Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kristen. Tampilkan semua postingan

Mendoakan arwah?

 Kedia orang tua saya sudah meninggal dunia, namun jujur saya sering juga memperoleh mimpi tentang mereka. Berbagai keadaan yang saya lihat dalam mimpi tersebut, rasanya seperti mereka belum meninggal saja.  Ada kadang-kadang mereka ada di sebuah rumah yang pertama kami tinggal, atau juga di rumah kedua yang pernah kami tinggali bersama.  Mereka juga tidak menakutkan sama sekali dan biasa-biasa saja melakukan aktivita sehari hari.   Bicara juga biasa, bukannya lalu diam saja dan menyeramkan.  

Orang berpendapat bahwa mimpi adalah hasil karya otak melalui mekanisme tertentu menggali kembali informasi bawah sadar yang sudah pernah kita peroleh di masa yang lalu kemudian muncul dalam sebuah mimpi.  Jadi bukan sebuah pertanda apapun dalam hidup kita. Itu sisi sainsnya.  Nah tentu ada sisi lain yang bersifat lebih mistis spiritualistik, mengingat kejadian kejadian yang tercatat dalam kitab suci sering menceritakan jika para nabi jaman dahulu kala sering dijumpai oleh Tuhan melalui  mimpi. Misal saja contoh di kepercayaan kristen, ada Yusuf, yang bermimpi sehingga sampai dia dijual sebagai budak oleh kakak-kakaknya, itu semua bermula dari mimpi. Dan banyak lagi kisah lainnya, tentu di agama lain pun pernah ada kejadian kejadian mimpi yang sepertinya merupakan isyarat Tuhan.  Kita tidak bisa memastikan hal tersebut, namun yang lalu kita pahami adalah bahwa seolah olah Tuhan hanya bisa berkata-kata lewat mimpi.   Bukan Tuhan saja tetapi juga kekuatan tertentu yang kadang lalu ditafsirkan untuk membeli nomer Togel, eh ternyata kok tembus 3 angka.  Ini fenomena yang cukup misterius dalam hidup kita.   

Mungkinkah sebenarnya mimpi yang tak pernah kita lihat sebelumnya sesungguhnya merupakan memori atau ingatan masa lalu dari orang jaman dahulu yang kemudian berbaur dalam alam bawah sadari manusia masa kini?

Ketika kita usai bermimpi tentang orang orang yang kita kasihi, biasanya kita merindukan mereka. Atau Alam bawah sadar kita merindukan mereka sehingga memunculkan koleksi koleksi kenangan yang tersimpan di albumnya.  Sebagai orang beragama, kebetulan di agama saya tidak ada ritual mendoakan arwah.  Tetapi saya pribadi sering berdoa bagi orang tua saya yang sudah wafat, namun bukan dalam konteks mendoakan arwah mereka. Tetapi lebih kepada mengenangnya, mengenang dan bersyukur akan karya Tuhan sehingga saya ditempatkan sebagai anak mereka. Merekalah yang mendidik, memelihatra, membesarkan, "memberi hidup" pada saya.  Itulah yang saya doakan dalam sebuah doa syukur, sambil mengingat kembali jasa mereka dan kenangan-kenangan manis bersamanya.  Jadi rasa-rasanya benar juga dikatakan bahwa manusia sebenarnya tidak mati, tetapi jiwanya hidup di dalam diri kita-kita yang menyayanginya

