Bahkan saya tidak terlalu yakin masih ada yang membaca tulisan ini
Sebagai seorang anak tunggal, saya tidak memiliki saingan di dalam rumah saya semenjak kecil. Bukan karena orang tua saya memanjakan saya, sama sekali tidak. Sebab semua pekerjaan rumah tangga mampu saya kerjakan semasa kecil saya. Keluarga ekcil saya adalah keluarga sederhana yang hidup dari penghasilan ibu saya sebagai penjahit dan ayah saya sebagai sebuah karyawan toko di bilangan solo bagian selatan membuat kami hidup sederhana di sebuah rumah kontrakan. Cita-cita untuk memiliki rumah sendiri barangkali tak pernah hinggap di mimpi kedua orang tua saya yang hanya mengandalkan gaji dan upah jahitan dari orang-orang yang menjahitkan bajunya.
Namun demikian kehidupan sederhana saya di Solo tidak membuat saya sedih ataupun tidak berbahagia, sebagai anak tunggal tentu saya menjalani kehidupan masa kecil sampai masa remaja sebagaimana adanya orang-orang lain, meskipun kedua orang tua saya saya pandang over protektif kepada saya. Namun saya bisa memakluminya dan memandangnya sebagai sebuah kewajaran dari sudut pandang orang tua yang hanya memiliki satu anak saja. Kelahiran saya pun dianntikan selama 7 tahun oleh orang tua saya, sehingga wajar saja mereka eman terhadap anaknya. Kegiatan mencuci piring/gelas, menyapu, mengepel, menimba air, mencuci pakaian, memasak nasi sudah sangat-sangat saya pahami segala lekuk likunya. Bahkan menanak nasi di zaman itu belum memakai apa yang namanya Rice Cooker atau sejenisnya yang sekarang begitu canggihnya dengan berbagai mode menanak. Mulai mencuci beras sampai memasukkannya ke dandang saya cukup fasih melakukannya. Sangat jarang seorang laki-laki mampu melakukan tugas rumah tangga semacam itu. Bahkan saat memasak pun, saya diminta untuk mempersiapkan racikan2 sayur dan bumbu oleh ibu saya. Sebenarnya ini sebuah keuntungan bagi saya, hingga di masa tua ini tidak lagi merasa canggung saat melakukan kegiatan masak-memasak untuk pribadi sendiri.
Jadi sekalipun saya hidup "sendiri" namun banyak hal mampu saya kerjakan tanpa bantuan orang lain. Sehingga rasa atau semangat bersaing saya begitu rendah. Termasuk di sekolah, saya hanya menjalankan kegiatan belajar yang semestinya. Sehingga prestasi saya pun lumayan sejak di kelas 1 SD sampai SMA. Selalu ada dalam range 5 besar, beberapa kali nomer 1 atau nomer 2. Lumayan lah haha.... Dapet penghargaan ini itu, hadiah ini itu. tetapi semua itu tidak saya dasari karena ingin jadi nomer 1, sebab dirumah saya sudah nomer 1 dan satu satunya....
Oleh karena latar belakang itulah kehidupan saya selanjutnya ada dalam mode "narimo ing pandum", menerima apa adanya tanpa ingin bersaing. Di satu sisi ini mengandung keburukan yang membuat hidup serasa kurang nendang. Tetapi tentu ada sisi lain yang membuat hidup terasa damai dan minim konflik dalam pikiran. Baru setelah memasuki dunia kerja, saya melihat bahwa pekerjaan sebenarnya penuh dengan semangat persaingan. Sekalipun dalam konteks budaya di Jawa/ Jogja kita sering melihat persaingan itu dalam wujud yang lebih halus. Bukan mahluk halus ya hahaha....
Besoklah saya lanjut lagi perspektif dan keisengan saya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar