KESADARAN, apakah sebenarnya itu?

 


Kata Kesadaran jika tidak direnungkan mendalam maka hanya menjadi kata seperti kata-kata lainnya di dalam perbendaharaan kita manusia. Namun bila kita mempertanyakannya secara mendalam, maka kata Kesadaran ini penuh dengan misteri.

    Mengapa kata kesadaran ini penuh misteri, karena di dalam kesadaran kita sebagai manusia mampu berpikir dan bertindak dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Seolah-olah bahwa kehidupan kita dikendalikan oleh kesadaran itu sendiri. Sementara "ketidaksadaran" membuat kita tidak mampu mengendalikan diri kita/ bahkan orang lain dengan baik.  Sebagai contoh ketika manusia sedang tidur, kesadaran ini seolah-olah hilang. Sehingga kita pun tidak mampu menggerakkan tubuh kita, anggota-anggota badan kita.  Meskipun saat bermimpi kita masih mengingat apa yang kita impikan -berarti kesadaran masih bekerja, sekalipun dalam mimpi. 

    Tetapi bagaimana saat orang sedang dibius total seperti ketika menjalani operasi? Apakah kesadaran itu masih ada? Sementara Jantung, sistem pencernaan, otak masih bekerja dengan baik tetapi dalam hal ini kesadaran -atau ingatan/memor, dalam kasus ini- tidak bekerja secara sempurna.   Dalam mimpi kita masih mengingat mimpi kita. Tetapi dibawah pengaruh obat bius, daya ingat kita tidak berfungsi.  Seperti ada jeda tak tercatat saat kita berada di bawah pengaruh bius total.  Saya pernah operasi tulang selangka patah, dibius total.  Ingatan saya hanya mencatat saat bius di ambang bekerja, lalu ..... lapse hilang, dan tiba-tiba saya mendengar dokter membangunkan saya, kemudian saya tersadar kembali.  Yang terlelap di meja operasi tidak pernah saya ingat, sebab tidak ada catatan yang tertinggal. 

    Kemarin malam saya mendengarkan seorang wanita teman isteri saya menceritakan pengalamannya yang ia sebut sebagai mati suri. Kejadiannya adalah saat dia dioperasi untuk kuret karena keguguran bayinya.  Dia merasa seperti ( dalam penglihatannya ) keluar dari tubuhnya lalu dibawa oleh sesuatu ( mungkin disebut sebagai malaikat), ke tempat yang terus meninggi dan bermandikan cahaya terang nan menenteramkan.  Dan dia bertemu sosok berjubah putih yang kemudian menyurhnya kembali.  Sehingga kemudian ia tersadar.  Apapun namanya itu  apakah pengalaman di dekat kematian ( Near death experience ) atau mati suri, saya tidak terlalu paham.  Atau itu memori-memori dalam pikiran yang bekerja karena bius yang terlalu "banyak" diberikan sehingga berakibat demikian pada otak? Ataukah itu benar-benar mati ( artinya mati batang otak, henti jantung dsb ), saya juga tidak tahu.  tetapi mengapa dalam hal ini kesadaran dan memorinya bisa bekerja?  Terbukti dia bisa menceritakan dengan gamblang peristiwa yang dialaminya.  Sampai-sampai dia berkesimpulan "tidak usah takut dengan kematian" karena Yesus sudah menyambut kita di surga, dia seorang yang beragama Kristen.

    Gambaran-gambaran persitiwa yang dialami oleh beberapa orang selalu membuat saya bertanya-tanya tentang kesadaran itu sendiri.  Pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah kesadaran saat kita meninggal dunia.  Sementara memori-memori peristiwa tercatat di dalam otak kita. Jika kematian dialami oleh orang, maka otak juga akan mati sebagaimana organ-organ lain dalam tubuh.  Maka apakah kesadaran itu akan membawa memori atau ingatan manusia yang sudah mati?  Mungkinkah sebenarnya kesadaran adalah jalur mengunggah memori-memori kedalam cloud semesta yang berisi kesadaran semesta yang menyatu dalam sebuah "penyimpan" berkapasitas sangat-sangat besar?  Atau mungkinkah ada organ tersembunya dalam tubuh kita yang akan aktif/hidup di saat otak dan yang lainnya justru mengalami kematian? Organ tersembunyi inilah yang akan membawa kesadaran sekaligus akses menuju kesadaran semesta?

    Ini hanya angat angan dan imajinasi saya sendiri. Karena barangkali sudah ada pengujian atau pengamatan tentang kesadaran ini yang selalu dibahas tiada henti di sepanjang peradaban manusia.


Salam

JALAN KEABADIAN SIAPA?

 Saya pernah punya pengalaman menungguin seseorang yang sedang dalam sakaratul maut sampai menuju kepada kematian.  Setidaknya sebanyak dua kali, yang pertama ibu saya sendiri dan yang kedua adalah kakak ipar saya. Dari pengalaman ini saya sepertinya mengambil kesimpulan bahwa "agama" yang dianutnya beserta dengan ritual/doa-doanya yang akan mengantar almarhum menuju kepada kebadian.  Namun diatas semuanya, bagi orang beriman tentu lebih meyakini bahwa Tuhan yang mereka percaya yang akan menjemput menjelang roh itu terlepas dari wadag nya.

    Jadi begini, saat saya mendampingi almarhumah ibu saya, maka saya mendoakan secara Kristiani sesuai kemampuan saya. Mohon Tuhan menjemput roh ibu saya, demikian saja intinya. Dan sejenak kemudian memang benar-benar terjadi ibu saya wafat.  Kedua adalah kakak ipar saya, kebetulan saat maut hendak menjemput saya dan isteri sempat menemaninya.  Bersama dengan kami ada seorang ibu yang kebetulan pengurus kring (wilayah) yang sama-sama beragama Katolik, dia malam itu juga menunggui kakak ipar saya. Sementara menjelang jam 01,00 beliau hendak pulang ke rumah lalu meninggalkan selembar foto kopian kertas doa secara Katolik. Maaf saya juga tidak hapal doa apa itu, karena saya sendiri Kristen Protestan.  Kemudian saat kakak ipar mulai tersengal-sengal, saya mencoba mendoakan dengan doa secara Kristiani. Tetapi apa yang terjadi? Tidak terjadi sesuatu yang berarti. Namun kemudian setelah dibacakan doa secara Katolik sesuai agama yang dianutnya, berangsur-angsur napasnya terhenti.

    Entahlah dengan dua sampel ini barangkali masih belum bisa diambil sebagai sebuah kesimpulan?  Tetapi bisa jadi begitulah adanya. Hanya oleh iman saja kita mempercayai hal-hal tersebut.

    Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi bahan pertimbangan bagi teman-teman yang sedang (maaf) menjumpai hal-hal semacam itu.


Salam