Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Bersyukur tentang air

 

mas har
Sumber : Google

Saat mandi pagi tiba-tiba terpikir oleh saya bahwa sesungguhnya mandi itu berkat yang besar. Sebagian besar tubuh kita terdiri dari air, maka untuk menyatukan diri dengan aam kita banyak minum air, tentu tujuannya agar kita lebih sehat. Kita juga mandi dan keramas dengan air supaya tubuh dan kulit menjadi bersih dan sehat. 

Tetapi yang saya renungkan tadi pagi lebih dari sekedar manfaat-manfaat air bagi hidup kita. Bahkan saat meninggalpun kita masih dibersihkan dengan air.

Tahu nggak, saya bersyukur karena masih bisa mandi sendiri, menyiapkan pakaian sendiri, mengguyur air dari shower sendiri. Itu rasa syukur yang sederhana dari diri saya pagi tadi.

Betapa banyak orang-orang yang sedang sakit, untuk mandipun mereka tidak mampu, memiringkan badan pun harus dibantu banyak orang. Nah apalagi untuk mandi, betapa saya bersyukur untuk semua nikmat dan berkat Allah yang luar biasa ini.

Cobalah mengingat-ingat, menyadari apa berkat Tuhan yang nampaknya sudah kita lupakan selama ini.

Sadari dan syukuriah semasa kita masih diberikan hidup

Jangan saling menyalahkan

Mari kita merenungkan firman Tuhan dalam Kitab Kejadian 45:24

 "Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka:" Janganlah berbantah-bantah di jalan," Perkataan ini muncul setelah Yusuf membuka jati dirinya di hadapan saudara-saudaranya, ia merasa khawatir bilamana saudara-saudaranya nanti saling mempersalahkan satu dengan yang lain. Sebab perihal perjalanan hidup Yusuf ini melalui liku-liku yang dramatis hingga ia menjadi raja muda di Mesir. Oleh karena itu muncullah perkataan itu  yang dipesankan oleh Yusuf kepada saudara-saudaranya yang hendak kembali ke Kanaan. 

Di dalam hidup kita juga sering uring-uringan atau saling mempersalahkan antar sesama anggota keluarga sesama teman pelayanan sesama saudara dan lain sebagainya. Kadang-kadang kita memang tidak tahu rencana Tuhan atas hidup kita. Oleh karena itu carilah kehendaknya seperti Yusuf yang selalu mencari kehendak Tuhan, sehingga dia selalu menyadari bahwa semua kebaikan yang diberikan oleh Tuhan terjadi bukan karena rencananya sendiri atau rencana saudara-saudaranya tetapi rencana baik dari Tuhan.

 

Roma 8:28

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

 

 

BEGITU DEKAT, BEGITU NYATA


Markus 5:21-43

Entah kebetulan atau tidak dua kejadian ini disajikan didalam sebuah perikop yang sama? Kejadian perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun dan peristiwa anak yairus yang sakit keras.  Keduanya diungkapkan bersama – sama dalam satu perikop karena mempunyai tujuan yang hendak disampaikan oleh Yesus kepada kita semua.
Beberapa hal menarik tentang keduanya :
  •  Keduanya berkisah tentang orang yang sakit, yang satu adalah wanita yang sakit pendarahan dan yang lainnya adalah anak perempuan dari Yairus seorang kepala rumah ibadat.
  • Si perempuan yang sakit pendarahan datang sendiri di dekat Yesus, sedangkan anak perempuan Yairus tidak datang secara langsung, tetapi hanya Yairus ayahnya yang datang memohon kesembuhan kepada Yesus.
  • Perempuan itu sudah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah menghabiskan harta si perempuan itu untuk mencari kesembuhannya. Yairus rupanya langsung mencari Yesus untuk meminta kesembuah anaknya, ia bukan mendatangi tabib atau penyembuh lainnya terlebih dahulu.
  • Baik perempuan yang sakit pendarahan itu disembuhkan oleh Yesus, demikian pula anak yairus yang sakit bahkan dikatakan sudah mati.
  • Baik perempuan maupun Yairus masing-masing mengemukakan pernyataan iman yang begitu detil. Si perempuan yang sakit pendarahan menyatakan (ayat 18 )“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Sedangkan Yairus demikian juga, ia mengatakan ( ayat 23 b ) :”letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup”
  •  Uniknya untuk memperoleh kesembuhan mereka, Yesus melakukan/mengijinkan mereka masing-masing melakukan/mengalami seperti yang mereka imani: Perempuan yang sakit pendarahan itu ( ayat 33b ) dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Ia mengakui dengan jujur bahwa telah menyentuh jubah Yesus. Demikian juga dengan anak Yairus yang sakit disembuhkan oleh Yesus dengan jalan ( ayat 41 ) Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya:”Talita kum,” yang berarti “hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah”

Sungguh luar biasa proses kesembuhan yang diterima olEh masing-masing orang. Saya yakin bahwa apa yang hendak dikatakan Yesus kepada kita adalah soal bagaimana seseorang sampai pada sebuah pernyataan iman yang begitu nyata. Bagaimana si perempuan yang sakit begitu yakin bahwa dengan menyentuh jubah-Nya ia akan sembuh, padahal ia belum pernah melakukannya. Darimana timbul keyakinannya yang begitu besar? Bagaimana pula Yairus yang sampai pada sebuah kalimat “letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat…” darimana semuanya itu padahal Yairus belum pernah mengalaminya sebelumya?

Inilah yang menjadi sangat penting kita perhatikan, Yesus tidak mempersoalkan apakah Ia ditemui lebih dahulu atau ditemui kemudian. Penekanannya adalah pada statement iman yang begitu jernih oleh masing-masing orang.

Apakah kita sudah sampai pada ungkapan iman yang jernih dan begitu nyata dalam hidup kita? 

Apakah keimanan kita masih samr-samar dan belum nyata sebagaimana mereka berdua?

Marilah kita semakin dekat dan bertumbuh kearah Kristus agar iman kita semakin nyata didalam-Nya

Dipulihkan dari kebebalan

Mazmur 14


Renungan Mazmur 14

Mazmur ini diawali dengan perkataan atau pendapat orang bebal tentang Allah. Siapa orang bebal itu?  Amsal mengatakan bahwa “Seperti anjing kembali ke muntahannya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya – Amsal 26:11”.  Amsal memberikan gambaran bahwa orang bebal adalah orang yang tidak mendengarkan orang lain, ia berbalik pada sesuatu -pasti yang buruk, digambarkan dengan muntahan- yang seharusnya ia tinggalkan. Bisa perbuatan, sikap, hal-hal yang harus ditinggalkan tetapi justru diulanginya untuk dilakukan kembali.  Lantas bagaimana mungkin seorang bebal punya pendapat tentang Allah yang Maha Agung dan Maha Suci? Sudah barang tentu pendapatnya akan nyinyir. Pemazmur mengatakan bahwa orang bebal perbuatannya busuk dan jijik, tidak ada yang berbuat baik.
Kontras dengan ayat yang pertama dari mazmur ini adalah ayat yang kedua. Seolah Allah ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh si bebal dengan kalimat “Tidak ada Allah”.  Allah memandang ke bawah dari surga, dari tempat kudus-Nya ia memandang ke  bawah untuk memastikan benarkah sudah tidak ada lagi yang berbuat baik? Tetapi perkataan “memandang” itu menyatakan bahwa “Allah ada”, tidak seperti si bebal menyatakan di ayat yang 1.
Ayat ke 3 memberi penekanan lebih kepada ayat 1 dan 2, memberi kesimpulan bahwa memang benar semua telah menyeleweng dan bejat, tidak ada yang berbuat baik seorang pun tidak
Allah tetap optimis bahwa ada angkatan yang benar yang akan disertai-Nya, ayat 5b dengan jelas menyatakan “sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”
Mazmur ini memberikan penghiburan bagi kita di tengah-tengah dunia yang jahat, penuh dengan orang bebal tetapi sekalipun demikian Allah tetap menyertai orang-orang benar. Ada angkatan yang disertai oleh-Nya ditengah tengah kebebalan yang melanda dunia. Harapan selalu diberitakan kepada mereka yang berharap kepada kasih-Nya. “Apabila TUHAN memulihkan keadaan umat-Nya, maka Yakub akan bersorak-sorak, Israel akan bersukacita” Kata kuncinya adalah pemulihan yang dilakukan Allah terhadap umatnya.
Apakah kita juga menghendaki pemulihan oleh Allah, jauh dari kebebalan, jauh dari kejahatan. Kiranya ini mengingatkan semua akan Kasih Tuhan Yesus Kristus yang datang untuk keselamatan seluruh dunia.

Selamat merenung

Lupa hari

rangkaian hari
Seringkali saya lupa dengan tanggal, misalnya saya sedang bertransaksi di sebuah bank. Setiap mengisi formulir di bank maka selalu diminta untuk menuliskan tanggal transaksinya dan kadang-kadang saya lupa dan harus melihat di kalender meja bank tersebut. Entah mengapa hal ini berbeda dengan saat kita sedang sekolah atau kuliah. Seolah kita begitu hapal dengan hari dan tanggal, kapan harus mengembalikan buku ke perpustakaan, kapan harus KRS, kapan harus mengecek kiriman uang dari ortu.  Hari-hari sangat sangat menarik dan bervariasi, seringkali anak-anak menghitung mundur hari sekolahnya sampai kepada hari libur atau rangkaian hari libur yang mungkin hanya 2 hari saja. Namun mereka merasa bahwa hari harinya begitu berwarna dan begitu panjang.
Setelah memasuki dunia kerja, dunia berkeluarga maka nama nama hari dan tanggal seolah olah luntur semua. Dalam ingatan yang ada hanya 2 jenis hari saja yaitu hari bekerja dan hari libur. Tak peduli apakah itu Senin , Rabu atau Sabtu maka saya akan melihat itu hari yang sama, pekerjaan yang sama, kegiatan yang sama, masalah yang kurang lebih sama. Sedangkan Minggu memperoleh penghargaan tersendiri karena selalu diingat liburnya. Betapa hari sabtu atau jumat menjadi hari yang ditunggu untuk segera dilewatkan karena akan menuju Minggu.
Dan tanpa dihitung pun kita sudah berada hampir di penghujung Bulan januari 2018. Rasa rasanya 1 januari baru saja kita rayakan, hingar bingar malam tutup Tahun 2017 masih terngiang jelas ditelinga, terangnya sinar dari kembang api dan petasan yang membakar langit masih jelas terekam dipelupuk mata. Kini tinggal sedikit hari lagi sudah harus kita tinggalkan untuk memasuki Bulan ke 2 di tahun 2018.
Lalu kita teringat dengan resolusi-resolusi yang sudah kita buat di awal tahun. Benarkah sampai saat ini sudah mulai kita kerjakan meski sedikit. Pepatah Cina mengatakan seribu langkah selalu dimulai dari langkah pertama.

Selamat malam dan selamat merenung.

Lakukanlah dengan segenap hatimu


Pagi tadi saya iseng masuk ke Youtube, ternyata dari trend yang direkomendasikan adalah Indonesia Idol. Sebuah ajang pencarian bakat untuk calon calon penyanyi. Saya mencoba menonton beberapa proses audisi dan sungguh bahwa anak anak sekarang generasi now ini sungguh luar biasa.  Bahkan sudah ada yang punya channel sendiri di Youtube dan di view oleh banyak orang videonya. Betapa menakjubkan. Tetapi saya yakin bahwa usaha yang mereka lakukan tentu sangat besar. Tidak ada sesuatu keberhasilan yang hanya diperoleh dengan bersantai-santai tanpa kucuran keringat, bias jadi juga dengan biaya biaya yang besar. Yah tetapi itulah namanya usaha. Keseriusan kita dalam berusaha jugakadang kadang tidak seimbang dengan hasil yang diperoleh. Usahanya sudah jungkir balik tetapi hasilnya nihil atau hasilnya minim. Sudah barang tentu kita tidak boleh mudah berpatah arang.
Saya teringat suatu ayat di Kitab Pengkhotbah. Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati. ( Pengkhotbah 9:10 ) Sekali kita bekerja maka bekerjalah dengan serius, Pengkhotbah mengatakannya dengan “sekuat tenaga” dalam terjemahan NIV dikatakan “with all your might”.  Tuhan tak ingin kita melakukan setengah-setengah, layanilah Tuhan mu dengan segenap hatimu. “kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”

Apakah kita sudah melakukan pekerjaan kita dengan seluruh kekuatan kita dan didasari atas cinta kepada Tuhan?

Selamat menyambut 2018

Bacaan perenungan : Lukas 2:22-40

Dalam perikop ini sepertinya ada 3 tokoh sentral yang ditampilkan, masing-masing seperti berada di kutub yang berlawanan. Disatu sisi adalah Simeon yang dijelaskan sebagai seorang yang benar dan saleh, tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Lalu orang menyimpulkan bahwa tentu Simeon orang yang lanjut usianya. Selain itu ada juga Hana seorang janda berusia 84 tahun yang tidak pernah meninggalkan Bait Allah, siang malam beribadah dan berpuasa. Kemudian di sisi lain adalah Yesus, bayi berusia 8 hari. Seorang manusia yang sangat muda dibawa ke Bait Suci untuk dikuduskan sesuai dengan Hukum Tuhan. Dua generasi yang dipertemukan didalam bait Allah dengan sangat sangat cantik, lihatlah pada 2:28 “Ia menyambut Anak itu dan menatangNya sambal memuji Allah”

Lebih jauh perenungan saya menjelang pergantian tahun ini adalah pada dua sosok yang terlihat unik sebab yang satu akan mengakhiri kehidupannya sedangkan Yesus akan memulai karyaNya. Mereka masing masing datang kepada Allah di BaitNya. Refleksi saya untuk tahun yang akan datang adalah sangat sangat baik kita tetap datang kepada Allah. Baik kita hendak mengawali tahun 2018 ataupun kita sedang mengakhiri tahun 2017. Kita harus tetap datang kepadaNya sebagai Allah sang pencipta, yang Awal dan yang Akhir. Seperti Simeon bertemu dengan Yesus, ada suatu titik dimana pertemuan yang indah itu akan terjadi ketika kita menyambutnya dihadapan Allah. Apakah saat ini kita mengakhiri tahun yang sekaligus mengawalinya, ada bersama sama dengan Allah?

Sama seperti Yesus ketika hendak memulai karyaNya ia pun mempersembahkan persembahan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Taurat. Sepasang tekukur atau sepasang merpati. Kitapun dalam mengawali tahun 2018 jangan pernah datang tanpa persembahan terbaik kita. Persembahan yang tulus setulus simbol Merpati. Mempersembahkan hati kita secara utuh kepada Tuhan. Dalam pelayanan mempersembahkan waktu waktu terbaik bagi Tuhan.

Simeon melihat masa depan Yesus dengan sangat jujur dan jernih, apa yang baik dikatakannya baik dan  apa yang menjadi kontroversipun ia katakan sebagai kontroversi. ( kontroversi lihat pada 2:34 ). Menatap masa depan atau tepatnya tahun mendatang harus tetap optimis sekalipun kita juga tidak mengabaikan adanya tantangan tantangan yang harus kita hadapi. Simeon mengatakan nubuatnya secara spesifik kepada Maria : ”Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan”


Kesetiaan Hana menjadi perenungan selanjutnya, yaitu seorang janda tidak mempunyai anak yang setia selalu berada di bait Allah. Tahun tahun tidak akan menjauhkan kita dengan persekutuan kepada Allah. Meskipun tahun terus berlalu, kesetiaan Hana menjadi teladan kita. Pengharapannya selalu ada, terbukti dari ia beribadah dan berpuasa. Bukan itu saja tetapi rasa syukurnya dinaikkan juga dengan menceritakan tentang Yesus kepada semua orang. Meskipun sudah lanjut tetapi tidak berhenti menceritakan kabar sukacita, kabar kelepasan untuk Yerusalem

Jala yang terkoyak

Kisah ini mungkin sudah puluhan kali kita dengar dari pengkotbah yang berbeda beda. Namun yang saya sampaikan ini adalah bagian dari perenungan pribadi saya tentang bagaimana kita seharusnya menjadi murid Tuhan Yesus dengan berkaca pada kisah tersebut.
Lihat Lukas 5 : 1 - 11

Ayat 4. Lihat bagaimana Yesus tanpa diberitahu oleh Simon tentang kondisi yang dialaminya semalaman, yaitu melaut tanpa memperoleh ikan. Yesus langsung memberi jawaban kepada Simon agar dia bertolak ke tempat yang lebih dalam untuk menebar jalanya. Ini menunjukkan bahwa Yesus mengerti apa yang dibutuhkan Simon bahkan sebelum dia mengatakannya

Ayat 4. Perintah Yesus ini bukan perintah yang mudah dilakukan. Karena itu berarti melakukan pelayaran dengan melawan angin laut. Seperti kita ketahui bersama bahwa di waktu siang bertiup angin laut, yaitu angin yang bertiup dari laut kedarat. Angin inilah yang biasanya mengantar para nelayan pulang ke darat. Namun sekarang ini perintah Yesus seolah menyuruh Simon untuk melawan arah angin. Tuhan memerintahkan agar kita melakukan terobosan terobosan kreatif yang kadang juga melawan arus agar kita mendapatkan hasil optimal.

Ayat 5. Simon melakukan pembelaan dengan mengungkapkan bahwa sesungguhnya ia sudah  mencari ikan semalaman dan tidak membawa hasil.  Seolah Simon mau mengatakan kepada Yesus bahwa “aku adalah nelayan profesional dan Yesus hanyalah seorang tukang kayu. Apakah tukang kayu akan lebih pintar dibanding nelayan ? Disini kita melihat ke egoisan Simon dipangkas habis habisan oleh Yesus Kristus agar ia mau melaksanakan perintahNya

Butuh kerendahan hati melaksanakan perintah Tuhan. Pengakuan terhadap kedudukan Allah yang maha tinggi merupakan bentuk bahwa kita tunduk kepada perintah-Nya. Perintah Tuhan perlu dilakukan segera sebagai bentuk ketaatan, menunda melakukan berarti tidak tunduk pada Tuhan.

