Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan

JALAN KEABADIAN SIAPA?

 Saya pernah punya pengalaman menungguin seseorang yang sedang dalam sakaratul maut sampai menuju kepada kematian.  Setidaknya sebanyak dua kali, yang pertama ibu saya sendiri dan yang kedua adalah kakak ipar saya. Dari pengalaman ini saya sepertinya mengambil kesimpulan bahwa "agama" yang dianutnya beserta dengan ritual/doa-doanya yang akan mengantar almarhum menuju kepada kebadian.  Namun diatas semuanya, bagi orang beriman tentu lebih meyakini bahwa Tuhan yang mereka percaya yang akan menjemput menjelang roh itu terlepas dari wadag nya.

    Jadi begini, saat saya mendampingi almarhumah ibu saya, maka saya mendoakan secara Kristiani sesuai kemampuan saya. Mohon Tuhan menjemput roh ibu saya, demikian saja intinya. Dan sejenak kemudian memang benar-benar terjadi ibu saya wafat.  Kedua adalah kakak ipar saya, kebetulan saat maut hendak menjemput saya dan isteri sempat menemaninya.  Bersama dengan kami ada seorang ibu yang kebetulan pengurus kring (wilayah) yang sama-sama beragama Katolik, dia malam itu juga menunggui kakak ipar saya. Sementara menjelang jam 01,00 beliau hendak pulang ke rumah lalu meninggalkan selembar foto kopian kertas doa secara Katolik. Maaf saya juga tidak hapal doa apa itu, karena saya sendiri Kristen Protestan.  Kemudian saat kakak ipar mulai tersengal-sengal, saya mencoba mendoakan dengan doa secara Kristiani. Tetapi apa yang terjadi? Tidak terjadi sesuatu yang berarti. Namun kemudian setelah dibacakan doa secara Katolik sesuai agama yang dianutnya, berangsur-angsur napasnya terhenti.

    Entahlah dengan dua sampel ini barangkali masih belum bisa diambil sebagai sebuah kesimpulan?  Tetapi bisa jadi begitulah adanya. Hanya oleh iman saja kita mempercayai hal-hal tersebut.

    Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi teman-teman yang sedang (maaf) menjumpai hal-hal semacam itu.


Salam

PERGUMULAN DALAM DOA (sebuah perenungan pribadi)

Hari Sabtu pagi, 7 Maret 2026, saya mengahdiri Doa Pagi di GKI Ngupasan. Tema yang diangkat adalah tentang pergumulan. Ayat yang dibahas berasal dari Kejadian 32:22-32 yang menceritakan tentang Pergumulan Yakub dengan Allah.  Pembawa renungan adalah Pendeta Shirley Dewi Indrawati.  Tentu makna pergumulan yang diaktualisasi pada masa sekarang dan untuk umat adalah soal pergumulan hidup tentunya yang berkaitan dengan pergumulan doa-doa kita.  Ayat kunci nya ada di Kejadian 32:24 "Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing"

Ayat ini diberi pemaknaan tentang bagaimana kita bergumul bersama Tuhan menghadapi permasalahan kehidupan kita pribadi.  Kita tidak menghadapi masalah seorang diri, sebab di sana ada Tuhan yang "bergumul" bersama kita. Bahkan sampai fajar menyingsing, semalam-malaman Yakub tidak seorang diri tetapi bersama dengan Tuhan.

Dalam menghadapi permasalahan hidup bukankah seringkali kita lebih mengutamakan memakai akal budi kita, tentu ini tidak salah, karena akal budi pun adalah karya besar Allah yang diberikan kepada manusia sehingga ia mampu menyelesaikan berbagai masalah, ia mampu menciptakan berbagai karya yang hebat, penemuan-penemuan yang memberi manfaat bagi sesama dan dunia. Namun diatas itu semua adalah Tuhan yang menciptakan kita. Tentu menemuiNya dalam kesulitan-kesulitan kita adalah hal yang sangat wajar, kita bertemu dengan Sang Kreator itu sendiri.  Saya juga kemudian teringat satu bagian di Perjanjian Baru yang menceritakan bagaimana tentang Doa, yaitu di Matius 6:6 "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" Disini saya melihat kesamaan antara kedua ayat di atas, yaitu saat kita menghadap Tuhan dalam doa pergumulan kita, kita ini tidak sendiri. tetapi bertemu bahkan bergumul dengan Tuhan. Permasalahan-permasalah sulit kadang kita sembunyikan baik-baik, kadang kita tidak mau merepotkan anak, isteri, saudara, orang tua, teman. Hanya kita sendiri yang tahu, inilah saat dimana kita bergumul dalam kondisi paling berat. Tetapi percayalah bahwa Tuhan menolong kita, bahkan di saat kesendirian itu sedang menghampiri kita.   Jangan pernah takut, jangan pernah gentar. Kita memilikki Allah yang hidup dan peduli.

Selamat Pagi, selamat merenungkan firman Tuhan