Teruslah menghina ?


Yang direndahkan tak selalu rendah

Jika kita memperhatikan dua calon Presiden dan wakilnya untuk pemilihan umum tahun 2019, persaingannya benar-benar panas. Namun memang ada salah satu calon yang saya perhatikan lebih suka bersaing dengan cara cara yang konfrontatif, lebih suka diekspose sekalipun kadang-kadang menggunakan cara cara yang tidak elegan. Cara-cara yang merendahkan pihak lain kadang-kadang membuat orang lain menjadi tidak nyaman. Seperti misalnya menyebut tampang Boyolali yang serta merta menuai kritik dari mereka yang lahir di Boyolali. Kemudian wartawan tidak bisa kaya, serta merta membuat wartawan gerah, lalu akhir akhir ini adalah “lulusan SMA paling banter cuma jadi tukang ojek”, yang inipun pasti membuat tukang ojek menjadi bergejolak.

Tetapi diatas semuanya itu marilah saya ajak kita melihat sisi positif dari pernyataan-pernyataan tersebut.  Kita lihat bahwa semua pernyataan merendahkan itu tidak terbukti nyata, hal tersebut nampak dari respon yang begitu santer setelah pernyataan tersebut diluncurkan. Justru terjadi hal hal yang berkebalikan. Bahwa sesungguhnya ada juga tampang Boyolali yang sukses sebagai orang terpandang dan berjabatan, bahwa sesungguhnya ada banyak wartawan yang sukses secara finansial, bahwa sesungguhnya banyak tukang ojek yang menjadi tumpuan hidup keluarganya dan juga sukses, tidak semua tukang ojek hidup sengsara. Bahwa ada dokter yang punya sambilan sebagai tukang ojek itu sungguh sebuah kenyataan yang menohok. Bahwa ada banyak hal positif dimunculkan akibat adanya pernyataan kontroversial tersebut.

So bagaimana? Kalau sudah begini saya bersyukur ada orang yang memancing bawah sadar kita bahwa sebenarnya tak ada yang perlu direndahkan karena sesungguhnya kita duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi.  Bangsa kita bangsa yang beradab dan mulia, tentu tak pantas sesama anak bangsa salin merendahkan. Tetaplah berjuang untuk kemajuan Indonesia.

BEGITU DEKAT, BEGITU NYATA


Markus 5:21-43

Entah kebetulan atau tidak dua kejadian ini disajikan didalam sebuah perikop yang sama? Kejadian perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun dan peristiwa anak yairus yang sakit keras.  Keduanya diungkapkan bersama – sama dalam satu perikop karena mempunyai tujuan yang hendak disampaikan oleh Yesus kepada kita semua.
Beberapa hal menarik tentang keduanya :
  •  Keduanya berkisah tentang orang yang sakit, yang satu adalah wanita yang sakit pendarahan dan yang lainnya adalah anak perempuan dari Yairus seorang kepala rumah ibadat.
  • Si perempuan yang sakit pendarahan datang sendiri di dekat Yesus, sedangkan anak perempuan Yairus tidak datang secara langsung, tetapi hanya Yairus ayahnya yang datang memohon kesembuhan kepada Yesus.
  • Perempuan itu sudah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah menghabiskan harta si perempuan itu untuk mencari kesembuhannya. Yairus rupanya langsung mencari Yesus untuk meminta kesembuah anaknya, ia bukan mendatangi tabib atau penyembuh lainnya terlebih dahulu.
  • Baik perempuan yang sakit pendarahan itu disembuhkan oleh Yesus, demikian pula anak yairus yang sakit bahkan dikatakan sudah mati.
  • Baik perempuan maupun Yairus masing-masing mengemukakan pernyataan iman yang begitu detil. Si perempuan yang sakit pendarahan menyatakan (ayat 18 )“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh”. Sedangkan Yairus demikian juga, ia mengatakan ( ayat 23 b ) :”letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup”
  •  Uniknya untuk memperoleh kesembuhan mereka, Yesus melakukan/mengijinkan mereka masing-masing melakukan/mengalami seperti yang mereka imani: Perempuan yang sakit pendarahan itu ( ayat 33b ) dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Ia mengakui dengan jujur bahwa telah menyentuh jubah Yesus. Demikian juga dengan anak Yairus yang sakit disembuhkan oleh Yesus dengan jalan ( ayat 41 ) Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya:”Talita kum,” yang berarti “hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah”

Sungguh luar biasa proses kesembuhan yang diterima olEh masing-masing orang. Saya yakin bahwa apa yang hendak dikatakan Yesus kepada kita adalah soal bagaimana seseorang sampai pada sebuah pernyataan iman yang begitu nyata. Bagaimana si perempuan yang sakit begitu yakin bahwa dengan menyentuh jubah-Nya ia akan sembuh, padahal ia belum pernah melakukannya. Darimana timbul keyakinannya yang begitu besar? Bagaimana pula Yairus yang sampai pada sebuah kalimat “letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat…” darimana semuanya itu padahal Yairus belum pernah mengalaminya sebelumya?

Inilah yang menjadi sangat penting kita perhatikan, Yesus tidak mempersoalkan apakah Ia ditemui lebih dahulu atau ditemui kemudian. Penekanannya adalah pada statement iman yang begitu jernih oleh masing-masing orang.

Apakah kita sudah sampai pada ungkapan iman yang jernih dan begitu nyata dalam hidup kita? 