Pandemi Covid membuat kita kreatif

Dengan adanya penyebaran virus corona di Indoneisa, maka pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Pola tersebut adalah serangkaian tindakan yang harus dilakukan untuk memutuskan mata rantai Virus Corona tersebut.
  • ·     Yang pertama adalah menjaga jarak antara seorang dengan yang lain, sebab  penularan virus terjadi melalui droplet penderita. Maka dengan mengatur jarak tertentu diharapkan droplet/ air ludah tidak tersebar menuju kepada mulut, mata, hidung yang berhubungan langsung dengan paru paru sebagai lokasi berbiaknya Virus Corona.
  • ·     Memakai masker, pada mulanya yang memakai masker adalah para penderita Covid 19 tetapi selanjutnya berkembang sebuah aturan baru yaitu bahwa semua orang diwajibkan memakai masker. Ini tentu untuk mengantisipasi mereka yang Orang Tanpa Gejala, mereka para carrier ini bisa tidak menampakkan gejala fisik apapun namun membawa serta Virus kemana-mana dan siap ditularkan.
  • ·     Cuci tangan memakai sabun dan air mengalir, ini sederhana namun sangat ampuh dalam mematikan Virus. Sebab lemak di virus akan hancur dengan pemakaian detergen. Bukan tidak mungkin kebiasaan cuci tangan ini juga menghindarkan kita dari banyak penyakit.
Dengan adanya anjuran tersebut maka segala macam acara yang berpotensi mendatangkan orang banyak akan dilarang penyelenggaraannya. Termasuk dalam hal ini adalah Kebaktian di gereja-gereja. Tentu gereja-gereja melakukan Live Streaming dengan menggunakan bantuan Youtube.  Jadi untuk hal ini ada dua macam, yang bener bener Live streaming real time. Artinya di gereja yang bersangkutan tetap berlangsung ibadah, hanya tanpa pengunjung/umat yang berbakti.    Kemudian jenis satunya adalah menyiarkan rekaman hasil kebaktian. Jadi para pendukung kebaktian sudah merekamnya terlebih dahulu, baru kemudian pada saat hari Minggu diputarkan tepat seperti jam kebaktian biasa.

       Adanya kebaktian dengan Live Streaming ini tentu membawa pro dan kontra dalam menjalankannya.  Ada yang tidak setuju karena persekutuan itu bermakna pertemuan secara fisik.  Ada yang setuju karena konsep bersekutu dengan Allah adalah di dalam roh dan kebenaran, jadi tidak terikat secara fisik harus hadir di gedung gereja. Tentu dengan catatan hal ini bisa dilakukan didalam kondisi tertentu seperti saat adanya wabah yang menular.

       Selain kebaktian yang disiarkan secara Live Streaming maka ada acara acara lain semacam persekutuan doa, pemahaman Alkitab juga dilakukan dengan memanfaatkan media media digital. Misalnya saja di GKI Ngupasan membagikan perenungan berupa Sapaan Pendeta setiap pagi, hal ini bertujuan sebagai bentuk sapaan Tuhan kepada umatNya melalui Sabda singkat yang diberikan oleh para pendeta.  Sapaan Pendeta ini diharapkan memberikan kekuatan bagi umat yang sedang stay at home, tentu mereka sangat merasa dikuatkan saat pandemi ini mendapat peneguhan peneguhan dari gembalanya.

       Berikut saya sertakan contoh tampilan Youtube yang dipergunakan GKI Ngupasan untuk meyapa baik umat secara umum maupun anak anak sekolah minggu.

Lakukanlah dengan segenap hatimu


Pagi tadi saya iseng masuk ke Youtube, ternyata dari trend yang direkomendasikan adalah Indonesia Idol. Sebuah ajang pencarian bakat untuk calon calon penyanyi. Saya mencoba menonton beberapa proses audisi dan sungguh bahwa anak anak sekarang generasi now ini sungguh luar biasa.  Bahkan sudah ada yang punya channel sendiri di Youtube dan di view oleh banyak orang videonya. Betapa menakjubkan. Tetapi saya yakin bahwa usaha yang mereka lakukan tentu sangat besar. Tidak ada sesuatu keberhasilan yang hanya diperoleh dengan bersantai-santai tanpa kucuran keringat, bias jadi juga dengan biaya biaya yang besar. Yah tetapi itulah namanya usaha. Keseriusan kita dalam berusaha jugakadang kadang tidak seimbang dengan hasil yang diperoleh. Usahanya sudah jungkir balik tetapi hasilnya nihil atau hasilnya minim. Sudah barang tentu kita tidak boleh mudah berpatah arang.
Saya teringat suatu ayat di Kitab Pengkhotbah. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati. ( Pengkhotbah 9:10 ) Sekali kita bekerja maka bekerjalah dengan serius, Pengkhotbah mengatakannya dengan “sekuat tenaga” dalam terjemahan NIV dikatakan “with all your might”.  Tuhan tak ingin kita melakukan setengah-setengah, layanilah Tuhan mu dengan segenap hatimu. “kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”

Apakah kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan seluruh kekuatan kita dan didasari atas cinta kepada Tuhan?