Kisah ini sebenarnya terjadi setelah Yesus bersama para murid telah melakukan serangkaian pelayanan semenjak pemanggilan murid yang pertama. Yaitu saat Andreas merekrut SImon dan Filipus merekrut Natanael. Kemudian Yesus bersama sama dengan para murid melakukan serangkaian pelayanan, hingga suatu saat para murid kembali kedalam pekerjaannya sebagai nelayan. Yesus memberikan jeda atas pelayanan mereka. Mereka diharapkan merenungkan tugas dan panggilannya sebagai murid apakah mereka akan tetap melanjutkan mengikut Yesus atau tidak. Jeda ini pula yang diberikan Tuhan kepada kita yang sedang menghidupi pemuridan. Karena kadang kadang kita menghadapi kendala kendala dalam memuridkan sehingga kita merasa putus asa karena beberapa hal.  Kita menjadi kecewa karena jala kita tidak penuh oleh ikan meskipun semalaman kita bekerja. Kita memerlukan peneguhan ulang oleh Tuhan Yesus sebagaimana yang ditulis dalam ayat 10b, ada jaminan yang diberikan Yesus kepada para murid:” Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”
Firman ini menguatkan karena menunjukkan penyertaan Tuhan selama kita menjadi penjala manusia atau saat kita sedang memuridkan.


Mencari Wajah Allah

Carilah Tuhan dan kekuatan Nya, carilah wajahNya selalu ! ( 1 Tawarikh 16:11 )

Menatap wajah dilakukan selama kita ingin melakukan komunikasi dengan seseorang. Karena didalam wajah terdapat mata atau indra penglihatan yang bisa memancarkan isi hati seseorang. Menatap wajah dianggap sebagai suatu bentuk perhatian ketika kita sedang melakukan sebuah pembicaraan atau sedang mendengarkan seseorang berbicara, karena unsur etika dan kesopanan yang terecermin dari tindakan tersebut.  Ketika seorang kekasih mengamat amati wajahnya maka pasangannya pun akan merasa senang diperhatikan.
Allah sebagai pencipta manusia berfirman melalui Daud tentang bagaimana mencari wajah-Nya. Adapun seringkali kita mencari Tuhan hanya untuk melihat “tangan-Nya”. Apakah tangan Tuhan sedang membawakan sesuatu untuk saya. Apakah tersedia berkat untuk hidup saya? Tidak salah kita meminta berkat kepada-Nya namun apakah kita juga mengenal kehendak-Nya. Apakah kita memberi perhatian kepada apa yang dimaui Allah. Mencari wajah-Nya adalah melihat bagaimana ekspresi Allah atas kita. Mampukah kita membuat-Nya senang atau sering untuk mudahnya maka kita mengatakan apakah kita mampu memuat Allah tersenyum? Jika anak kita menyambut kita didepan pintu saat kita baru saja pulang dari bepergian jauh, maka apakah yang dia ungkapkan? Apakah hanya menanyakan tentang buah tangan atau oleh-oleh? Atau dia bergembira saat menatap wajah kita? Ada kerinduan luar biasa didalam hati orang-orang percaya ketika ia menjumpai Allah. Tidak ada yang  lebih menggembirakan ketika kita berjumpa dengan Allah.
Kita menjumpai Allah melalui disiplin rohani. Salah satunya adalah melalui Saat Teduh, saat kita menjumpai Dia didalam firman-Nya. Saat kita mengetahui kehendak-Nya melalui firman yang sudah tertulis didalam Alkitab. Membaca firman secara teratur merupakan upaya mencari Wajah Allah. Didalam Kristus sebagai Juruselamat kita, ia menjadi pola atau bagi setiap kehidupan kita. Membaca firman adalah upaya kita agar menjadi serupa dengan Kristus.
Mari selama masih ada siang lakukanlah kehendak-Nya.


Melepas Pengampunan

Khotbah pagi tadi di GKI Ngupasan berjudul Melepas Pengampunan. Khotbah disampaikan oleh seorang Pendeta GKI Citra I Jakarta. Saya suka dengan simpelnya sistematika kotbahnya. Mudah dipahami dan mudah diingat, serta memotivasi seseorang untuk melakukannya. 
Didasari dengan Matius 18:21-35 tentang pertanyaan Petrus kepada Yesus, berapa banyak kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita? Kemudian Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang tuan yang mengampuni hambanya yang berhutang 10.000 talenta kepadanya, tetapi hambanya itu justru menekan hamba lainnya  yang hanya berhutang sebesar 100 dinar kepadanya. Tentu saja banyak teman teman nya yang tidak setuju dengan kelakuan hamba tersebut dan melaporkannya kepada Tuannya. Akhirnya hamba tersebut ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Sebagai perbandingan bahwa 1 dinar adalah upah pekerja untuk satu hari pada masa itu. Nilai satu talenta adalah 6000 dinar. Jadi jika dihitung maka 10.000 talenta = 10.000 x 6.000 atau 60.000.000 dinar. Jika ditarik lagi ke nilai rupiah maka 1 dinar kita anggap sama dengan UMP satu hari semisal 100.000 rupiah. Maka nilainya dalam rupiah adalah 60.000.000 x Rp. 100.000 atau setara Rp 6 trilyun.
Woow sebuah nilai yang sangat besar dan tak mungkin akan terlunaskan oleh hamba pertama yang berhutang kepada tuannya.  Jaman Yesus hidup masih sangat banyak terjadi praktek perbudakan. Hukum yang berlaku pada saat jaman itu jika seseorang berhutang dan tak bisa melunasi maka ia dan seisi rumahnya, anak dan isterinya akan diual untuk melunasi hutangnya. Namun dengan pengampunan tersebut maka seharusnya ada rasa syukur yang luar biasa pada hamba tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Hamba itu justru mencekik hamba lainnya yang hanya berhutang sebesar 100 dinar kepadanya.
Jika kita melihat perumpamaan yang disampaikan Yesus maka kita bisa berkaca atau bercermin daripadaNya. Apakah kita berlaku sebagai seorang hamba yang seperti dicontohkan? Pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang berapa seharusnya kita mengampuni kesalahan orang lain? Apakah 7 kali sudah cukup. Ternyata menurut hukum Yahudi mengampuni seseorang yang bersalah hanya diperbolehkan 3 kali saja. Nah Petrus sudah memperbanyak jumlahnya dalam pertanyaan yang disampaikannya, apakah 7 kali. Namun ternyata Yesus justru menjawab dengan jumlah yang spektakuler yaitu 70 kali 7 yang secara matematis adalah 490 kali. Apakah ini jumlah eksak yang harus dilakukan sebenarnya ketika kita harus mengampuni seseorang? Ternyata itu adalah jumlah yang tak terhitung ketika kita harus mengampuni seseorang. Angka 7 bilangan sempurna dan angka 10 menunjukkan bilangan genap jadi  memberi makna bahwa pengampunan itu bermakna sangat sempurna. 
Tetapi tidak mudah bagi seseorang memberikan pengampunan, sebab ingatan kita didesain lebih mudah mengingat ingat kejadian yang menyenangkan dan kejadian yang menyakitkan. Itulah sebabnya maka mengampuni itu justru bukan melupakan, sebab pastilah tidak bisa melupakannya. Mengutip Eka Dharmaputera yang mengatakan bahwa mengampuni bukanlah melupakan tetapi justru harus mengingatnya kemudian baru kita melepaskan pengampunan itu. Mengampuni adalah melepaskan Hak pembalasan yang seharusnya bisa kita lakukan atas kesalahan orang yang bersalah kepada kita. Dicontohkan tentang seorang Nelson Mandela yang dipenjara selama 27 tahun akibat dia melawan politik Apartheid di Afrika dan harus mengalami pemenjaraan, penyiksaan yang luar bisa. Sampai diceritakan bahwa Nelson Mandela pernah suatu saat pernah digantung terbalik dengan kepala dibawah sambal dipukul dan dikencingi oleh sipir penjara. Dia menerima tanpa melakukan perlawanan. Sampai akhirnya pada usia 71 tahun ia dibebaskan dan 4 tahun kemudian Nelson Mandela menjadi seorang Presiden di Afrika selatan. Saat pelantikannya dia justru mengundang sipir penjara yang pernah menyiksanya, sipir itu masih hidup. Dia diundang sebagai tamu kehormatan dan saat seusai pelantikan Nelson Mandela memberi salam kepada sipir sambal mengungkapkan bahwa dia bersyukur sudah mengalami  peristiwa didalam penjara yang sebenarnya mendukung dirinya untuk sampai pada keberhasilan apa yang diperjuangkannya selama itu. Padahal kalau secara manusiawi bisa saja Nelson Mandela membalas dengan menghukum si sipir penjara tersebut.
Kotbah diakhiri dengan sebuah sajak tulisan Pdt Em Kuntadi Sumadikarya yang menceritakan tentang bagaimana seseorang yang belajar mengampuni di ibaratkan sebagai orang yang sedang belajar naik sepeda. Saat pertama kita belajar naik sepeda maka tentu akan terjatuh, kita harus siap dengan lutut terluka, harus memperhatikan bagaimana mengayuh, bagaimana menggerakkan tubuh untuk menjaga keseimbangan, bagaimana memegang kemudi yang sebelah kiri atau sebelah kanan. Namun setelah beberapa kali belajar maka kita akan lancer, tetapi kita harus berani jatuh. Tanpa berani jatuh dan terluka maka kita tidak akan bisa naik sepeda. Demikian juga dengan pengampunan, tanpa kita mau sakit maka kita tidak akan pernah bisa mengampuni dengan baik.