Apakah keimanan kita masih samr-samar dan belum nyata sebagaimana mereka berdua?

Marilah kita semakin dekat dan bertumbuh kearah Kristus agar iman kita semakin nyata didalam-Nya

Dipulihkan dari kebebalan

Mazmur 14


Renungan Mazmur 14

Mazmur ini diawali dengan perkataan atau pendapat orang bebal tentang Allah. Siapa orang bebal itu?  Amsal mengatakan bahwa “Seperti anjing kembali ke muntahannya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya – Amsal 26:11”.  Amsal memberikan gambaran bahwa orang bebal adalah orang yang tidak mendengarkan orang lain, ia berbalik pada sesuatu -pasti yang buruk, digambarkan dengan muntahan- yang seharusnya ia tinggalkan. Bisa perbuatan, sikap, hal-hal yang harus ditinggalkan tetapi justru diulanginya untuk dilakukan kembali.  Lantas bagaimana mungkin seorang bebal punya pendapat tentang Allah yang Maha Agung dan Maha Suci? Sudah barang tentu pendapatnya akan nyinyir. Pemazmur mengatakan bahwa orang bebal perbuatannya busuk dan jijik, tidak ada yang berbuat baik.
Kontras dengan ayat yang pertama dari mazmur ini adalah ayat yang kedua. Seolah Allah ingin membuktikan apa yang dikatakan oleh si bebal dengan kalimat “Tidak ada Allah”.  Allah memandang ke bawah dari surga, dari tempat kudus-Nya ia memandang ke  bawah untuk memastikan benarkah sudah tidak ada lagi yang berbuat baik? Tetapi perkataan “memandang” itu menyatakan bahwa “Allah ada”, tidak seperti si bebal menyatakan di ayat yang 1.
Ayat ke 3 memberi penekanan lebih kepada ayat 1 dan 2, memberi kesimpulan bahwa memang benar semua telah menyeleweng dan bejat, tidak ada yang berbuat baik seorang pun tidak
Allah tetap optimis bahwa ada angkatan yang benar yang akan disertai-Nya, ayat 5b dengan jelas menyatakan “sebab Allah menyertai angkatan yang benar.”
Mazmur ini memberikan penghiburan bagi kita di tengah-tengah dunia yang jahat, penuh dengan orang bebal tetapi sekalipun demikian Allah tetap menyertai orang-orang benar. Ada angkatan yang disertai oleh-Nya ditengah tengah kebebalan yang melanda dunia. Harapan selalu diberitakan kepada mereka yang berharap kepada kasih-Nya. “Apabila TUHAN memulihkan keadaan umat-Nya, maka Yakub akan bersorak-sorak, Israel akan bersukacita” Kata kuncinya adalah pemulihan yang dilakukan Allah terhadap umatnya.
Apakah kita juga menghendaki pemulihan oleh Allah, jauh dari kebebalan, jauh dari kejahatan. Kiranya ini mengingatkan semua akan Kasih Tuhan Yesus Kristus yang datang untuk keselamatan seluruh dunia.

Selamat merenung

Refleksi badai Jebi untuk kita


Pagi tadi saya bangun jam 05.00, itupun saya sudah menganggapnya kesiangan dan sedikti membuat saya terkejut. Namun yang lebih membuat saya termangu adalah ketika melihat berita dari twitter bahwa Jepang baru saja diguncang Gempa, tepatnya di Sapporo.  Betapa badai Jebi yang merusak masih sedemikian terasa dampaknya di Jepang. Bada Jebi yang berkekuatan ratusan km per jam menghantam laut sehingga menimbulkan banjir dan korban jiwa serta materi.
                Membayangkan yang terjadi disana, pikiran saya tak bisa tenang seharian.  Betapa dahsyatnya amukan alam atas Jepang. Dikatakan dalam berita bahwa sebagian Jepang lumpuh.  Negara yang begitu maju namun kerapkali dihantam bencana, gempa bumi seperti menjadi langganan. Juga tidak ketinggalan badai.  Mereka sepertinya sudah menganggap hal yang “biasa”. Dan akan segera bangkit kembali untuk melanjutkan hidup mereka. 
                Saya tidak pernah minta ini terjadi di Indonesia, amit amit.  Semoga mereka diberikan kekuatan.  Saya menilai bahwa bangsa yang sering dihantam bencana tentu mempunyai kesiapan terhadap terjadinya bencana, rasa penyerahan yang tinggi, bersahabat dengan alam, toleransi dengan sesama rakyat tentu akan lebih baik karena merasakan penderitaan yang sama.
                Mereka tidak saling mempersalahkan, apalagi mengklaim itu sebagai azab Tuhan. Mungkin itulah yang harus kita simak baik baik. jangan sedikit-sedikit menganggap bahwa Tuhan menghukum karena ini dan itu. Kita tidak pernah tahu logika Kemaha Kuasaan Tuhan pemilik semesta. Jangan terlalu mudah "menghakimi" Tuhan, pastilah dia menghukum dan sebagainya. 
               Tidak layak saya membandingkan rakyat negeri ini dengan Jepang. Kultur dan budayanya tidak sama, kita sama sama manusia namun berbeda dalam cara hidup dan kebiasaan hidup.
Melihat hal itu betapa kita bersyukur dikaruniai alam yang indah dan kaya, namun hanya karena kepentingan segelintir orang maka bangsa ini hendak dicabik cabik persatuannya. Sebaiknya kita ber refleksi dari kejadian bencana di Jepang