Selamat menyambut 2018

Bacaan perenungan : Lukas 2:22-40

Dalam perikop ini sepertinya ada 3 tokoh sentral yang ditampilkan, masing-masing seperti berada di kutub yang berlawanan. Disatu sisi adalah Simeon yang dijelaskan sebagai seorang yang benar dan saleh, tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Lalu orang menyimpulkan bahwa tentu Simeon orang yang lanjut usianya. Selain itu ada juga Hana seorang janda berusia 84 tahun yang tidak pernah meninggalkan Bait Allah, siang malam beribadah dan berpuasa. Kemudian di sisi lain adalah Yesus, bayi berusia 8 hari. Seorang manusia yang sangat muda dibawa ke Bait Suci untuk dikuduskan sesuai dengan Hukum Tuhan. Dua generasi yang dipertemukan didalam bait Allah dengan sangat sangat cantik, lihatlah pada 2:28 “Ia menyambut Anak itu dan menatangNya sambal memuji Allah”

Lebih jauh perenungan saya menjelang pergantian tahun ini adalah pada dua sosok yang terlihat unik sebab yang satu akan mengakhiri kehidupannya sedangkan Yesus akan memulai karyaNya. Mereka masing masing datang kepada Allah di BaitNya. Refleksi saya untuk tahun yang akan datang adalah sangat sangat baik kita tetap datang kepada Allah. Baik kita hendak mengawali tahun 2018 ataupun kita sedang mengakhiri tahun 2017. Kita harus tetap datang kepadaNya sebagai Allah sang pencipta, yang Awal dan yang Akhir. Seperti Simeon bertemu dengan Yesus, ada suatu titik dimana pertemuan yang indah itu akan terjadi ketika kita menyambutnya dihadapan Allah. Apakah saat ini kita mengakhiri tahun yang sekaligus mengawalinya, ada bersama sama dengan Allah?

Sama seperti Yesus ketika hendak memulai karyaNya ia pun mempersembahkan persembahan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Taurat. Sepasang tekukur atau sepasang merpati. Kitapun dalam mengawali tahun 2018 jangan pernah datang tanpa persembahan terbaik kita. Persembahan yang tulus setulus simbol Merpati. Mempersembahkan hati kita secara utuh kepada Tuhan. Dalam pelayanan mempersembahkan waktu waktu terbaik bagi Tuhan.

Simeon melihat masa depan Yesus dengan sangat jujur dan jernih, apa yang baik dikatakannya baik dan  apa yang menjadi kontroversipun ia katakan sebagai kontroversi. ( kontroversi lihat pada 2:34 ). Menatap masa depan atau tepatnya tahun mendatang harus tetap optimis sekalipun kita juga tidak mengabaikan adanya tantangan tantangan yang harus kita hadapi. Simeon mengatakan nubuatnya secara spesifik kepada Maria : ”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan”


Kesetiaan Hana menjadi perenungan selanjutnya, yaitu seorang janda tidak mempunyai anak yang setia selalu berada di bait Allah. Tahun tahun tidak akan menjauhkan kita dengan persekutuan kepada Allah. Meskipun tahun terus berlalu, kesetiaan Hana menjadi teladan kita. Pengharapannya selalu ada, terbukti dari ia beribadah dan berpuasa. Bukan itu saja tetapi rasa syukurnya dinaikkan juga dengan menceritakan tentang Yesus kepada semua orang. Meskipun sudah lanjut tetapi tidak berhenti menceritakan kabar sukacita, kabar kelepasan untuk Yerusalem

Jala yang terkoyak

Kisah ini mungkin sudah puluhan kali kita dengar dari pengkotbah yang berbeda beda. Namun yang saya sampaikan ini adalah bagian dari perenungan pribadi saya tentang bagaimana kita seharusnya menjadi murid Tuhan Yesus dengan berkaca pada kisah tersebut.
Lihat Lukas 5 : 1 - 11