*) Disarikan dari Khotbah pukul 06.30, tanggal 17 September 2017, di GKI Ngupasan Yogyakarta disampaikan oleh Pendeta Dani Purnomo dari GKI Citra I Jakarta.
( Sumber foto: Google )


Halaman

Selamat bertemu kembali pembacaku...

Kemarin siang saya merenungkan tentang kehidupan ini, seperti biasa saya adalah orang yang suka menganalogi.  Kebetulan saat ini sedang memperoleh rejeki untuk membangun sebuah rumah kecil.
Didalam sebuah kesatuan rumah, bisa dipastikan terdiri dari bangunan rumah itu sendiir, halaman depan rumah dan juga halaman belakang rumah. Itu kalau kita membangun dengan tanah yang cukup luas.
Mayoritas hidup kita ada didalam rumah, entah didalam kamar atau di ruang tamu atau di dapur. Seperti menggambarkan kehidupan kita pada masa sekarang ini, saat kita hidup ini ada di saat ini. Bukan di masa lalu atau di masa depan. Disinilah kita berkarya, kita bekerja, kita membina rumah tangga, bersekolah dan sebagainya. Saat dimana kita boleh bersyukur atas nikmat dari yang Maha Kuasa.
Halaman belakang saya ibaratkan masa lalu kita.  Kita menaruhnya dibelakang agar tidak terlihat oleh orang lain. Halaman belakang juga merupakan tempat favorit untuk bersantai tanpa harus berisik dengan aktivitas orang lalu lalang di halaman depan. Tempat tersembunyi tetapi tetap merupakan bagian dari keutuhan sebuah rumah.Masa lalu adalah bagian dari hidup kita yang tidak bisa dihapus begitu saja, bisa jadi kita menganggapnya sampah tak berguna karena di halamn belakang kadang kita meletakkan WC tempat pembuangan. Namun kita harus menghargainya karena itu juga yang membentuk hidup kita secara utuh.
Sedangkan halaman depan lebih suka saya umpamakan sebaga halaman penuh kesenangan, merupakan masa depan kita atau rencana rencana hidup menuju ke masa depan. Halaman depan adalah tempat sepintas orang dapat melihat kondisi rumah kita. Rumah kita bagus, bersih, menarik akan tampak jelas manakala seseorang melihat halaman depan kita.  Oleh karenanya penampilan halaman depan selalu dibuat semenarik mungkin, penuh bunga indah, rumput tertata menghijau, lampu taman menyala cerah, dan sebagainya. Untuk masa depan kita selalu merencanakan yang terbaik dan termanis. Tempat kita menerima tamu yang merupakan ide ide untuk masa depan kita.

