Tampilkan postingan dengan label google. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label google. Tampilkan semua postingan

Membaca buku jadi menyenangkan dengan NOICE

 

Noice

Tulisan ini saya buat untuk mengantisipasi mereka yang tidak suka membaca. Sebab saya melihat di lingkungan saya sendiri bahwa ternyata membaca buku itu hal yang tidak menyenangkan. Orang orang lebih suka melihat Youtube daripada membaca buku, apalagi harus membelinya. Wuiiih sungguh sungguh sangat eman-eman sayang disayang uangnya. 

Membaca buku itu bisa memancing kreatifitas dan imajinasi kita lebih banyak daripada sekedar melihat video. Ini serius. Ini kutipan dari salah satu web Reading helps us practice imagination by letting the words describe a certain image while the reader manipulates the picture in the mind. This practice strengthens the mind as it acts like a muscle.

Nah saya ingin berbagi informasi bagi mereka yang pengen baca buku tetapi masih malas membaca, silakan mencoba untuk mendengarkan audiobook. Audiobook adalah rekaman orang yang sedang membaca buku. Bisa dibacakan apa adanya sesuai titik koma yang ada di buku atau bisa juga berupa ringkasan atau resensi.  Yang penting kalian mendengarkan sebuah ilmu baru setidaknya, paling jeleknya seminggu sekali lah. Atau kalau tidak bisa yaaaah dua minggu sekali. Dengarkanlah audiobook baik melalui Youtube atau media lainnya.

Bagi saya pribadi, mendengarkan resensi buku atau ringkasan buku secara audio akan memancing saya untuk membeli bukunya. Meskipun sudah mendengarkan ringkasannya namun akan lebih seru lagi jika membaca langsung apa isi bukunya. Ini sebuah pengalaman yang lebih mengasyikkan.

Oh ya daripada muter muter kesana kemari, saya ingin kasih tahu supaya kalian mengunduh sebuah aplikasi yang namanya NOICE. Mengapa Noice? Sebab sebagai aplikasi yang menjadi tempat berkumpulknya koleksi audio dari berbagai sumber berkualitas. Di sana ada audiobook juga, tentu bukan semata-mata dibaca namun lebih ke sebuah resume atau ringkasan.  Dari judul bukunya saya melihat sangat berkualitas. Salah satunya adalah The History of God nya Karen Armstrong. Homo Deus nya Yuval Noah harari, Things Left behind nya Kim Sae Byoul. Dan masih banyak lagi judul buku lainnya gaes.


Masuklah ke Playstore lalu unduh NOICE, rasakan sensasi dan bertambahlah cerdas untuk semuanya itu. Semuanya gratis gaes.

Sungguh bersyukur ada sebuah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui cara-cara yang cerdas dan sungguh sangat milenial.

Semoga dan semoga


Lebih suka yang mana, e-book atau buku konvensional?


Kebetulan saya senang membaca sejak dari kecil. Memang pada usia 5 tahun saya membaca lancar surat kabar meskipun pemahaman maknanya tidak sampai.  Saya membaca papan papan reklame, waktu saya kecil reklame Rinso sudah ada dan saya senang sekali membaca tulisan Rinso berwarna kuning diatas kardus berdasar warna hijau tua.

Sampai sekarang pun saya suka membaca, memang perkembangan hal-hal yang disukai sangat bervariatif. Ada kalanya saya menyukai buku buku pengembangan diri, kali lain saya menyukai buku-buku spiritualitas, saya juga membaca beberapa novel khusus yang ini saya tidak terlalu banyak koleksi.  Saya suka membaca buku buku tentang pemasaran, biografi tokoh tokoh terkenal, buku buku motivasi dan psikologi juga saya senangi

Tetapi semenjak berkembang internet maka ada banyak buku yang diterbitkan secara elektronik. Pandangan saya sebagai penggemar buku sangat positif sih tetapi ada beberapa hal yang membuat saya masih enggan move on dari buku konvensional yang dicetak di atas kertas.

Yang pertama adalah soal kebiasaan saya menggaris garis hal-hal penting, pemahaman baru yang saya terima dari buku tersebut, catatan-catatan kecil untuk menghubungkan dengan hal lain. Sekalipun ini bisa dilakukan juga di dalam buku elektronik tetapi saya masih belum nyaman melakukannya. Seperti tidak sebebas melakukan coret mencoret di buku konvensional. Atau barangkali karena saya seorang generasi X yang digital migran?

Hal kedua adalah, menurut saya membaca buku itu adalah sebuah ungkapan emosional yang didorong dengan keingintahuan yang besar sehingga memandang buku tersebut akan memberitahu apa yang kita perlukan. Dia bukan lagi benda mati tetapi menjadi “hidup” karena bersahabat dengan pikiran kita. Persahabatan itu tidak menarik ketika kita tidak bisa mengungkapkan “kasih” kita dengan jalan memberinya cover dari mika bening, menyentuh hard covernya, menyentuh permukaan cover yang kadang dicetak dengan huruf atau gambar timbul, meraba halaman-halaman nya, menggenggamnya erat ketika kita sedang membawanya seolah sebuah benda yang sangat berharga, memberinya selipan atau bookmark yang menarik di saat kita belum selesai membaca nya hingga tuntas, kadang mencium aroma tinta cetak nya yang khas/bau kertasnya.  Barangkali hal-hal yang saya ungkapkan begitu aneh, tetapi bisa jadi ada yang punya pemahaman seperti saya.