Ayat 4. Lihat bagaimana Yesus tanpa diberitahu oleh Simon tentang kondisi yang dialaminya semalaman, yaitu melaut tanpa memperoleh ikan. Yesus langsung memberi jawaban kepada Simon agar dia bertolak ke tempat yang lebih dalam untuk menebar jalanya. Ini menunjukkan bahwa Yesus mengerti apa yang dibutuhkan Simon bahkan sebelum dia mengatakannya

Ayat 4. Perintah Yesus ini bukan perintah yang mudah dilakukan. Karena itu berarti melakukan pelayaran dengan melawan angin laut. Seperti kita ketahui bersama bahwa di waktu siang bertiup angin laut, yaitu angin yang bertiup dari laut kedarat. Angin inilah yang biasanya mengantar para nelayan pulang ke darat. Namun sekarang ini perintah Yesus seolah menyuruh Simon untuk melawan arah angin. Tuhan memerintahkan agar kita melakukan terobosan terobosan kreatif yang kadang juga melawan arus agar kita mendapatkan hasil optimal.

Ayat 5. Simon melakukan pembelaan dengan mengungkapkan bahwa sesungguhnya ia sudah  mencari ikan semalaman dan tidak membawa hasil.  Seolah Simon mau mengatakan kepada Yesus bahwa “aku adalah nelayan profesional dan Yesus hanyalah seorang tukang kayu. Apakah tukang kayu akan lebih pintar dibanding nelayan ? Disini kita melihat ke egoisan Simon dipangkas habis habisan oleh Yesus Kristus agar ia mau melaksanakan perintahNya

Butuh kerendahan hati melaksanakan perintah Tuhan. Pengakuan terhadap kedudukan Allah yang maha tinggi merupakan bentuk bahwa kita tunduk kepada perintah-Nya. Perintah Tuhan perlu dilakukan segera sebagai bentuk ketaatan, menunda melakukan berarti tidak tunduk pada Tuhan.

Kisah ini sebenarnya terjadi setelah Yesus bersama para murid telah melakukan serangkaian pelayanan semenjak pemanggilan murid yang pertama. Yaitu saat Andreas merekrut SImon dan Filipus merekrut Natanael. Kemudian Yesus bersama sama dengan para murid melakukan serangkaian pelayanan, hingga suatu saat para murid kembali kedalam pekerjaannya sebagai nelayan. Yesus memberikan jeda atas pelayanan mereka. Mereka diharapkan merenungkan tugas dan panggilannya sebagai murid apakah mereka akan tetap melanjutkan mengikut Yesus atau tidak. Jeda ini pula yang diberikan Tuhan kepada kita yang sedang menghidupi pemuridan. Karena kadang kadang kita menghadapi kendala kendala dalam memuridkan sehingga kita merasa putus asa karena beberapa hal.  Kita menjadi kecewa karena jala kita tidak penuh oleh ikan meskipun semalaman kita bekerja. Kita memerlukan peneguhan ulang oleh Tuhan Yesus sebagaimana yang ditulis dalam ayat 10b, ada jaminan yang diberikan Yesus kepada para murid:” Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”
Firman ini menguatkan karena menunjukkan penyertaan Tuhan selama kita menjadi penjala manusia atau saat kita sedang memuridkan.


Mencari Wajah Allah

Carilah Tuhan dan kekuatan Nya, carilah wajahNya selalu ! ( 1 Tawarikh 16:11 )