Semoga tulisan ini menginspirasi kita semua.
Selamat pagi
Notes: Jogja sudah mulai macet, banyak mobil mobil luar kota mulai berdatangan.
Selamat menjelang hari Lebaran

Tertipunya seorang Hawa

Setiap kali saya membaca kisah penciptaan di Kitab Kejadian selalu saja ada hal hal baru yang saya peroleh, memang sungguh dalam dan luasnya Firman Tuhan. Baru saja saya mempertanyakan dalam hati saya mengapa Hawa seolah olah tidak memiliki sebuah benteng pertahanan atau proteksi apapun ketika dia dibujuk oleh ular agar memakan buah pengetahuan baik dan jahat. Seperti biasanya kalau kita hendak ditipu oleh orang tentu kita diberi perasaan tertentu yang membuat kita waspada terhadap orang orang ternentu sehingga membuat kita terhindar dari tipu daya. Tidak demikian dengan Hawa, Alkitab tidak mencatat saat Hawa mempertahankan atau berdebat dengan ular, mempertahankan larangan yang sudah ditetapkan oleh Allah.
Ada hal menarik yang saya perhatikan disana. Yang pertama adalah bahwa larangan  di Kejadian 3:3b, “Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati”. Tentu makna “mati” dalam hal ini bisa dipersepsikan secara multitafsir, tetapi jika salah satu tafsirannya adalah mati secara fisik maka tentu baik Adam maupun Hawa tidak pernah melihat orang mati pada saat itu sehingga bawah sadarnya tidak ada file yang memberi pemahaman bagaimana sesungguhnya mati itu, hal ini mengakibatkan Hawa tidak merasa takut sekalipun itu adalah perintah Allah.
Hal kedua yang menarik adalah masih berkaitan dengan bawah sadar Hawa yang tidak mempunyai pengalaman negative/jahat sekalipun. DIa tidak pernah ditipu sama sekali sehingga ketika saran jahat yang diberikan ular agar memakan buah tersebut disampaikan. Hawa sama sekali tidak mempunyai persepsi negative terhadap ular. Oleh karena itu dengan mudahnya saran ular itu dipenuhinya.
Hal menarik ketiga adalah bagaimana ular mempunyai kemampuan mengeliminasi perintah Tuhan didalam pikiran Hawa. Ular memberi label baru bahwa makan buah pengetahuan baik dan jahat  bukan “berakibat mati” tetapi berakibat “matamu akan terbuka “ ( lihat Kej 3:5a ). Pemberian makna baru inilah yang mengakibatkan Hawa seolah olah membiarkan larangan Allah ditindih dengan makna baru yg dibelokkan oleh ular. Lihatlah pada Kej 3:6 itulah makna baru yang sudah diserap oleh Hawa, yang menurut saya itulah awal dosa yang mengintip. “Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan….”

Tentu semua yang saya tuliskan diatas adalah hasil pemikiran saya pribadi yang bagi saya tidak bermaksud untuk menyalahkan siapapun. Tetapi satu hal bahwa ular sudah melakukan hal ini sejak awal dunia dijadikan, sedangkan kita sudah kalah terlebih dahulu pada saat awal dunia dijadikan. Sudah barang tentu kita tidak bisa membebaskan diri kita sendiri tanpa Kasih Karunia Allah yang begitu besar ingin memperoleh kembali kita manusia untuk bersatu dengan KasihNya. Sedangkan pada saat kita manusia bisa berhadapan dengan Allah langsung pun si iblis bisa menerobosnya.

Kado Natal dari Tuhan

Setidaknya di bulan Desember ini ada dua peristiwa yang merupakan kado natal dari Tuhan. Sebuah kado layaknya dibungkus dengan bungkus yang indah dan selalu menarik untuk diketahui apa isinya.  Namun semua kado dari Tuhan adalah baik isinya, barangkali bungkusnya secara kasat mata tidak menarik bagi kita.  Beginilah kado yang pertama. Hari Minggu kami bertiga hampir saja menabrak orang yang berdiri di tengah perempatan/pertigaan sehabis lampu merah dan sedang asyik memotret sesuatu. Orang tersebut tidak memperhatikan bahwa lampu merah sudah berubah menjadi hijau yang artinya kendaraan segera berjalan. DIsamping kanan saya ada mobil juga yang bersamaan berjalan. Si orang tersebut menghindari tertabrak mobil dikanan saya dan bergerak kearah depan mobil saya. Beruntung saya menjalankan mobil dengan kecepatan rendah karena habis berhenti di lampu merah. Sungguh mengagetkan tiba tiba saja di kepadatan lalu lintas Jogja ada orang yang tiba tiba ada dihadapan mobil saya. Namun beruntung saya melambatkan kembali laju kendaraan dan memberi kesempatan si orang itu menyeberang ke tepi jalan. Huuh menyebalkan sekali, tetapi saya tetap bersyukur betapa Tuhan begitu detil memberi kebaikan untuk orang itu dan juga keluarga saya.
Inilah kado kedua saya, ini lebih ngeri bro haha… Ceritanya hari selasa sore itu kami hendak mengantar si kecil les kemudian dilanjut ke sahabat kami untuk bersilaturahmi sekaligus membawakan bingkisan natal sebagai jalinan kasih kami.  Baru 5 menit kami duduk di ruang tamu, sementara isteri saya numpang ke kamar mandi, eh mobil kami dipecah maling. Alhasil satu tas dompet, blackberry juga handphone amblas dibawa maling. Kami terbengong bengong karena kejadian itu berlangsung sangat cepat, ada kemumngkinan si maling sudah lebih dahulu menunggu hadiah nya dating haha. Singkat kata saya ke kantor Polisi melapor dan memblokir beberapa kartu kredit. Dengan kondisi gerimis dan pintu depan kiri mobil terbuka, kami pulang dengan rasa berkecamuk, antara rasa jengkel dan marah. Tetapi sudahlah semua juga sudah beralngsung. Kedepan tentu kami harus berhati hati, tidak boleh lengah barang sedetik karena penjahat lebih telaten daripada kita. Keesokan paginya ketika saya hendak membawa mobil untuk saya ganti kacanya ke bengkel, ternyata oh ternyata ban kami kempes habis, yaa ban kanan belakang. Inilah berkat yang masih kami syukuri yaitu kami bisa pulang dengan selamat meski sekian lama harus di kantor polisi dan ke gerai XL untuk mengganti kartu. Ternyata ban mobil sudah ditusuk dengan logam semacam alumunium sepanjang 2 centimeter dan material itu masih tertancap sampai pagi. Sepanjang perjalanan itu udara didalam ban tetap setia membawa kami sampai kerumah dengan selamat. Luar biasanya Tuhan, lagi lagi DIA begitu detil memperhatikan anak anakNya.

Itulah kado terbaik buatku dari Tuhan. Selamat Natal.