Hal ketiga adalah sebuah kebanggaan ketika kita memajang buku di rak buku, dengan melihat sepintas judul yang tercetak di punggungnya maka kita akan teringat pada isi buku tersebut. Sangat memotivasi secara visual.

Namun jika dengan buku elektronik maka hal hal yang bersifat fisik seperti meraba, menggenggam, membuka halaman dsb tidak bisa kita rasakan. Tidak ada kesan emosional saat kita hendak membacanya. Misalnya : kita melihat bookmark masih di posisi sepertiga buka maka memberi dorongan dan semangat kepada kita untuk membaca lebih giat lagi supaya semua bisa terbaca.
Dengan menggunakan buku elektronik kita hanya mengenal menyentuh/menggeser saja. Buku elektronik cocok dibawa untuk menemani sebuah perjalanan panjang. Misalnya saja naik pesawat 2 jam atau lebih, naik kereta api 2 jam lebih. Sebab saat perjalanan jauh kita akan membawa bagasi yang ringkas dan ringan maka buku elektronik sangat cocok dalam hal ini.

Semua ada plus minusnya, tergantung apa tujuan kita.

Kita membuat Google menjadi pintar?


Apa kabar pembaca ?
Sebenarnya siapa sih yang membikin Google menjadi pintar?

Pertanyaan tersebut muncul ketika beberapa kali muncul pesan di smart phone yang meminta saya memberi reviu tentang suatu tempat yang baru saja saya kunjungi. Padahal saya tidak melakukan check in di tempat tersebut. Tapi mengapa Google tahu ya? hmmm


Bayangkan semenjak saya bangun pagi, kemudian membuka aplikasi renungan beserta membuka aplikasi Alkitab, tentu google mencatat apa yang saya lakukan itu.

Setelah itu saya pergi membeli sarapan di penjual pecel, tanpa disuruh pun sebagai dampak pemakaian big data maka google akan mencatat kunjungan saya ke penjual pecel tersebut.

Kemudian sehabis itu saya memanggil aplikasi m-Banking guna bertransaksi dengan pelanggan atau supplier, apakah google tidak mencatatnya juga?

Siang hari kembali saya memanggil aplikasi g\Gojek untuk memesan makan siang, lagi-lagi google mencatat.

Malam hari nongkrong ke kafe bersama teman teman bersama naik Go Car kemudian nonton cinema dengan memesan tiket lewat aplikasi.

Aduuh kita sudah mencerdaskan Google dengan sukarela.  Setiap individu mempunya catatan di Google perihal apa yang dilakukannya sepanjang hari selama smartphone kita ikut beserta dengan kita kemana saja kita pergi.

Google akan mencatat dengan rutin dan membuat analisa terhadap data data yang kita secara sukarela kirimkan. Misalnya saja soal kebiasaan kita makan siang di mana? Nonton di mana? Dan seterusnya.
Bahkan dengan kemampuannya saya yakin Google bisa memberikan penawaran kepada kita tentang produk yang sedang kita perlukan. 
Misalnya pagi hari saya melihat iklan earphone, lantas saya browsing di Google kemudian dilanjutkan dengan membuka Lazada, Tokopedia maupun Instagram maka Google akan mengamati kita terus sambil berpikir untuk menyajikan pilihan pilihan terbaik sesuai dengan apa yang kita inginkan. Apalagi bila ditambah saya mengunjungi beberapa situs reviu yang membahas soal produk yang saya cari

Kalau sudah begini ndak ada rahasia lagi. Bahkan apa yang menjadi rahasia kita terhadap pasangan hidup kita, Google pun tahu.

Gimana coba??

Aplikasi ANDROID favorit saya


Aplikasi yang bermanfaat

Aplikasi di Android memang saya rasakan memberi manfaat bagi keperluan bisnis maupun menolong mempermudah kita melakukan aktivitas.  Berikut adalah aplikasi Android yang sering saya gunakan sehatri-hari, saya bagikan barangkali para pembaca ada yang memerlukan untuk memenuhi kebutuhannya

PicSay : penyunting foto
TinyScan : melakukan scan pada dokumen/foto
Snapseed : penyunting foto
Postermaker : pembuat poster
Phonto   : penyunting foto dan teks
Evernote : penyunting teks, untuk keperluan mencatat.
Googlesheet : speadsheet mirip excel untuk hitung-menghitung, tabel dsb
Eraser   : untuk menyunting foto, utamanya menghapus latar belakang
Kinemaster pro : untuk menyunting video
Soundhound : mendeteksi lagu
Shazam : mendeteksi lagu

Semoga melengkapi pengetahuan kita, semua dapat diperoleh di Play Store milik Google.