Menatap wajah dilakukan selama kita ingin melakukan komunikasi dengan seseorang. Karena didalam wajah terdapat mata atau indra penglihatan yang bisa memancarkan isi hati seseorang. Menatap wajah dianggap sebagai suatu bentuk perhatian ketika kita sedang melakukan sebuah pembicaraan atau sedang mendengarkan seseorang berbicara, karena unsur etika dan kesopanan yang terecermin dari tindakan tersebut.  Ketika seorang kekasih mengamat amati wajahnya maka pasangannya pun akan merasa senang diperhatikan.
Allah sebagai pencipta manusia berfirman melalui Daud tentang bagaimana mencari wajah-Nya. Adapun seringkali kita mencari Tuhan hanya untuk melihat “tangan-Nya”. Apakah tangan Tuhan sedang membawakan sesuatu untuk saya. Apakah tersedia berkat untuk hidup saya? Tidak salah kita meminta berkat kepada-Nya namun apakah kita juga mengenal kehendak-Nya. Apakah kita memberi perhatian kepada apa yang dimaui Allah. Mencari wajah-Nya adalah melihat bagaimana ekspresi Allah atas kita. Mampukah kita membuat-Nya senang atau sering untuk mudahnya maka kita mengatakan apakah kita mampu memuat Allah tersenyum? Jika anak kita menyambut kita didepan pintu saat kita baru saja pulang dari bepergian jauh, maka apakah yang dia ungkapkan? Apakah hanya menanyakan tentang buah tangan atau oleh-oleh? Atau dia bergembira saat menatap wajah kita? Ada kerinduan luar biasa didalam hati orang-orang percaya ketika ia menjumpai Allah. Tidak ada yang  lebih menggembirakan ketika kita berjumpa dengan Allah.
Kita menjumpai Allah melalui disiplin rohani. Salah satunya adalah melalui Saat Teduh, saat kita menjumpai Dia didalam firman-Nya. Saat kita mengetahui kehendak-Nya melalui firman yang sudah tertulis didalam Alkitab. Membaca firman secara teratur merupakan upaya mencari Wajah Allah. Didalam Kristus sebagai Juruselamat kita, ia menjadi pola atau bagi setiap kehidupan kita. Membaca firman adalah upaya kita agar menjadi serupa dengan Kristus.
Mari selama masih ada siang lakukanlah kehendak-Nya.


Terobosan Allah, terobosan Daud

Bahan bacaan : I Tawarikh 14 : 8- 12
Mari kita merenungkan tentang bagaimana Daud mengalahkan Bangsa Filistin.
Diceritakan disana bahwa bangsa Filistin menyerang Daud yang baru saja diurapi Allah untuk memimpin Israel sebagai Raja. Singkat kata Allah memberikan kemenangan buat Daud atas bangsa Filistin. Ada hal-hal menarik disini yang bisa kita pakai sebagai refleksi bersama terutama untuk kita yang bekerja sebagai pemimpin sekaligus pelayan
Saya lantas menghubungkan sedikit dengan jaman pemerintahan sekarang ini. Ketika Presiden itu belum benar benar terpilih dan dilantik sebagai Presiden, maka kekuatan lawan belum benar benar Nampak dan memunculkan diri. Baru setelah seseorang terpilih menjadi presiden maka segera saja kekuatan oposisi yang dengan dalih mengkritisi akan segera muncul. Entah apakah benar benar mengkritisi atau sekedar mengacau atau berpikir untuk menjatuhkannya.