Yesus Kristus dan kesederhanaan, sebuah refleksi akhir tahun

Refleksi akhir tahun

Tidak terasa 25 Desember sebentar lagi, jika demikian artinya seminggu lagi kita sudah akan meninggalkan tahun 2014 bersama sama.  Tentu banyak hal banyak janji resolusi yang akan kita evaluasi bersama diakhir tahun ini. Belum lagi belanja ini dan itu, pesta ini dan itu.  Menjelang hari Natal banyak toko toko menggelar diskon, mengobral harga. Menjelang natal banyak gereja gereja akan penuh kembali, secerah lampu lampu natal yang berkedap kedip seperti itulah rupanya iman orang percaya. Bisa jadi pada menjelang Natal ini imannya sedang cerah atau sedang naik daun, sehingga begitu bersemangat mendatangi acara acara sekitar Natal.
Kita kehilangan makna kesederhanaan Yesus Kristus yang hanya lahir di sebuah kandang domba, kita lebih senang merayakan natal dengan tontonan yang hebat, unik dan penuh tata lampu dan tata suara yang membahana. Kita lebih suka menghadiri pesta pesta natal yang memberikan hidangan hidangan yang lezat, sementara kita menantikan hidangan disajikan maka kita bisa menyaksikan aneka pertunjukan dan konser music yang luar biasa. Sementara gembala dipadang menantikan kedatangan kabar sukacita hanya berteman dinginnya udara malam dan domba domba yang sudah terlelap.
Apakah penantian kita dan keinginan kita mendapatkan jawaban yang final disaat Yesus Kristur lahir dihati kita? Peringatan demi peringatan kelahiran Kristus sudah kita lalui dan seperti biasanya makna atau tema tema natal akan segera berlalu seiring datangnya tahun baru. Kita sering melihat atau bahkan mengalami betapa panitia natal, pemusik, arranger, pengarah acara, pemain drama, para majelis, para pendeta sedemikian sibuk dan lelah menjelang Natal, tetapi benarkah mereka memperoleh makna dari peringatan ini.  Kadangkala kita tidak memperoleh makna kelahiran itu sendiri, padahal sebenarnya sangat sederhana.  Hanya manusia yang suka melebih lebihkan, peringatan natal jaman sekarang sudah terlalu berlebihan dan telah bergeser dari kesederhanaan Kristus.  Barangkali saja yang kita inginkan bukan Kristus yang lahir dikandang domba tetapi Kristus yang lahir gagah perkasa berbalutkan kain mahal, lahir dikerajaan bertahtakan emas permata, kemudian dewasa dengan membawa pedang dan menunggang kuda perang. Oh betapa kita sudah menggeser makna kelahiran Kristus dari sederhana menjadi mewah atau super mewah.
Mudah mudahan kita tetap mencintai kesederhanaan seperti ketika Yesus lahir dihati kita.

Abraham yang setia

Janji manusia kadang kadang hanyalah sebuah janji yang sifatnya lips service atau hanya dibibir saja. Betapa kita lebih sering mengingkari janji daripada mentaatinya, terutama kepada pihak pihak yang dirasa lebih rendah preferensinya daripada kita. Pikir kita, ah tentu kita bisa membuat janji lagi dilain waktu sesuai keinginan kita. Tetapi lagi lagi kitapun tidak setia dengan janji tersebut.
Sampai sampai semua perikatan bisnis yang professional harus memakai surat surat perjanjian, saksi saksi dan juga sangsi sangsi demi menjaga tegaknya eprjanjian yang dibuat oleh manusia.
Bagaimana dengan janji Allah kepada Abraham ? Bacaan kita dari Kejadian 12:1-9 mencatat janji janji Allah kepada Abraham yang sangat padat, saya mencoba mengurai dari ayat ayat tersebut sebagai berikut :

  • ·         Allah akan menunjukkan sebuah negeri kepada Abraham.
  • ·         Allah akan menjadikan Abraham bangsa yang besar.
  • ·         Allah akan memberkati Abraham.
  • ·         Allah akan menjadikan nama Abraham mashyur.
  • ·         Allah akan memberkati mereka yang memberkati Abraham dan sebaliknya akan mengutuk mereka yang mengutuk Abraham.
  • ·         Allah akan memberikan negeri kepada keturunan Abraham.


Janji Allah yang begitu padat bergizi tersebut diberikan kepada Abraham tentu bukan tanpa syarat sama sekali, tetapi dari sisi inisiatif Allah sungguh kita melihat bahwa Abraham adalah manusia pilihan sehingga Allah mau memberinya janji berkat yang sangat besar.
Sebagai bukti janji lisan Allah maka Allah menguatkannya dengan secara visual, lihatlah pada ayat ke 7 dimana Allah menampakkan diri kepada Abraham. Barangkali ini dipandang Allah sebagai hal penting sehingga DIA berkenan menampakan diri kepada Abraham sekaligus meneguhkan janji janjiNYA.
Disis lain Abraham juga merespon dengan mendirikan mezbah di tempat dimana Allah menampakan diriNYA.
Janji Allah adalah janji yang YA dan AMIN, terbukti Abraham menjadi orang termashyur disepanjang jaman dari dialah lahir bangsa bangsa besar sampai sekarang. Bagaimana kita sebagai manusia menanggapi janji janji Allah? Respon kepercayaan dan penyerahan diri kita kepada Allah akan menentukan bagaimana nanti janji janji itu akan dipenuhi. Abraham adalah sebuah contoh besar dari penggenapan janji Allah, disisi lain pun Abraham adalah Bapa Orang Beriman, dia memegang janji itu dengan luar biasa. Perhatikanlah juga bahwa ada perintah Tuhan didalam janji janjinya, dan sekali lagi Abraham adalah pelaku Firman Tuhan yang taat. Bagaimana dia bisa dan mau berangkat ke sebuah negeri yang sama sekali tidak dia ketahui, tentu semua ini karena iman dan kesetiaan Abraham merespon janji Allah.

Meneladani Kristus

Seringkali satunya kata dan perbuatan merupakan sebuah penanda apakah seseorang bisa bekerja dan berkarya dengan baik dalam hidupnya. Orang orang yang visa dipercaya tentu mempunyai satu kata dan satu perbuatan. Mereka tidak munafik dan tidak berbohong, melakukan apa saja yang sudah dikatakannya, bukan sekedar pencitraan.

