berani, bukan karena ada pamrih pamrih tertentu.