  • ·       Ternyata orang yang diurapi Tuhan tidak lepas dari permasalahan juga. Lihat 14:8 Jangan berpikir bahwa orang yang dekat Tuhan selalu baik-baik saja. Kurang dekat apa Daud dengan Tuhan? Tuhan tidak menjanjikan langit selalu biru namun kasihNya selalu nyata dalam segala keadaan kita
  • ·         Seorang pimpinan harus tajam pendengarannya. Sebab lawan juga mendengar lebih tajam. Lihat 14:8b.  Sesungguhnya bukan kita lalu memasang mata mata kita disetiap sudut kota, namun dengan tetap menjaga relasi intim dengan Tuhan. Kedekatan ini memberi kita kepekaan bukan saja kepakaan terhadap Allah tetapi juga kepekaan terhadap hal hal yang akan membuat kita celaka. Tajam mendengar juga sebagai sarana menyerap aspirasi orang-orang yang kita pimpin. 
  • ·         Seorang pemimpin tidak boleh gentar menghadapi permasalahan. Daud langsung maju menghadapi mereka ( Filistin ). Filistin maju dengan pasukan penuh. Dalam NIV dituliskan bahwa Filistin datang dengan Full Fore, pasukan penuh. Tetapi tak satu langkahpun membuat Daud bergeming
  • ·         Seorang pemimpin harus dekat dengan Tuhan dan bertanya kepadaNya sekalipun dia merasa kekuatannya mampu menghadapi permasalahan tsb. Daud mungkin sudah cukup handal dalam menghadapi musuh karena dia berlatar belakang seorang gembala. Ditambah pengalamannya saat melawan Goliat. Daud tidak lupa memanjatkan doa kepada Tuhan dalam bentuk pertanyaan? “Apakah aku harus maju melawan orang Filistin?”. Bukan perhitungan teknis diatas kertas yang diajukan Daud kepada Tuhan. Bukan urusan jumlah pasukan yang dipermasalahkan Daud kepada Tuha. Tetapi sebuah pertanyaan mendasar apakah aku harus maju atau tidak. Bagi Daud pertanyaannya itu penting, sekaligus menunggu pernyataan Allah atas pertanyaannya.
  • ·         Seorang pemimpin bertindak dengan cepat segera setelah dia mendengar jawaban Allah. Kecepatan bertindak seringkali diperlukan dalam mengatasi berbagai masalah kepemimpinan. Membiarkan sebuah masalah berlarut larut membuat sebuah kepemimpinan kehilangan momentum untuk menyelesaikannya. Demikian juga dengan Daud, dia memukul kalah Filistin di Baal Perasim. Sungguh kita melihat segala sesuatunya berjalan lancar tanpa hambatan berarti, Daud menyelesaikan perang itu dengan baik. Bahkan dituliskan di ayat 11b bahwa Allah menerobos musuh melalui tangan Daud seperti air yang menerobos ( break out ). Sepertinya kekalahan Filistin sangat telak dan hantaman yang dialaminya sangat keras. Bahwa terobosan yang dilakukan Allah tetap melalui perantaraan Daud sebagai Raja yang sudah diurapi.

Mari kita meneladani Daud sebagai raja yang diurapi Tuhan. Kita minimal menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri, bagi keluarga kita atau mungkin lebih luas lagi dalam pelayanan di Gereja atau ditengah pekerjaan kita