Injil Matius 5:13 mencatat :"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang"

Maksud terkandung dalam ayat ini adalah :

  • Jika kita diumpamakan sebagai garam maka sesuai dengan namanya demikian pula rasanya. Jika kita adalah garam maka harus asin rasanya, Jika kita orang yang sudah lahir baru maka harus serupa dengan Kristus. Mencontoh karakter Kristus. Jika kita adalah murid Kristus tetapi kelakuan kita diluar Kristus, inilah yang dinamakan garam yang sudah tidak asin.
  • Sesungguhnya tidak ada garam yang tidak asin. Ini memperlihatkan kepada kita betapa kadar keKristenan adalah sebuah keharusan. Keseuaian dengan Kristus adalah sesuatu yang hukumnya wajib. Karakter Kristus yang suka melayani adalah salah satu contoh yang harus menjadi teladan bagi murid muridNya.
Semoga menginspirasi

Tawaran Kasih Allah didalam Yesus Kristus

Renungan Kristiani



 Pernahkah Anda makan di resto siap saji yang menjual Pizza, setiap kali saya makan disana pada saat waitress melihat bahwa piring piring kami sudah kosong maka dia akan menawarkan apakah ada tambahan menu untuk kami pesan lagi?  Padahal sudah barang tentu kami cukup kenyang dengan makanan yang baru saja habis disantap.  Namun itulah tugasnya untuk meningkatkan penjualan, siapa tahu juga kita memesan untuk oleh oleh bagi yang ada dirumah.  Demikian juga dengan minimarket 24 jam yang menjamur di pelosok negeri ini, kasir selalu menanyakan kepada saya saat saya membayar belanjaan.  “ (hanya beli) Ini saja pak?”, maksudnya adakah pembelian lain yang terlupa sebelum meninggalkan kasir.  Semua dilakukan oleh penjual untuk menambah omset atau nilai penjualannya. 
Semua ditawarkan karena kita sudah terlebih dahulu membeli kepadanya. Tetapi Yesus Kristus menawarkan keselamatan atas jiwa kita bukan karena kebaikan kita, bukan karena kita sudah melakukan sesuatu kepada Allah. Bahkan kita masih ada dalam kondisi berdosa.  Begitu besar kasihNya kepada dunia ini. “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal ( Yohanes 3:16 )

Tentang Tujuan Hidup Manusia



Setiap manusia harus mempunyai tujuan hidup.  Baru baru ini di Yogyakarta dalam seminggu terjadi dua kali orang yang bunuh diri, tentu mereka mengalami permasalahan yang berat sehingga hidupnya tidak mampu menanggung permasalahan itu.  Akhirnya orang tersebut mengakhiri jalan hidupnya dengan caranya sendiri yaitu bunuh diri.
Bagaimana seseorang dapat mengenal tujuan hidupnya? Seumpama kepada kita diberikan sebuah benda yang sebelumnya tidak pernah kita lihat atau jumpai, kemudia kita diminta untuk menentukan fungsi alat tersebut untuk apa? Maka kita pasti tidak bisa menentukan manfaat atau fungsi alat tersebut.  Baru kemudian jika pencipta alat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa ternyata alat tersebut digunakan untuk bla bla bla.  Sama juga dengan manusia untuk mengetahui tujuan hidupnya maka dia harus bertanya kepada Penciptanya, karena hanya Tuhan sang pencipta manusia yang tahu tujuan manusia itu diciptakan.  Memang banyak manusia yang berusaha mencari tahu melalui berbagai cara agar mengetahui jalan hidupnya namun usaha itu akan sia sia. Manusia tidak akan pernah tahu tujuan hidupnya karena hanya Tuhan yang tahu. :
Akhirnya pertanyaan penting bagi kita bukanlah “Apakah yang akan kita capai?” tetapi “Apa yang ingin Tuhan capai melalui hidup kita?”

Hikmat Tuhan, benarkah itu ?

Semalam saya masih merenungkan masalah tanggal dimana saya jatuh sehingga mengakibatkan tulang Klavikula saya patah. Setidaknya dua orang memberi masukan kepada saya agar menelisik mengapa saya sampai jatuh disana? Tentu untuk menelisik diperlukan rasa atau hati. Sebab tidak mungkin bagi saya bertindak macam detektif mencari tahu kesana kemari, lagian mesti mencari tahu kepada siapa?  Harilepas hari setidaknya sudah terlampaui sebanyak 96 hari saat saya memposting tulisan ini. Meski tidak secara aktif mencari tahu namun dalam hati saya mempergumulkannya.  Dalam doa doa saya selalu bertanya kepada Tuhan, “Apakah makna dari kejatuhan saya Tuhan”, tentunya ini akan dianggap aneh oleh sebagian orang, karena untuk apa mencari tahu tentang hal hal yang sudah lewat, ambil saja hikmahnya yaitu harus berhati-hati, Memang sebagian nasihat itu benar namun karena saya yang mengalaminya sendiri maka tentu dalam hati saya selalu dirundung rasa ingin tahu yang berlebihan.  Seorang teman bahkan mengatakan bahwa saya barangkali “menabrak” sesuatu mahluk tak nampak mata sehingga membuat mahluk itu tersinggung lalu menjatuhkan saya. Entahlah.
Namun kemarin malam saya mendapat hikmat Tuhan dari dalam pemikiran dan pemahaman saya.  Ketika semalam sekitar jam 01.30 saya terbangun saya mendapat pemahaman bahwa saya harus memperhatikan orang tua saya.  Entahlah saya setangah percaya dan tidak.  Saya ingat waktu saya jatu adalah tanggal 22 bulan 2, jika ditari kebelakang atau semua angka dikurangi satu maka akan muncul angka tangal 21 bulan 1 dan itulah tanggal dimana Ibu saya dipanggil oleh Tuhan.  Memang sudah sekian lama saya tidak nyekar. Ah tetapi saya masih mempergumulkannya, karena apakah Tuhan se tega itu mengingatkan saya sampai saya harus jatuh dan mengalami patah tulang?  Ibu saya meninggal dan jenazahnya dikremasikan, abunya saya larung ke Parangkusumo.  Beberapa bulan semenjak berpulangnya saya selalu datang ke Parangtritis untuk sekedar menabur bunga tanpa memanjatkan doa, hanya mengenang segala kebaikannya dan meneruskan apa yang sudah menjadi semangat kebaikan ibu saya. ( dalam agama kami, Kristen tidak ada mendoakan bagi arwah karena kami percaya urusan setelah kehidupan adalah hak sepenuhnya Tuhan semesta alam. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan )
Sampai sekarang saya masih terus bertanya kepada Tuhan, benarkah itu suara Tuhan yang memberi hikmat kepada saya?