Melepas Pengampunan

Khotbah pagi tadi di GKI Ngupasan berjudul Melepas Pengampunan. Khotbah disampaikan oleh seorang Pendeta GKI Citra I Jakarta. Saya suka dengan simpelnya sistematika kotbahnya. Mudah dipahami dan mudah diingat, serta memotivasi seseorang untuk melakukannya. 
Didasari dengan Matius 18:21-35 tentang pertanyaan Petrus kepada Yesus, berapa banyak kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Kemudian Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang tuan yang mengampuni hambanya yang berhutang 10.000 talenta kepadanya, tetapi hambanya itu justru menekan hamba lainnya  yang hanya berhutang sebesar 100 dinar kepadanya. Tentu saja banyak teman teman nya yang tidak setuju dengan kelakuan hamba tersebut dan melaporkannya kepada Tuannya. Akhirnya hamba tersebut ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Sebagai perbandingan bahwa 1 dinar adalah upah pekerja untuk satu hari pada masa itu. Nilai satu talenta adalah 6000 dinar. Jadi jika dihitung maka 10.000 talenta = 10.000 x 6.000 atau 60.000.000 dinar. Jika ditarik lagi ke nilai rupiah maka 1 dinar kita anggap sama dengan UMP satu hari semisal 100.000 rupiah. Maka nilainya dalam rupiah adalah 60.000.000 x Rp. 100.000 atau setara Rp 6 trilyun.
Woow sebuah nilai yang sangat besar dan tak mungkin akan terlunaskan oleh hamba pertama yang berhutang kepada tuannya.  Jaman Yesus hidup masih sangat banyak terjadi praktek perbudakan. Hukum yang berlaku pada saat jaman itu jika seseorang berhutang dan tak bisa melunasi maka ia dan seisi rumahnya, anak dan isterinya akan diual untuk melunasi hutangnya. Namun dengan pengampunan tersebut maka seharusnya ada rasa syukur yang luar biasa pada hamba tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Hamba itu justru mencekik hamba lainnya yang hanya berhutang sebesar 100 dinar kepadanya.
Jika kita melihat perumpamaan yang disampaikan Yesus maka kita bisa berkaca atau bercermin daripadaNya. Apakah kita berlaku sebagai seorang hamba yang seperti dicontohkan? Pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang berapa seharusnya kita mengampuni kesalahan orang lain? Apakah 7 kali sudah cukup. Ternyata menurut hukum Yahudi mengampuni seseorang yang bersalah hanya diperbolehkan 3 kali saja. Nah Petrus sudah memperbanyak jumlahnya dalam pertanyaan yang disampaikannya, apakah 7 kali. Namun ternyata Yesus justru menjawab dengan jumlah yang spektakuler yaitu 70 kali 7 yang secara matematis adalah 490 kali. Apakah ini jumlah eksak yang harus dilakukan sebenarnya ketika kita harus mengampuni seseorang? Ternyata itu adalah jumlah yang tak terhitung ketika kita harus mengampuni seseorang. Angka 7 bilangan sempurna dan angka 10 menunjukkan bilangan genap jadi  memberi makna bahwa pengampunan itu bermakna sangat sempurna. 
Tetapi tidak mudah bagi seseorang memberikan pengampunan, sebab ingatan kita didesain lebih mudah mengingat ingat kejadian yang menyenangkan dan kejadian yang menyakitkan. Itulah sebabnya maka mengampuni itu justru bukan melupakan, sebab pastilah tidak bisa melupakannya. Mengutip Eka Dharmaputera yang mengatakan bahwa mengampuni bukanlah melupakan tetapi justru harus mengingatnya kemudian baru kita melepaskan pengampunan itu. Mengampuni adalah melepaskan Hak pembalasan yang seharusnya bisa kita lakukan atas kesalahan orang yang bersalah kepada kita. Dicontohkan tentang seorang Nelson Mandela yang dipenjara selama 27 tahun akibat dia melawan politik Apartheid di Afrika dan harus mengalami pemenjaraan, penyiksaan yang luar bisa. Sampai diceritakan bahwa Nelson Mandela pernah suatu saat pernah digantung terbalik dengan kepala dibawah sambal dipukul dan dikencingi oleh sipir penjara. Dia menerima tanpa melakukan perlawanan. Sampai akhirnya pada usia 71 tahun ia dibebaskan dan 4 tahun kemudian Nelson Mandela menjadi seorang Presiden di Afrika selatan. Saat pelantikannya dia justru mengundang sipir penjara yang pernah menyiksanya, sipir itu masih hidup. Dia diundang sebagai tamu kehormatan dan saat seusai pelantikan Nelson Mandela memberi salam kepada sipir sambal mengungkapkan bahwa dia bersyukur sudah mengalami  peristiwa didalam penjara yang sebenarnya mendukung dirinya untuk sampai pada keberhasilan apa yang diperjuangkannya selama itu. Padahal kalau secara manusiawi bisa saja Nelson Mandela membalas dengan menghukum si sipir penjara tersebut.
Kotbah diakhiri dengan sebuah sajak tulisan Pdt Em Kuntadi Sumadikarya yang menceritakan tentang bagaimana seseorang yang belajar mengampuni di ibaratkan sebagai orang yang sedang belajar naik sepeda. Saat pertama kita belajar naik sepeda maka tentu akan terjatuh, kita harus siap dengan lutut terluka, harus memperhatikan bagaimana mengayuh, bagaimana menggerakkan tubuh untuk menjaga keseimbangan, bagaimana memegang kemudi yang sebelah kiri atau sebelah kanan. Namun setelah beberapa kali belajar maka kita akan lancer, tetapi kita harus berani jatuh. Tanpa berani jatuh dan terluka maka kita tidak akan bisa naik sepeda. Demikian juga dengan pengampunan, tanpa kita mau sakit maka kita tidak akan pernah bisa mengampuni dengan baik.

*) Disarikan dari Khotbah pukul 06.30, tanggal 17 September 2017, di GKI Ngupasan Yogyakarta disampaikan oleh Pendeta Dani Purnomo dari GKI Citra I Jakarta.
( Sumber foto: Google )